Waspada! Obat Palsu Beredar Di Sejumlah Apotek Di Jabodetabek

 In Artikel

Peredaran obat palsu kini sudah merambah hingga apotek di daerah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Temuan BPOM adanya obat palsu yang beredar tersebut merupakan produk kemas ulang.

“Sumber obat yang akan dikemas ulang tersebut didapatkan oleh pelaku dengan membeli obat generik dan mengumpulkan obat kedaluwarsa dari apotek-apotek di Jakarta dan Semarang,” tulis BPOM dalam pernyataan resmi melalui siaran persnya, dikutip pada Senin (29/7).

Baca Juga: Indonesia Melawan Obat Palsu

Berdasarkan investigasi Badan POM bersama Bareskrim POLRI ditemukan bahwa fakta bahwa obat yang dikemas ulang tersebut didistribusikan melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT. Jaya karunia Investindo (JKI) ke apotek-apotek di wilayah Jabodetabek. PT.JKI pada tahun 2018 pernah mendapatkan sanki penghentian kegiatan lantaran menyalurkan obat palsu.

Temuan obat palsu yang beredar di sejumlah apotek di wilayah Jabodetabek tentu amat meresahkan masyarakat. Menyikapi temuan tersebut, Badan POM melakukan pemeriksaan terhadap terhadap apotek-apotek terkait, mengamankan obat-obat tersebut, melakukan intensifikasi pengawasan untuk mendeteksi peredaran obat palsu dari PBF JKI, dan membekukan izin operasional PBF PT. JKI dan merekomendasikan pencabutan izinnya kepada Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Berantas Obat Palsu, Raksasa Software Kembangkan Blockchain

Berdasarkan data International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), keuntungan dari penjualan obat palsu di masyarakat dapat mencapai lebih hingga 10% dari total pasar obat. Di Indonesia sendiri bisnis obat palsu mencapai 3,8% berdasarkan data yang diterbitkan oleh Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) pada tahun 2016. Obat palsu di Indonesia mencakup 25% dari bisnis obat Indonesia yang nilainya mencapai 2 milyar dolar Amerika.

Menghentikan produksi dan penjualan obat palsu menjadi tantangan tersendiri bagi pihak hukum di Indonesia lantaran masih ada keterbatasan regulasi. Dikutip dari Detik (25/7) BPOM berencana untuk menerapkan QR code pada obat agar pengawasan menjadi lebih baik. Badan POM juga mengajak masyarakat berkolaborasi dalam memberantas peredaran obat palsu yaitu dengan memastikan kemasan dalam kondisi baik, membaca label, mencermati izin edar produk, memastikan masa kadaluwarsanya, dan melapor kepada Badan POM apabila mencurigai adanya obat palsu yang beredar.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search