Ungkap kecurangan finansial melalui kombinasi wawancara investigatif dan forensik digital

Di balik sebuah perusahaan yang sukses, kadang tersembunyi cerita mengenai kecurangan finansial, seperti penipuan dalam laporan keuangan, penggelapan gaji (ghost employee), atau manipulasi skema penjualan yang mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan, turunnya reputasi perusahaan, dan rusaknya kepercayaan pelanggan serta pemegang saham.
Praktik kecurangan di sebuah perusahaan biasanya dilakukan oleh pelaku dengan skema yang rumit untuk menyembunyikan aktivitas mereka, seperti mengeksploitasi celah pada sistem, mengubah/menyembunyikan informasi, dan bahkan berkolusi dengan rekan kerja.
Rumitnya skema kecurangan memberikan tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk mengungkap pelaku dan mengukur besar kerugian yang diderita.
Biasanya praktik kecurangan mulai terendus pertama kali melalui hasil audit internal atau pengaduan/whistleblowing oleh ‘orang dalam’. Selanjutnya, diperlukan tindakan investigasi dan penyelidikan untuk menindaklanjuti laporan yang masuk.
Begitu dibutuhkan proses investigasi dan penyelidikan lanjutan, peran pihak ketiga untuk membantu mengungkap kasus diperlukan. Objektivitas, keahlian, pengalaman, transparansi, serta terhindar dari resiko konflik kepentingan, menjadi alasan kenapa organisasi sebaiknya bekerjasama dengan pihak ketiga.
Seni investigasi
Dalam beberapa kasus, wawancara investigatif dapat menjadi langkah awal yang strategis untuk membantu mempersempit lingkup penyelidikan dan menggali informasi awal yang penting.
Wawancara dapat dimulai dari banyak narasumber, seperti whistleblower, saksi, dan korban untuk dapat dimintai keterangan berdasarkan fakta yang mereka ketahui.
Seni wawancara yang efektif sangat tergantung dari keahlian investigator. Teknik wawancara, ketrampilan persuasif, kedetilan dalam pemeriksaan dokumen, pengetahuan hukum, pemahaman yang cukup dalam terhadap praktik bisnis di industri sejenis, serta kemampuan analisis data dan informasi relevan yang di dapat sebelumnya, menjadi kunci penting di sini.
Persiapan yang matang, menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan proses investigasi. Penyelidik perlu mempelajari SOP yang berlaku di perusahaan tersebut untuk membantu mengidentifikasi perbedaan antara praktik yang seharusnya dengan praktik yang melanggar, latar belakang kasus, dan latar belakang orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus kecurangan.
Selanjutnya, informasi dan dokumen pendukung dari berbagai narasumber akan dikumpulkan dan dianalisis guna mendukung proses pembuktian.
Pada kasus kecurangan finansial, seringkali terdapat tantangan khusus yang perlu dihadapi. Salah satu permasalahan utama adalah bahwa bukti-bukti dokumen sering kali sudah dihapus dari perangkat desktop dan laptop sebelum atau sejak dilakukannya audit internal.
Ini mencakup penghapusan informasi dalam korespondensi surel dan penghapusan data yang bersifat kritikal. Dalam menghadapi tantangan ini, penyelidik harus memiliki keterampilan forensik digital.
Penggalian jejak digital
Seiring kemajuan teknologi, para pelaku pelanggaran keuangan menjadi lebih mahir dalam menyembunyikan jejak mereka. Namun, Bapak Ilmu Forensik Modern, Edmond Locard, mengatakan, “Tak ada kejahatan yang sempurna”.
Penggalian jejak digital melalui metode digital forensik merupakan tahap yang dapat dilakukan baik setelah wawancara investigasi maupun secara paralel. Menggabungkan kedua metode ini secara bersamaan bisa menjadi strategi yang efektif dalam mengungkap kecurangan.
Dengan mengizinkan keduanya berjalan secara simultan, penyelidik dapat memaksimalkan peluang untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dan menyeluruh, yang dapat mengarah pada identifikasi pelaku dan pembuktian kecurangan
Contoh pada sebuah kasus, forensik digital dapat melacak bukti korespondensi di dalam surel dan file catatan catatan keuangan yang telah di hapus, hingga mengungkap dokumen palsu.
Sinergi kedua metode ini membangun kerangka kerja yang komprehensif untuk mengungkap aspek-aspek yang tersembunyi dan mengurai modus penipuan yang semakin canggih.
Image by DCStudio on Freepik



