Pandemi Covid-19 dan Peredaran Produk Kesehatan Palsu

 In Artikel

Pandemi Covid-19 telah membuka peluang yang lebih besar bagi para pemalsu untuk menghasilkan uang tunai dengan cepat. INTERPOL melaporkan bahwa melalui Operasi Pangea XIII mereka telah menyita lebih dari 34.000 masker palsu dan masker berkualitas di bawah standar, serta produk-produk palsu  “corona sprays”, “paket coronavirus” atau “obat-obatan coronavirus”. Polisi, otoritas bea cukai dan kesehatan dari 90 negara mengambil bagian dalam aksi kolektif ini melawan penjualan online obat-obatan dan produk medis ilegal. Namun, penyitaan tersebut merupakan puncak gunung es.

 

Produk kesehatan palsu di Indonesia

Di Indonesia, wabah telah memicu panic buying dan penimbunan produk-produk kesehatan – seperti masker bedah dan pembersih tangan. Kelangkaan dan meroketnya harga tak terhindarkan di tengah meningkatnya permintaan.

Situasi ini telah menguntungkan pemalsu untuk menjual produk ilegal mereka. Pada akhir Februari 2020, polisi menggerebek pabrik dan gudang ilegal di Cakung, Jakarta Utara. Pabrik bisa mendapat untung hingga 250 juta Rupiah dari penjualan produk ilegal mereka (MetroTVNews 2/3/20). Penggerebekan lainnya dilakukan di sebuah gudang di Tangerang dan mengakibatkan penyitaan 600.000 masker muka ilegal (Asiatimes, 4/3/20). Pemalsu ini mendistribusikan dan menjual masker palsu yang tidak memenuhi standar kesehatan melalui pasar online dan offline.

Peredaran produk kesehatan palsu telah menyebabkan masalah kesehatan yang lebih besar kepada konsumen di tengah wabah Covid-19 ketika kesehatan masyarakat membutuhkan perhatian utama. Pemalsuan tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan konsumen, tetapi juga berdampak buruk bagi merek.

 

Perlindungan merek

Penyitaan demi penyitaan yang dilakukan oleh pihak berwenang tampaknya tidak dapat menghentikan distribusi produk kesehatan palsu. Mengutip dari mClinica, kurangnya pemantauan rantai pasokan adalah faktor penyebab mengapa masalah palsu tidak pernah diselesaikan. Memantau rantai pasokan perusahaan adalah hal yang rumit pada awalnya dan semakin sulit karena keterlibatan e-commerce. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemilik merek, produsen, pemerintah, penegak hukum, e-commerce, dan organisasi terkait untuk memantau rantai pasokan.

Integrity Indonesia telah dipercaya oleh klien dalam menyediakan layanan perlindungan merek profesional yang terdiri dari penggunaan merek dagang, non-use investigations, anti-pemalsuan dan investigasi parallel trading, serta pelatihan dengan lembaga penegak hukum. Untuk informasi lebih lanjut tentang program perlindungan merek dan layanan mitigasi risiko lainnya, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

Baca Juga:

Kerugian Karena Obat Palsu Capai 46 Milyar Rupiah

Rencana Pemerintah AS Perangi Lalu Lintas Barang Palsu dan Bajakan di E-commerce

Jika Temukan Produk Palsu Online, Ini yang Dapat Dilakukan Pemilik Merek

 

 

 

Photo by kian zhang on Unsplash
Recommended Posts

Start typing and press Enter to search