Kerugian Karena Obat Palsu Capai 46 Milyar Rupiah

 In Artikel

Asia masih menjadi daya tarik bagi produsen dan distributor obat palsu. Pharmaceutical Security Institute (PSI) melaporkan ada 1.100 insiden terkait obat-obatan palsu dan ilegal di Asia. Laporan terbaru menyebutkan khusus wilayah ASEAN ditemukan 673 insiden temuan obat palsu dan pengalihan ilegal (illegal diversion) di ASEAN dari 2013 hingga 2017. Dari total insiden tersebut, 193 insiden terjadi di Filipina, 110 di Thailand, 93 di Indonesia dan 49 di Vietnam.

Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa obat yang dipalsukan berbagai macam jenisnya, mulai dari obat generik, paten, bermerek, termasuk vitamin dan suplemen. Menurut Pfizer Global Security, sebanyak 29 produk medis mereka dipalsukan di 75 negara pada 2008. Angka tersebut melonjak menjadi 95 produk di 113 negara.

Menurut WHO ada lima kategori yang termasuk dalam obat palsu dan di bawah standar yaitu produk tanpa zat aktif, produk dengan zat aktif yang kurang memenuhi standar, produk dengan zat aktif yang berbeda dari label, produk dengan kemasan menjiplak milik pihak lain, dan produk yang diproduksi dengan menjiplak produk pihak lain.

Di Indonesia, kasus penemuan obat-obatan palsu bukan hal yang baru. Setidaknya, BPOM telah menutup 370 situs online penjual obat-obatan palsu di sepanjang 2017. Beberapa bulan lalu BPOM menemukan peredaran obat palsu sudah mencapai apotek di wilayah Jabodetabek. Obat palsu tersebut merupakan produk kemas ulang obat-obat generik dan kadaluwarsa oleh produsen obat PT JKI. Dari perbuatan kriminal tersebut PT JKI mendulang keuntungan hingga 400 juta rupiah.

 

Baca Juga: Waspada! Obat Palsu Beredar di Sejumlah Apotek di Jabodetabek

 

Peredaran obat-obatan palsu jelas merugikan konsumen, negara, dan produsen obat. Produk medis yang sudah melewati masa kedaluwarsa rentan dipalsukan dan berisiko untuk dikonsumsi. Kasus terbaru seorang ibu hamil mengalami nyeri pada kandungannya setelah mengonsumsi vitamin kedaluwarsa.

Meskipun sudah banyak insiden peredaran obat palsu ditemukan dan para pelakunya dihukum, namun obat palsu masih ditemukan di pasaran. Mengutip dari mClinica, lemahnya monitoring terhadap rantai pasok menjadi salah satu faktor penyumbang sulitnya obat palsu diberantas dari peredaran. Belajar dari kasus penemuan obat palsu di apotek Jabodetabek, diperlukan kerjasama para stakeholder di industri farmasi.

Dari sisi produsen farmasi, selain menerapkan teknologi terbaru dan memberikan edukasi terhadap Apotek dan konsumen langsung untuk mempersempit ruang gerak peredaran obat palsu, produsen juga perlu melakukan inspeksi pasar secara berkala.

Integrity memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam memberikan layanan survei pasar dan inspeksi. Layanan tersebut mencakup survei pasar, pengambilan sampel produk dan inspeksi pasar terkait pelanggaran hak kekayaan intelektual. Untuk informasi lebih lanjut mengenai survei pasar dan inspeksi jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search