Peluit Whistleblowers Memaksa Presiden AS Menuju Ambang Pemakzulan

 In Artikel

Beberapa pekan terakhir ini Presiden Amerika Serikat Donal Trump diisukan diambang pemakzulan setelah percakapannya dengan presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy diungkap ke publik bulan lalu. Whistleblowers dari komunitas intelijen mengungkapkan keluhan terhadap percakapan antara keduanya.

Dalam percakapan tersebut Trump mengancam Zelenskiy akan membekukan bantuan senilai 400 juta dolar AS apabila ia tak berkoordinasi dengan Jaksa Agung AS untuk menyelidiki mantan wapres Joe Biden yang akan menjadi kompetitor Trump di pilpres 2020. Dikutip dari Republika (10/21) Berdasarkan kesimpulan catatan percakapan tersebut penyelidikan terhadap perusahaan energi tempat putra Biden yakni Hunter Biden bekerja akan dibuka kembali.

Laporan dari seorang whistleblower tersebut kemudian disampaikan di sidang panel intelijen House diwakili oleh direktur intelijen nasional Joseph Macguire. Trump dianggap menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan politik pribadinya dan diancam dengan pemakzulan.

 

Baca Juga:

Whistleblowing: Pentingnya Kemanan dan Anonimitas Pelapor

Whistleblowing Hotline: Proteksi atau Sekadar Ornamen?

 

Setelah percakapan tersebut diungkap ke publik, muncul whistleblower kedua yang semakin memperkuat dugaan pelanggaran. Trump terus mendesark komunitas untuk mengumumkan identitas whistleblowers tersebut sambil menuduh mereka sebagai pelaku pelanggaran privasi. Dengan isu sebesar ini tentu tidak mudah bagi seseorang untuk memutuskan menjadi seorang whistleblower mengingat risiko ancamannya yang cukup besar. Namun, jika saja mereka tak memutuskan menjadi whistleblower, maka kemungkinan besar skandal percakapan tersebut tidak akan terungkap. Pihak komunitas intelijen bersikukuh untuk melindungi identitas whistleblowers.

Peran penting whistleblower dalam pelaporan pelanggaran tak hanya dibutuhkan di sektor pemerintahan, tetapi juga swasta. Dalam sejarah sudah banyak ‘raksasa’ bisnis yang akhirnya tumbang karena pelanggaran yang diungkap oleh para whistleblower, beberapa di antaranya yaitu skandal Enron, Uber, dan Theranos. Laporan ACFE tahun 2018 menyebutkan bahwa 40% dari kasus pelanggaran yang terdeteksi adalah karena adanya laporan. Namun, tak sedikit pula whistleblowers yang mendapatkan ancaman atau pembalasan.

Oleh karena itu penting, bagi organisasi, dalam hal ini korporasi memiliki sistem whistleblowing. Ibarat asuransi jiwa bagi individual, sistem ini melindungi aset-aset berharga perusahaan. Sistem ini memungkinkan seseorang untuk membuat laporan pelanggaran secara anonim. Dengan opsi anonim, whistleblower menjadi lebih merasa aman untuk membuat laporan. Semakin dini pelanggaran terdeteksi, semakin mereduksi risiko kerugian.

Canary Whistleblowing System merupakan layanan sistem whistleblowing kami yang terdiri dari kombinasi berbagai kanal pelaporan yang terpusat di aplikasi website kami. Selain memberikan jaminan anonimitas pelapor, Canary WBS juga menjamin keamanan komunikasi antara klien dan whistleblower karena server kami menggunakan sertifikat SSL sebagai protokol kriptografi. Untuk informasi lebih lanjut tentang Canary jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search