Tip cerdas guna mengatasi pelanggaran merek dagang di Metaverse
Metaverse membuka peluang komersial baru bagi bisnis untuk menjangkau pelanggan. Namun, peluang baru ini memiliki risiko—salah satunya adalah pelanggaran merek dagang.
Secara sederhana, Metaverse adalah dunia virtual atau kumpulan dunia virtual yang memungkinkan individu saling berinteraksi secara virtual. Di dunia maya ini, dengan membuat dan menggunakan avatar, pengguna dapat terlibat dalam aktivitas sosial, bermain game, membeli dan menjual barang dan jasa virtual melalui marketplace, dan banyak hal lainnya.
Semakin banyak aset yang dibuat dan diperdagangkan di dalam Metaverse, seiring pertumbuhan popularitasnya. Aset virtual ini bisa datang dalam berbagai bentuk, termasuk cryptocurrency, NFT, barang koleksi, dan aset virtual.
“Kartu kuning” di Metaverse
Sayangnya, sama seperti dalam kehidupan nyata di mana pasar yang berkembang selalu terancam oleh risiko pelanggaran merek dagang, begitu pula Metaverse.
Di Metaverse, pelanggaran merek dagang dapat terjadi dalam beberapa cara. Misalnya, penggunaan logo atau merek dagang secara tidak sah, membuat produk virtual yang mirip dengan produk merek, atau menggunakan nama merek dengan cara yang dapat menimbulkan kebingungan di kalangan konsumen.
Kasus terbaru adalah perseteruan antara pemilik merek Hermès dengan Mason Rothschild. Rumah mode Prancis menggugat artis NFT, Mason Rothschild, karena memproduksi dan menjual NFT yang ia sebut MetaBirkins.
Menurut Hermès, penjualan NFT MetaBirkins melanggar merek Birkin-nya. Dengan disematkannya merek ‘Birkin’ seolah-olah NFT itu adalah produk digital resmi Hermès, Rothschild dituduh merusak serta melemahkan reputasi Hermès.
Hermes menempuh jalur hukum terhadap kasus ini. Putusan akhir pengadilan menyatakan bahwa Rothschild bertanggung jawab atas pelanggaran merek dagang, pelemahan merek, dan cybersquatting.
Cara melindungi merek di dunia maya
Kasus Hermes di Metaverse itu bukanlah satu-satunya. Masih banyak kasus pelanggaran merek lain di alam maya tersebut.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan kasus pelanggaran merek juga menimpa merek produk Anda. Prinsipnya, semakin terkenal merek Anda, semakin masif ancaman terhadap reputasi merek Anda itu.
Untuk mengantisipasinya, berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk membantu melindungi merek Anda di dunia maya:
- Daftarkan merek dagang Anda. Langkah pertama dalam melindungi merek di Metaverse adalah mendaftarkan merek dagang Anda ke otoritas terkait. Ini akan memberikan perlindungan hukum bagi merek Anda dan mencegah orang lain menggunakannya tanpa izin.
- Pantau Metaverse. Mengawasi Metaverse dan berbagai platformnya dapat membantu Anda mengidentifikasi setiap contoh penyalahgunaan merek dagang. Anda dapat menggunakan alat pemantau media sosial (social media listening tools) atau layanan pengawasan merek dagang untuk memantau setiap contoh penggunaan tidak sah atas merek Anda.
- Ciptakan kehadiran merek di Metaverse. Membangun kehadiran merek resmi di Metaverse dapat menumbuhkan kontrol terhadap ancaman merek serupa sekaligus membantu mempromosikan merek Anda. Aktivitas ‘branding’ tersebut juga mempermudah pengguna untuk mengidentifikasi dan terlibat dengan produk atau layanan Anda. Cara ini bisa dilakukan dengan mensponsori acara virtual, membuat ruang virtual bermerek, atau bekerja sama dengan influencer di dunia maya untuk mempromosikan merek Anda.
- Menegakkan hak Anda. Jika Anda mengidentifikasi contoh pelanggaran merek atau penyalahgunaan merek dagang di Metaverse, penting untuk mengambil tindakan guna menegakkan hak Anda. Ini dapat mencakup pengiriman surat peringatan kepada terduga pelanggar, mengajukan keluhan ke platform yang relevan, melakukan penghapusan, atau mengambil tindakan hukum jika perlu.
Secara keseluruhan, upaya melindungi merek di Metaverse membutuhkan pendekatan yang proaktif dan waspada. Dengan mengambil langkah-langkah preventif, Anda dapat menjamin keamanan merek Anda dari berbagai macam fraud.
Putri
Image by pikisuperstar on Freepik



