Mengapa Whistleblowers Adalah Aset

 In Artikel

Cambridge Analytica, gerakan MeToo, Theranos, The Trump Whistleblower dan kisah-kisah whistleblowing lainnya telah menjadi kunci untuk mendorong perubahan budaya. Bagi organisasi, terutama perusahaan, sistem whistleblowing makin diterima sebagai alat deteksi dini pelanggaran.

Namun, bagi pelapor atau whistleblowers, sistem pelaporan atau sistem whistleblowing tidak selalu cukup kuat untuk melindungi mereka dari tindakan balas dendam. Sebagai bentuk aksi dukungan di #FraudWeek ini, kami ingin berbagi wawasan dengan Anda tentang pentingnya budaya whistleblowing untuk meningkatkan efektifitas sistem internal whistleblowing .

Sebuah penelitian berjudul Evidence on Use and Efficacy of Internal Whistleblowing Systems menemukan bahwa whistleblower memainkan peran penting dalam membersihkan dan membentuk budaya keuangan dan korporat. Melalui laporan itu, Kyle Welch dari George Washington University dan Stephen Stubben dari University of Utah menulis analisis terperinci berdasarkan catatan selama sepuluh tahun dari NAVEX Global – perusahaan yang memantau pelaporan whistleblowing dan insiden pelanggaran untuk 8.500 perusahaan.

 

Baca Juga:

Whistleblowing: Pentingnya Keamanan dan Anonimitas Pelapor

Whistleblowing: Sedikit Aduan Bukan Berarti Aman

Peluit Whistleblowers Memaksa Presiden AS Menuju Ambang Pemakzulan

 

Korporasi yang tidak memiliki budaya whistleblowing sering mengabaikan, salah menangani laporan, atau bahkan membahayakan keselamatan pelapor. Ini adalah beberapa faktor yang membuat calon pelapor enggan melaporkan kekhawatiran mereka terkait pelanggaran yang diduga telah terjadi.

Oleh karena itu, membangun budaya whistleblowing sama pentingnya dengan memiliki sistem whistleblowing. Budaya Whistleblowing mencakup budaya transparan yang mendorong pelaporan. Dalam budaya transparan, ketika pelanggaran terungkap, pemimpin akan berbagi informasi tentang bagaimana korporasi menangani masalah tersebut dan mengapa kontrol harus ditingkatkan untuk mencegah terjadinya pelanggaran yang sama di masa depan. Dengan melakukan itu, pelapor akan merasa bahwa korporasi mendengarkan dan menanggapi kekhawatiran mereka dengan sungguh-sungguh.

Selain transparansi, perusahaan juga harus memastikan bahwa sistem whistleblowing melindungi kerahasiaan pelapor. Hal ini menumbuhkan kepercayaan sehingga pelapor merasa cukup aman dari segala bentuk pembalasan untuk melaporkan kekhawatirannya.

Studi ini menemukan bahwa semakin banyak laporan internal yang diterima oleh perusahaan, semakin akurat perusahaan memeriksanya dan semakin sedikit tuntutan hukum korporasi di masa depan. Ini juga berarti bahwa memperlakukan pelapor sebagai aset, dengan memiliki sistem pelapor yang kuat, akan membantu perusahaan mengurangi peluang kerugian finansial dan reputasi.

 

 

 

Sport photo created by freepik – www.freepik.com

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search