Credit Check Kurangi Risiko Kecurangan di Lingkungan Kerja

Putri Pertiwi
April 16, 2025
4 menit membaca
credit check

Di Indonesia, media sosial baru-baru ini ramai dengan berita pelamar kerja yang gagal seleksi karena hasil credit check menunjukkan adanya tunggakan kredit. Peristiwa ini memicu reaksi masyarakat yang mempertanyakan pentingnya credit check dalam seleksi calon karyawan.

Pengecekan riwayat kredit (credit check) sebenarnya bukan hal baru. Banyak perusahaan, terutama di sektor perbankan dan keuangan, melakukan credit check pada calon karyawan.

Credit check adalah pemeriksaan menyeluruh terhadap rekam jejak kredit individu dalam proses skrining. Di Indonesia, credit history hanya dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Riwayat Kredit dan Risiko Kecurangan

Credit checking mencakup evaluasi semua jenis layanan pinjaman, termasuk pinjaman online, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kepemilikan kendaraan bemotor, dan pinjaman finansial lainnya yang diawasi oleh OJK. Seluruh transaksi terkait pinjaman ini secara rinci tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. 

Riwayat kredit kandidat bisa menjadi pertanda potensi masalah, antara lain:

  • Banyaknya keterlambatan pembayaran.
  • Memiliki banyak utang. Riwayat kredit yang dianggap bermasalah ketika melibatkan pinjaman daring yang mencapai tingkat konsumsi sekitar 70% serta pemegang kartu kredit aktif dengan tingkat konsumsi hingga 98% dari batas kredit yang diberikan oleh bank. Potensi tersebut tak selalu terjadi, namun perusahaan tentu lebih suka tidak mengambil risiko. Terlebih, apabila posisi yang ditawarkan berkaitan erat dengan akses ke informasi sensitif, aset atau keuangan sehingga perusahaan amat perlu melakukan credit check.

Menurut hasil studi “Report to The Nations” yang dilakukan dari tahun 2018 hingga 2022, perilaku hidup di luar kemampuan dan kesulitan keuangan secara berkelanjutan selalu menduduki peringkat teratas sebagai red flag yang harus diwaspadai oleh perusahan untuk mengurangi risiko kecurangan. 

Manfaat Credit Check Dalam Rekrutmen

Sebelum melanjutkan dengan pengecekan ini, perusahaan perlu memperoleh persetujuan tertulis dari kandidat. Berdasarkan persetujuan tersebut, perusahaan  melaksanakan pemeriksaan dengan penuh profesionalisme serta menjunjung tinggi kerahasiaan data pribadi.

Melakukan pemeriksaan kredit memungkinkan perusahaan untuk memperoleh wawasan yang mendalam mengenai pola hidup dan kondisi keuangan kandidat. Informasi ini relevan dengan beberapa aspek evaluasi berikutnya.

    1. Menilai integritas dan tanggung jawab.

Pemeriksaan kredit membantu perusahaan mengevaluasi sejauh mana kandidat mampu mengelola keuangan dan utangnya. Jika ada keterlambatan pembayaran dalam riwayat kredit, ini bisa menunjukkan kurangnya tanggung jawab, masalah dalam mengelola uang, atau ketidakpatuhan terhadap kesepakatan keuangan.

    1. Mengurangi risiko kecurangan.

Pemeriksaan ini membantu mengurangi risiko mempekerjakan kandidat dengan masalah keuangan yang berdampak negatif pada perusahaan. Sebuah riwayat kredit yang memuat banyak utang dapat menjadi tanda adanya tekanan finansial, yang mungkin meningkatkan risiko perilaku tidak jujur atau kecurangan.

    1. Kepatuhan terhadap regulasi.

Beberapa industri, seperti keuangan, diatur oleh hukum pemerintah yang mewajibkan mereka melakukan pemeriksaan latar belakang, termasuk credit check, sebagai bagian dari proses rekrutmen.

Berlandaskan hasil pemeriksaan kredit, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih detail dalam proses rekrutmen ataupun promosi jabatan. Keputusan ini melibatkan pertimbangan potensi risiko yang mungkin timbul dari kondisi keuangan dan perilaku ekonomi kandidat atau karyawan.

Tidak hanya terbatas pada tahap rekrutmen, pemeriksaan kredit juga dapat menjadi bagian dari evaluasi berkala dalam lingkup karyawan yang sudah bekerja. Hal ini relevan dalam konteks promosi jabatan, khususnya posisi pengambil keputusan di departemen yang cukup krusial seperti pengadaan dan pemasaran.

Hasil survei yang dilakukan oleh Human Resource Society mengungkapkan bahwa perusahaan melakukan credit check umumnya untuk posisi-posisi tertentu yaitu yang berkaitan dengan keuangan atau tanggung jawab fidusia (87%), eksekutif senior (42%) dan posisi yang memiliki akses ke informasi kepegawaian yang sangat rahasia (34%). Jabatan lebih tinggi artinya risiko lebih besar.

Mengapa Credit Check Memerlukan Pihak Ketiga?

Setelah mendapatkan data dari SLIK calon karyawan, perusahaan perlu melakukan analisis secara hati-hati. Penting untuk tidak hanya melihat angka-angka, tetapi juga mempertimbangkan konteks di balik riwayat kredit calon karyawan. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kesulitan keuangan karena alasan yang dapat dimengerti, seperti kehilangan pekerjaan, mungkin tidak seburuk yang terlihat di atas kertas.

Oleh karena itu, melibatkan pihak ketiga, seperti Integrity Indonesia, yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam melakukan analisis yang mendalam dan objektif sangatlah penting. Memanfaatkan pihak ketiga membantu perusahaan menghemat sumber daya dan biaya serta mendapatkan analisis yang akurat.

Memastikan bahwa credit history karyawan sehat artinya meminimalkan risiko kesalahan dalam rekrutmen. Dengan demikian, pemeriksaan kredit dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas dan integritas di seluruh tingkatan organisasi mereka.

Hubungi kami melalui surel info@integrity-asia.com atau melalui form ini untuk informasi lebih lengkap tentang credit check dan pengecekan lainnya.

 

Image by pch.vector on Freepik

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.