Whistleblowing hotline: Proteksi Penting atau Sekadar Ornamen?

 In Artikel

Kontrol internal terkadang tak cukup untuk mendeteksi tindak kecurangan atau fraud. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Price Waterhouse Cooper pada tahun 2007, ditemukan fakta bahwa auditor profesional hanya mampu mendeteksi 19% dari fraud yang terjadi pada perusahaan swasta, sedangkan jumlah fraudyang diekspos whistleblowers mencapai angka 43%. Para eksekutif yang disurvei juga mengatakan bahwa para whistleblowers menyelamatkan miliaran dolar uang shareholder mereka.

Oleh karena itu, sistem whistleblowing atau whistleblowing hotline penting dimiliki oleh perusahaan sebagai sarana untuk memproteksi aset mereka layaknya sebuah asuransi jiwa bagi individu. Tapi, sebenarnya apa itu whistleblowing hotline? Dan seberapa pentingkah sistem ini?

 

Apa itu whistleblowing hotline?

 

Menjadi pelapor atau whistleblower selalu disertai dengan risiko seperti dikucilkan, mendapatkan ancaman, bahkan dipecat dari perusahaan. Risiko inilah yang menjadi dilema bagi para calon whistleblower, membuat mereka menunda melaporkan atau bahkan sepenuhnya membatalkan pelaporan penyimpangan yang mereka temukan.

Sistem whistleblowing atau whistleblowing hotline,seperti Canary Whistleblowing Hotline, adalah kanal di mana whistleblower bisa melaporkan tindakan ilegal atau penyimpangan organisasinya, dalam hal ini perusahaan tempatnya bekerja, dengan identitas pelapor yang bersifat anonim. Sistem ini menerima laporan dan meneruskan laporan tersebut pada pihak berwenang di perusahaan tersebut, tapi tetap menciptakan lingkungan kerja yang kondusif karena identitas sang pelapor dirahasiakan.

 

Kenapa whistleblowing hotline penting untuk perusahaan?

 

Umumnya whistleblower adalah mereka yang loyal, berdedikasi, dan berkomitmen dengan visi dan misi perusahaan tempat mereka bekerja. Motivasi mereka dalam melaporkan tindakan ilegal karena kekesalan dan kepedulian mereka atas nasib perusahaan serta keinginan agar penyimpangan yang terjadi tersebut diperbaiki, bukan semata untuk publikasi mereka sendiri. Terlebih dengan risiko-risiko yang ditanggung seorang whistleblower, tentu publikasi bukan tujuan.

Seperti yang dilakukan oleh Sherron Watkins, whistleblower kasus Enron. Ia tentu tak ingin penyimpangan yang terjadi di Enron terkuak ke publik. Alih-alih melakukan publikasi, ia menulis surat terkait kekhawatirannya pada CEO Kenneth Lay dengan harapan adanya perbaikan sebelum perusahaan tersebut bangkrut. Tetapi, yang terjadi kemudian adalah ia malah dipecat atas tindakannya tersebut. Andai saja Watkins lebih cepat melaporkan dan andai saja Lay melakukan tindak lanjut yang lebih berani, alih-alih laporan tersebut menyebabkan Watkins dipecat, mungkin akhir kisah Enron akan berbeda.

Dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa whistleblower bisa menjadi early warning system adanya fraud dalam sebuah perusahaan. Semakin awal fraud ini terdeteksi, maka semakin kecil kerugian yang ditanggung perusahaan. Oleh sebab itu, whistleblowing hotline sangat penting sebagai kanal atau tempat dimana whistleblower dapat melaporkan pelanggaran yang mereka temukan dengan aman.

 

Bagaimana supaya efektif ?

 

Bagaimanapun, whistleblowing hotline hanya akan menjadi ‘ornamen’ perusahaan tanpa dukungan stakeholder. Sistem ini akan bekerja efektif jika didukung oleh beberapa hal, di antaranya:

  • Budaya perusahaan yang mendorong pegawainya untuk melapor jika menemukan tindakan ilegal.
  • Pelatihan yang efektif untuk pegawai tentang bagaimana whistleblowing hotline bekerja, bagaimana mereka akan dilindungi, dan bagaimana mereka akan diinformasikan mengenai tindak lanjut dari laporan yang mereka buat.
  • Perusahaan harus mengomunikasikan betapa pentingnya melaporkan tindakan ilegal dan meyakinkan para stakeholder bahwa siapapun yang menjadi whistleblower akan dilindungi dan dihormati kerahasiaannya. Perusahaan juga harus meyakinkan bahwa segala tindak kekerasan dan ancaman atas para whistleblower tidak akan ditoleransi.
  • Sanksi dijatuhkan pada stakeholderyang gagal melindungi pegawai yang menjadi whistleblower.
  • Menugaskan orang yang tepat untuk mengelola sistem. Setiap kali ada laporan diterima, harus ada tindak lanjut yang hati-hati dan bijaksana.

 

Sumber:

https://www.whistleblowers.org/storage/documents/pwc_survey.pdf

https://www.inc.com/margaret-heffernan/3-reasons-whistleblowers-are-your-companys-best-friend.html

http://www.goodcorporation.com/goodblog/how-to-make-whistleblowing-work/

 

 

Recent Posts

Start typing and press Enter to search