Background Screening Sebagai Alat Anti-Suap

 In Artikel

Dalam tahap membangun Sistem Manajemen Anti-Suap (ABMS), setelah perusahaan mengidentifikasi risiko penyuapan dalam proses bisnisnya, lalu dibangunlah ABMS sebagai solusi untuk mengurangi potensi risiko yang teridentifikasi. Namun, memiliki ABMS tidak cukup, karena perusahaan harus bertekad untuk  menyediakan sumber daya yang diperlukan dalam rangka menerapkan, memelihara, dan terus meningkatkan sistem anti-suap tersebut. Oleh karena itu, korporasi memerlukan sumber daya untuk mendukungnya, salah satunya adalah dukungan sumber daya manusia.

Klausul 7.2 dalam ISO 37001 ABMS mengharuskan perusahaan memiliki prosedur untuk memastikan bahwa:

  1. Semua karyawan mematuhi kebijakan anti-penyuapan dan sistem manajemen risiko perusahaan
  2. Karyawan menerima salinan kebijakan anti-penyuapan perusahaan dan menghadiri pelatihan terkait dengan kebijakan tersebut
  3. Karyawan yang melanggar kebijakan dikenai tindakan disipliner
  4. Karyawan yang menjadi pelapor dugaan pelanggaran atau whistleblower wajib dilindungi dari tindakan pembalasan yang mungkin menimpanya.

Dengan kata lain, prosedur tersebut mengharuskan perusahaan untuk memastikan bahwa karyawan mereka yang kegiatannya memiliki dampak potensial pada kinerja anti-penyuapan harus kompeten berdasarkan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman.

 

Baca juga:

Risiko Suap II: Identifikasi Aktivitas Rentan Suap

4 Alasan Perusahaan Anda Sangat Perlu Menerapkan Post-employment Screening

Pelajaran Berharga dari Sebuah Perusahaan yang Melewatkan Background Check

 

Selain melakukan pelatihan untuk karyawan mereka, klausul tersebut juga mengharuskan perusahaan melakukan prosedur kepatuhan dengan melakukan penyaringan latar belakang calon karyawan sebelum mereka dipekerjakan.

“Pada dasarnya, ketika sebuah perusahaan berkomitmen untuk mengimplementasikan ABMS, maka perusahaan harus menambahkan lebih banyak kriteria yang relevan dengan ABMS,” kata Winarso S.H, M.H, seorang konsultan ISO 37001 dan praktisi hukum yang berpengalaman.

“Katakanlah seorang karyawan memegang posisi pelatihan SDM di sebuah perusahaan, sudah pasti mereka harus memiliki latar belakang atau pengalaman dalam bidang pelatihan. Namun, ketika perusahaan menerapkan ABMS, kriteria penting wajib ditambahkan, contohnya, karyawan tidak boleh memiliki rekam jejak terlibat dalam penyuapan, korupsi atau pelanggaran lainnya, “jelasnya.

“Untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kriteria tersebut, maka korporasi harus melakukan penyaringan latar belakang untuk memastikan bahwa calon karyawan atau karyawan tidak memiliki rekam jejak seperti itu,” lanjutnya.

Berdasarkan ISO 37001, perusahaan juga harus melakukan penyaringan latar belakang berkelanjutan (continous background screening/ post-employement screening) dan evaluasi berkala atas kinerja karyawan, bonus, dan insentif untuk memastikan mereka memiliki ‘perlindungan’ yang wajar untuk meminimalkan potensi mereka melakukan penyuapan, korupsi, pelanggaran dan pelanggaran lainnya.

Integrity memiliki lebih dari tujuh belas tahun pengalaman dalam menyediakan layanan kepatuhan, salah satunya adalah penyaringan latar belakang – pre-employment dan continous background screenings. Penyaringan kami dilakukan melalui Prisma, platform penyaringan Integrity yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi SDM klien kami. Selain layanan penyaringan latar belakang, kami juga menyediakan layanan konsultasi ABMS ISO 37001 sistem anti-suap untuk membantu klien dalam mempersiapkan proses sertifikasi secara efisien. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang layanan kepatuhan dan layanan konsultasi lainnya, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

 

 

Recent Posts

Start typing and press Enter to search