Kecurangan Laporan Keuangan: Strategi Deteksi yang Efektif

Putri Pertiwi
January 21, 2025
4 menit membaca
financial statement

Tekanan untuk mencapai target bisnis di bawah krisis global dapat mendorong karyawan untuk melakukan kecurangan laporan keuangan. Misalnya, seorang karyawan tingkat eksekutif dapat memalsukan laporan keuangan untuk menyembunyikan keadaan keuangan perusahaan yang buruk karena target bisnis yang tidak tercapai.

Apa Itu Kecurangan Laporan Keuangan?

Kecurangan laporan keuangan adalah tindakan yang disengaja oleh individu atau kelompok dalam suatu organisasi untuk menyajikan informasi keuangan yang tidak akurat atau menyesatkan. Adapun, menurut ACFE kecurangan laporan keuangan adalah sebuah skema dimana seorang karyawan dengan sengaja menyebabkan salah saji atau penghilangan informasi material dalam laporan keuangan, misalnya mengecilkan biaya atau menaikkan aset yang dilaporkan.

Contoh Kecurangan Laporan Keuangan

Kasus Garuda Indonesia

Pada 2019 lalu, perusahaan penerbangan Garuda Indonesia terbukti melakukan manipulasi laporan keuangan. Dilansir dari sebuah media nasional, dalam laporan keuangan tersebut, Garuda Indonesia Group membukukan laba bersih sebesar USD 809,85 ribu atau setara Rp11,33 miliar. Angka ini melonjak tajam dibanding 2017 yang menderita rugi USD 216,5 juta. Namun, laporan keuangan tersebut menimbulkan polemik hingga dinyatakan terbukti tidak sesuai dengan standar akuntansi setelah dilakukan audit.

Kasus PT Hanson Internasional

Pada tahun 2016, PT Hanson Internasional Tbk. terlibat dalam skandal manipulasi laporan keuangan yang terungkap setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan penyelidikan. Dalam laporan keuangan tahunan, ditemukan bahwa perusahaan ini mencatat pendapatan fiktif sebesar Rp 613 miliar. Kasus ini juga menyoroti pelanggaran kode etik oleh auditor eksternal, yang gagal mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan.

Kasus PT Waskita Karya

PT Waskita Karya juga menghadapi tuduhan manipulasi laporan keuangan, terutama terkait dengan proyek subkontraktor fiktif. Investigasi menunjukkan bahwa antara tahun 2009 hingga 2015, perusahaan ini dilaporkan memanipulasi data keuangan untuk meningkatkan anggaran perusahaan dengan menggunakan kontrak fiktif. Kasus ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 186 miliar akibat praktik manipulasi tersebut.

Kerugian Fraud Laporan Keuangan

Kecenderungan perusahaan melakukan fraud laporan keuangan biasanya didasari oleh tuntutan untuk senantiasa melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja guna meningkatkan nilai perusahaan yang nantinya akan disajikan di laporan keuangan. Atas dasar hal tersebut, perusahaan seringkali melakukan manajemen laba dengan berbagai cara untuk ‘mempercantik’ laporan keuangan guna merebut hati para investor.

Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, Report to The Nation 2020) frekuensi tindakan fraud yang terjadi dalam penyalahgunaan aset (asset misappropriation) merupakan tindakan fraud yang memiliki frekuensi tertinggi sebesar 86%, disusul oleh korupsi sebesar 43%, dan yang terakhir adalah fraud laporan keuangan sebesar 10%.

Meskipun kasus kecurangan laporan keuangan memiliki frekuensi paling rendah, tingkat kerugian yang ditimbulkan dari kasus tersebut paling merugikan dibandingkan kasus kecurangan lain dengan kerugian rata-rata sebesar $ 954.000

Cara  Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan

Untuk mengatasi kecurangan laporan keuangan, biasanya perusahaan melakukan pemisahan tugas akuntansi dan secara teratur mengundang auditor independen sebagai bentuk kendali internal perusahaan. 

Namun, upaya tersebut tidak cukup lantaran kecurangan laporan keuangan sering berkaitan dengan kolusi. Manajemen dapat berkolusi dengan auditor untuk mengeluarkan laporan audit yang menguntungkan. Kemungkinan lainnya, orang yang bertanggung jawab dalam akuisisi dapat berkolusi dengan seorang individu yang bertanggung jawab untuk mencatat transaksi. Maka dari itu, perusahaan juga perlu menerapkan sistem whistleblowing dan mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada semua pemangku kepentingan—manajemen dan staf.

Sistem whistleblowing mendorong perusahaan untuk meningkatkan kesadaran di antara para pemangku kepentingan, termasuk manajemen dan karyawan, dalam mengenali karakteristik dan tanda-tanda kecurangan. Lebih penting lagi, para pemangku kepentingan memiliki peran untuk mengambil bagian untuk mengurangi risiko dengan melaporkan temuan mereka melalui saluran whistleblowing yang aman.

Whistleblowing Service

Integrity Indonesia sebagai perusahaan terpercaya di bidang kepatuhan memiliki pengalaman luas dalam menyediakan layanan whistleblowing untuk klien dari berbagai latar belakang bisnis. Melalui Canary Whistleblowing System, Integrity Indonesia menghadirkan kombinasi beberapa saluran pelaporan yang terpusat pada aplikasi situs web sehingga meningkatkan aksesibilitas klien kami ke laporan, sambil tetap memastikan anonimitas pelapor. Untuk informasi lebih lanjut tentang Canary Whistleblowing System jangan ragu untuk menghubungi kami.

Also Read:

Wujudkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik dengan Whistleblowing

Salah Satu Sebab Perusahaan Anda Rugi Besar

Whistleblowing: Sedikit Aduan Bukan Berarti Aman

 

Photo by Helloquence on Unsplash

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.