Apakah Fraud Adalah Masalah Budaya?

 In Artikel

Akhir-akhir ini media sosial dan kanal-kanal berita ramai membahas tentang asuransi plat merah Jiwasraya yang mengalami gagal bayar kepada para nasabahnya. Kabar terakhir menyebutkan diduga ada fraud dalam Jiwasraya.

Dikutip dari Kompas.com (15/11) Asuransi BUMN ini diduga memberikan laporan keuangan yang tidak transparan dan adanya dugaan penggelapan dana investasi. Pihak yang paling dirugikan dari kasus ini tentu ratusan nasabah yang sudah memercayakan uang mereka. Hingga kini total uang klaim nasabah Jiwasraya mencapai 16.1 triliun rupiah. Reputasi bank-bank sebagai penyalur produk Jiwasraya juga turut dipertaruhkan.

Kasus ini telah menyebabkan ratusan pelanggan yang telah mempercayakan uang mereka untuk menjadi korban. Hingga saat ini, total klaim pelanggan Jiwasraya telah mencapai 16,1 triliun rupiah. Reputasi beberapa bank yang menjual produk Jiwasraya juga dipertaruhkan. Berita ini menunjukkan bahwa dugaan fraud yang terjadi dalam perusahaan asuransi jiwa tertua di Indonesia dapat terjadi di perusahaan lain, terlepas dari jenis industri dan ukurannya. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah melaporkan dugaan adanya fraud ini ke Kejaksaan Agung.

Kabar baiknya, risiko-risiko fraud semacam ini sangat mungkin diantisipasi oleh perusahaan apabila perusahaan benar-benar menerapkan kode etik. Pada prinsipnya kode etik mendorong budaya pencegahan tindakan pelanggaran di dalam perusahaan.

 

Baca Juga:

5 Teori Ini Jelaskan Mengapa Fraud Terjadi Berulangkali

Mengapa Whistleblowers Adalah Aset

Setidaknya 58% Kasus Occupational Fraud Tak Dilaporkan Ke Penegak Hukum

 

Umumnya kasus fraud seringkali merupakan masalah budaya. Dalam kasus Jiwasraya masalah budaya ini setidaknya dapat dinilai dari laporan keuangan yang diduga tidak transparan. Meskipun perusahaan memiliki instrumen untuk mendeteksi fraud – sistem whistleblowing, tanpa didukung budaya whistleblowing, fungsi instrumen tersebut hanyalah sebuah ornamen. Dan transparansi adalah salah satu bentuk budaya whistleblowing. Komunikasi yang jujur dan terbuka terletak dalam budaya transparansi.

Mengutip dari artikel berjudul Business Fraud: Culture is the Culprit dalam Jurnal FTI, fraud seperti halnya jenis tanaman yang menyukai lingkungan yang ternaungi. Transparansi menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi para pelaku fraud karena merasa diawasi oleh lingkungan sehingga mempersempit ruang gerak mereka untuk melakukan kebohongan dan pelanggaran.

Kaptein dalam bukunya Ethics Management, menjelaskan bahwa di dalam organisasi dengan tingkat tranparansi yang tinggi, individu-individunya cenderung akan berupaya untuk memodifikasi dan mengoreksi perilaku masing-masing dan perilaku orang lain. Dengan kata lain, budaya tranparansi mendorong penguatan kontrol internal. Kontrol internal yang kuat bisa ditunjukkan dari rasa tanggung jawab seorang karyawan untuk melapor apabila ia menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan lain.

Semakin dini laporan diterima, semakin besar peluang perusahaan untuk meminimalkan risiko kerugian. Dan dalam budaya transparansi, pemimpin akan secara terbuka mengatasi pelanggaran yang dilaporkan dan berbagi informasi dalam rangka memperkuat komitmen perusahaan dalam melakukan praktik bisnis yang sehat.

 

 

Image by rawpixel from Pixabay

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search