Brand Jacking: Definisi dan konsekuensi

Putri Pertiwi
August 23, 2023
4 menit membaca
Brand Jacking: Understanding and Addressing its Consequences

Di era digital saat ini, konsep perlindungan merek telah memasuki dimensi baru dengan munculnya brand jacking. Brand jacking atau brand hijacking juga dikenal sebagai impersonasi merek, mengacu pada tindakan jahat yang memanfaatkan merek-merek terkenal untuk tujuan penipuan, yang berpotensi menimbulkan risiko besar bagi pemilik merek.

Dengan kata lain, pihak tak bertanggung jawab memanfaatkan merek terkenal dengan menyalahgunakan identitas, reputasi, atau merek mereka melalui praktik curang, seperti cybersquatting,  impersonasi media sosial, dan iklan palsu. Tujuannya adalah agar konsumen kebingungan, mendapatkan keuntungan secara ilegal, atau terkait dengan praktik kecurangan lainnya. 

Ancaman ini menjadi semakin serius hingga membuat Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) mengusulkan peraturan baru untuk menindak kejadian-kejadian semacam ini. Hal ini mencerminkan peningkatan kesadaran terhadap efek brand jacking terhadap konsumen dan pemilik merek. 

Brand jacking dan efeknya pada merek

Brand jacking merupakan ancaman signifikan bagi bisnis, yang menyebabkan kerusakan reputasi merek dan potensi kerugian finansial. Sebagai contoh kasus, kita akan melihat kasus King Power, salah satu peritel internet terkenal berbasis di Thailand. Berbagai merek fashion terkenal dijual di toko daring ini.

Dalam tangkapan layar di bawah ini, dapat dilihat contoh dari brand jacking melalui iklan dan nama domain yang menyesatkan. Akun peniru ini dapat ditemukan tepat di bawah halaman resmi Facebook dari merek asli, membuat teknik penipuan ini semakin sempurna.

brand jackingBagian atas adalah halaman Facebook resmi King Power, sementara bagian bawah adalah halaman palsu yang menggunakan nama King Power. Perhatikan nama domain dalam deskripsi dan nama domain di bawah foto karena ini sering menjadi tanda-tanda mencurigakan dari upaya brand jacking. Mereka menampilkan barang-barang mewah dengan harga yang tidak masuk akal.

Beberapa contoh lain adalah kasus akun Twitter peniru akun Twitter Apple asli dan kasus cybersquatting Hermès International vs Mason Rothschild.

Brand jacking menyebabkan ancaman finansial yang mengkhawatirkan bagi organisasi, berpotensi menyebabkan kerugian jutaan dolar. Penggunaan identitas atau merek dagang secara salah dapat mengalihkan pelanggan ke situs web palsu atau produk palsu sehingga dapat menyebabkan penurunan penjualan merek asli.

Selain itu, kerusakan reputasi merek bisa berlangsung lama dan memerlukan investasi besar untuk memperbaikinya. Mendapatkan kembali kepercayaan pelanggan bukan hanya proses yang panjang, tetapi juga mahal dan harus dilakukan dengan hati-hati. 

Dampak finansial dari pembajakan merek tidak hanya terbatas pada kerugian langsung, tetapi juga memengaruhi ekuitas dan posisi pasar suatu merek. Ketika konsumen menjadi korban produk palsu atau penipuan phishing dengan menggunakan nama merek tepercaya, kepercayaan mereka terhadap merek tersebut akan berkurang. 

Ulasan negatif, reaksi media sosial, dan promosi dari mulut ke mulut yang merugikan dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada reputasi merek. Konsumen mungkin juga menjadi ragu-ragu untuk terlibat dengan merek tersebut, beralih ke pesaing atau pilihan alternatif. Membangun kembali kepercayaan menjadi perjuangan yang berat, sehingga memperlambat prospek pertumbuhan jangka panjang.

Teknik penipuan

Peretas dan pelaku kejahatan ini menggunakan berbagai metode untuk mencapai brand jacking, termasuk mengeksploitasi kerentanan dalam ranah digital. Salah satu teknik umum adalah URL squatting, di mana pelaku jahat mendaftarkan nama domain yang mirip dengan merek yang sah, menciptakan kebingungan di antara konsumen.

URL yang menyesatkan ini mungkin mengandung ejaan yang salah, tanda hubung, atau ekstensi yang berbeda, misalnya, pelaku menggunakan ejaan Google.io untuk meniru Google.com. Ketika pengguna secara tidak sengaja mendarat di situs web palsu ini, mereka mungkin tanpa sadar memberikan informasi sensitif atau menjadi korban penipuan.

Selain itu, pelaku juga melakukan pemalsuan media sosial, menciptakan akun palsu yang meniru merek terpercaya. Dengan menyamar sebagai perwakilan yang sah, mereka menipu followers, menyebarkan informasi yang salah, atau terlibat dalam kegiatan phishing.

Mengingat potensi kerugian keuangan dan kerusakan pada kepercayaan konsumen yang disebabkan oleh brand jacking, strategi perlindungan merek yang kuat sangat penting. Merek perlu menerapkan langkah-langkah komprehensif untuk melindungi kekayaan intelektual mereka, memantau platform daring untuk penggunaan merek mereka yang tanpa izin, dan aktif berinteraksi dengan konsumen untuk mengatasi kebingungan atau aktivitas penipuan.

Kolaborasi antara tim perlindungan merek, praktisi ahli keamanan siber, ahli hukum, dan analis OSINT sangat penting untuk mendeteksi, mengurangi, dan mencegah kejadian brand jacking. Dengan mengutamakan perlindungan merek, organisasi dapat menjaga reputasi mereka, mempertahankan kepercayaan konsumen, dan mempertahankan pangsa pasar mereka.

 

Image by tonodiaz on Freepik

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.