Pelajaran kepatuhan dari kasus ACT

Putri Pertiwi
December 27, 2022
3 menit membaca
Featured image for: Pelajaran kepatuhan dari kasus ACT

Banyak studi menunjukkan kurangnya pengendalian internal menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko terjadinya fraud di perusahaan. Salah satu pengendali internal yang paling umum diterapkan adalah audit terhadap laporan keuangan. Namun, apakah audit saja cukup untuk mendeteksi fraud dan meminimalkan risiko kerugian?

Publik Indonesia digemparkan dengan berita penyelewengan dana donasi oleh sebuah perusahaan penyalur donasi terbesar di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Dugaan penyalahgunaan tersebar kepada publik setelah sebuah media massa merilis hasil investigasi mereka terhadap ACT. Hasil investigasi tersebut kemudian didalami oleh pihak-pihak yang berwenang, yang kemudian menemukan adanya penyelewengan dana masyarakat oleh beberapa petinggi perusahaan.

Anehnya, perusahaan ini mengklaim bahwa laporan keuangannya berturut-turut mulai 2005 hingga 2020 memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Pemotongan dana yang melanggar regulasi

Media mengungkapkan bahwa total donasi yang dikumpulkan oleh ACT dalam kurun 2005 sampai 2020 mencapai 2 triliun rupiah. Dari donasi yang terkumpul tersebut, ACT memotong hingga sekitar 450 miliar dengan dalih untuk operasional perusahaan. Padahal, pemotongan sekitar 25% tersebut tidak sesuai dengan regulasi pemerintah, yang seharusnya hanya sebesar 10%.

Ditambah lagi, dari dana operasional tersebut, diduga ada yang masuk ke kantong para petinggi dalam bentuk gaji yang fantastis. Selain gaji fantastis, salah seorang petinggi dikabarkan memiliki beberapa unit mobil mewah.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga melaporkan bahwa dari dana yang masuk ke perusahaan, ada yang digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian vila, aset, dan lainnya yang tidak diperuntukkan demi kepentingan sosial.

Berdasarkan studi, gaya hidup berlebihan merupakan red flag paling umum yang ditunjukkan oleh pelaku fraud.

Audit (bukan) tanpa cela

Munculnya fakta kejahatan tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana bisa dugaan fraud tidak terendus oleh auditor, bahkan mendapatkan opini WTP? Di sini, ada beberapa kondisi yang perlu dipahami.

Pertama, dalam audit, tidak semua transaksi diperiksa. Hanya transaksi pada akun-akun yang berisiko tinggi terjadi fraud dan krusial-lah yang diaudit.

Status WTP juga bukan berarti tidak terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Oleh karenanya, digunakan istilah “wajar”, bukan “kebenaran”.

Kedua, pelaku fraud yang duduk di pucuk manajemen memiliki otoritas untuk campur tangan dalam proses pengendalian internal, termasuk audit, sehingga memungkinkan untuk memanipulasi proses dan hasilnya.

Ketiga, tidak menutup kemungkinan terjadi kolusi antara pelaku dan auditor. Hal ini pernah terjadi pada banyak kasus pemalsuan laporan keuangan, seperti kasus Enron.

Alat deteksi fraud

Kasus ACT menjadi pelajaran penting bagi perusahaan di berbagai industri bahwa audit oleh pihak eksternal tidak cukup sebagai upaya mitigasi fraud. Menurut laporan Report to the Nations 2020 hanya 4% kecurangan terdeteksi oleh auditor eksternal. Dengan demikian, diperlukan layer lainnya, yaitu dengan menerapkan sistem whistleblowing dalam perusahaan.

Dari berbagai studi, sistem whistleblowing memiliki reputasi sebagai alat deteksi fraud paling efektif. Secara teori, melalui whistleblowing, setiap individu dalam suatu organisasi dapat melaporkan fraud, atau bahkan hanya kekhawatiran akan red flags yang mereka temukan. Berdasarkan laporan tersebut, perusahaan dapat mengambil tindakan untuk mengurangi risiko akan kerugian yang lebih besar.

Namun, perlu dicatat, whistleblowing bekerja efektif hanya apabila perusahaan menerapkan kebijakan whistleblowing dan secara bersamaan membudayakan sikap untuk berani melapor bagi setiap karyawannya.

Integrity Asia, sebagai perusahaan yang telah lebih dari dua dekade bekerja di bidang kepatuhan memiliki pengalaman luas dalam menyediakan layanan whistleblowing untuk klien dari berbagai latar belakang bisnis.

Melalui Canary Whistleblowing System, Integrity menghadirkan kombinasi beberapa saluran pelaporan yang terpusat pada aplikasi situs web sehingga meningkatkan aksesibilitas klien kami ke laporan, sambil tetap memastikan anonimitas pelapor. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Canary Whistleblowing System, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 


Putri
Shutterstock

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.