5 Teori Ini Jelaskan Mengapa Fraud Terjadi Berulangkali

 In Artikel

Berdasarkan Report to The Nation 2018 Global Study On Occupational Fraud and Abuse, median durasi terjadinya fraud adalah 16 bulan. Artinya, dalam kurun waktu rata-rata 16 bulan para pelaku fraud terus mengulangi aksi kejahatannya sebelum akhirnya terbongkar.

Pengetahuan tentang gejala dan penyebab fraud terjadi berulang kali penting untuk kita ketahui supaya kita dapat melakukan pencegahan. Semakin dini fraud bisa dicegah, semakin minim kerugian yang ditimbulkan. Dalam bukunya yang berjudul ‘The Faces of Fraud’, Martin T Biegelmen mengungkapkan beberapa teori, lima di antaranya yaitu:

1. Potato chip

Salah satu mengapa pelaku fraud berulang kali adalah karena ketagihan. Inilah karakter yang diangkat melalui teori potato chip (keripik kentang). Seperti halnya kita ketika memakan keripik kentang tak cukup hanya satu, sekali pelaku berhasil melakukan kecurangan, ia akan sulit berhenti karena merasa tidak akan tertangkap. Pelaku menjadi ketagihan mengulangi perbuatannya, bahkan melakukan kecurangan lainnya hingga mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

2. Tip of iceberg

Kerap kali sebuah kasus fraud hanyalah sebagian kecil dari besar kasus yang sesungguhnya, seperti halnya gunung es yang hanya terlihat ujungnya sedangkan bongkahan es besar ada di bawah permukaan.

Contohnya, kasus pencucian uang sebesar 8 milyar euro di Danske Bank yang menyedot perhatian dunia pada tahun lalu. Setelah dilakukan penyelidikan, kasus serupa kemungkinan bisa terjadi pada bank-bank kecil lainnya di Eropa.

Baca Juga: 3 Pelajaran Dari Skandal Pencucian Uang Terbesar di Eropa

 

3. Rotten apple

Ada pepatah mengatakan satu buah apel busuk di dalam keranjang bisa membuat busuk apel lainnya. Pepatah ini berlaku pula dalam kasus fraud di perusahaan. Seorang pemimpin dalam tim sudah seharusnya menjadi panutan dan inspirasi bagi para stafnya dan bertugas mencetak pemimpin-pemimpin di masa mendatang demi perputaran roda perusahaan.

Namun, sayangnya hal sebaliknya bisa terjadi. Seorang pemimpin yang melakukan fraud bisa menjadi contoh buruk bagi para stafnya. Mereka akan meniru perbuatan pemimpin mereka dan membuat karir mereka berisiko.

4. Low-hanging fruit

Istilah low-hanging fruit mewakili celah fraud yang kerap tak mendapat perhatian sehingga menjadi peluang besar bagi para pelaku untuk melakukan fraud dengan mudah. Fraud berisiko tinggi, contohnya, pemalsuan laporan keuangan dan masalah akunting, memang perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan. Tapi, jangan abaikan pula celah-celah kecil lainnya, contohnya procurement fraud yang melibatkan pemalsuan invoice dengan pihak ketiga.

Apabila celah-celah kecil tersebut tak mendapat perhatian selayaknya, kecurangan tak akan diketahui dan pelaku akan terus melancarkan aksinya hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

5. Short memory syndrom

Coba kita tengok kembali ke 100 tahun yang lalu yaitu saat Charles Ponzi menciptakan skema Ponzi. Charles sudah tinggal nama, tapi skema Ponzi nyatanya masih terus hidup dengan berbagai nama dan modus hingga memakan jutaan korban dan kerugian yang luar biasa besar.

Menurut Biegelmen sebabnya karena masyarakat kita cenderung cepat lupa dengan pengalaman buruk di masa lalu atau istilah yang ia sebut sebagai short memory syndrom.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search