Waspada! 57% penipuan kerja dilakukan oleh karyawan perusahaan

Dengan total kerugian mencapai lebih USD 3,6 milyar hanya dalam periode tahun 2022, tindakan penipuan yang berhubungan dengan pekerjaan (occupational fraud) dikategorikan sebagai bentuk kejahatan yang paling mahal. Terlebih lagi, dengan jumlah kasus 2.110, jenis penipuan ini merupakan salah satu yang paling umum di dunia.
Istilah “occupational fraud” merujuk pada penipuan yang dilakukan oleh individu terhadap suatu perusahaan atau organisasi yang mempekerjakan mereka. Bentuk kecurangan ini meliputi korupsi, penggelapan, penyalahgunaan aset, pencurian data perusahaan, manipulasi data laporan, dan modus lain yang merugikan perusahaan.
Menariknya, menurut studi, sebanyak 57% kasus occupational fraud dilakukan oleh karyawan internal perusahaan atau kombinasi dari karyawan dan pihak eksternal. Pihak eksternal yang dimaksud adalah pihak di luar perusahaan yang mempunyai kaitan dengan perusahaan tersebut, seperti vendor, kontraktor, maupun perusahaan rantai pasok.
Dampak occupational fraud bagi perusahaan
Occupational fraud dapat menimbulkan beberapa kerugian bagi perusahaan. Pertama, kerugian materiel. Di Amerika Serikat, pencurian yang dilakukan oleh karyawan yang melibatkan uang tunai, aset, data sensitif, bahkan waktu merupakan masalah yang bernilai miliaran dolar.
Berdasarkan penelitian Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), perusahaan mengalami kerugian rata-rata $1,7 juta per kasus penipuan karyawan.
Kedua, hal ini juga dapat berimbas pada nama baik perusahaan. Perusahaan yang diberitakan menjadi korban penipuan oleh karyawan sendiri akan turun kredibilitasnya di mata klien, terutama untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang perbankan dan layanan data. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perusahaan cenderung tidak melaporkan kasus kecurangan akibat oknum internal ke pihak berwenang.
Ketiga, fraud yang dilakukan oleh karyawan dapat mengundang efek negatif terhadap lingkungan kerja di perusahaan. Efek negatif tersebut berpengaruh pada kinerja karyawan dan berpotensi mengundang pelaku kejahatan lain untuk melakukan modus operandi yang sama.
Deteksi occupational fraud
Dengan mempertimbangkan besarnya dampak occupational fraud terhadap perusahaan, diperlukan upaya dari para pemangku kepentingan untuk mencegah occupational fraud sejak dini.
Mendeteksi fraud sedini mungkin merupakan hal penting karena semakin cepat fraud terdeteksi, semakin kecil kerugian yang diderita oleh perusahaan.
Alat deteksi dini yang paling efektif untuk mencegah kejahatan dalam perusahaan adalah sistem whistleblowing. Hasil studi ACFE menunjukkan bahwa organisasi yang tidak menerapkan sistem whistleblowing mengalami kerugian dua kali lebih besar.
Dengan sistem whistleblowing, karyawan dapat melapor tanda-tanda fraud atau pelanggaran lain yang mereka temui di perusahaan. Memiliki sistem whistleblowing juga berarti bahwa suatu organisasi berpegang pada prinsip transparansi.
Integrity Asia, perusahaan dengan pengalaman selama dua dekade di bidang kepatuhan, siap memberikan layanan sistem whistleblowing untuk klien dari berbagai latar belakang bisnis. Melalui Canary Whistleblowing System, kami menyediakan kombinasi beberapa saluran pelaporan yang terpusat pada aplikasi situs web. Dengan begitu, kami dapat meningkatkan aksesibilitas klien kami terhadap laporan sambil tetap memastikan kerahasiaan dan anonimitas pelapor.
Hubungi kami untuk informasi lebih detail tentang Canary Whistleblowing System dan layanan kepatuhan lainnya.
Destin
Photo by Israel Andrade on Unsplash



