Peran investigasi forensik dalam kasus pencurian data perusahaan

Putri Pertiwi
June 19, 2023
4 menit membaca
investigasi forensik

Sangat penting bagi perusahaan untuk mengambil langkah waspada terhadap ancaman pencurian data dari pihak eksternal, seperti peretasan, email phishing, dan ransomware. Akan tetapi, ada satu ancaman lain yang justru kerap diabaikan oleh perusahaan, yaitu ancaman pencurian informasi sensitif oleh karyawan, terutama mereka yang telah keluar dari perusahaan.

Survei yang dilakukan oleh Haytax, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam keamanan data, mengungkapkan bahwa karyawan dan kontraktor menjadi penyebab utama pelanggaran data. Sementara itu, menurut Ponemo, dalam dua tahun terakhir, ancaman pencurian data oleh orang dalam meningkat dua kali lipat, dengan angka kejadian selama 12 bulan ke belakang mencapai 6.803 kasus. 

Ancaman orang dalam dan data yang dicuri

Orang dalam yang dimaksud adalah karyawan atau individu yang menyalahgunakan wewenang dan akses mereka untuk kegiatan yang berbahaya, tidak etis, atau ilegal, termasuk mencuri informasi berharga dan rahasia milik perusahaan.

Informasi seperti apa yang diklasifikasikan sebagai informasi berharga untuk sebuah bisnis dan alasan seseorang ingin mencurinya mungkin sangat bervariasi, tergantung pada tipe bisnis dan sektor operasional bisnis tersebut. Namun, salah satu aset paling penting bagi segala jenis bisnis dan sangat menarik untuk dicuri adalah kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). 

Kekayaan intelektual itu dapat berupa strategi pemasaran, prototipe produk, teknologi, pitch deck, daftar klien, logo perusahaan, atau informasi apa pun yang memberi perusahaan keunggulan kompetitif di pasarnya. Pencurian IP sering kali tidak terdeteksi sampai informasi yang relevan digunakan oleh pihak yang tidak berwenang atau bahkan perusahaan kompetitor.

Sebutlah kasus pencurian IP sebuah perusahaan yang dilakukan oleh mantan karyawannya. Oknum mantan karyawan yang mempunyai akses ke informasi rahasia  perusahaan kemudian membocorkan rahasia tersebut ke pesaing—sebuah perusahaan baru  yang merekrutnya. 

Awal kecurigaan muncul setelah perusahaan mencurigai teknologi yang digunakan kompetitor sama persis dengan yang mereka miliki. Setelah dilakukan investigasi lebih mendalam terhadap kompetitor, perusahaan menemukan bahwa kompetitor telah mempekerjakan mantan karyawan mereka. Mantan karyawan ini adalah seseorang yang mengetahui luar dan dalam setiap proyek yang dikerjakan oleh perusahaan. 

IP yang diduga dicuri olehnya ini merupakan data strategis yang diperlukan pelaku untuk mengerjakan pekerjaan hariannya saat masih di perusahaan. Jelas bahwa pelaku memiliki akses luas dan mudah terhadap data tersebut. 

Alhasil, kompetitor tersebut dapat meniru produk dan teknologi perusahaan. 

Meskipun tidak semua karyawan yang keluar dari perusahaan membawa data penting bersama mereka, tapi menurut Annual Data Exposure Report 2022 yang dirilis oleh Code42, potensi perusahaan kehilangan IP ketika seorang karyawan berhenti bekerja adalah sebesar 37%.

Pentingnya peran ahli digital forensik

Langkah terbaik yang dapat diambil dari kasus pencurian data sebuah perusahaan adalah dengan merespon cepat seiring munculnya kecurigaan. Respon itu dilakukan dengan melibatkan ahli digital forensik yang akan mencari dan melestarikan bukti terjadinya pencurian data.  

Bukti sangat penting dalam mengungkap dan membuktikan kasus pencurian. Dalam hal ini, perusahaan dapat mengumpulkan bukti dari perangkat perusahaan yang digunakan oleh mantan karyawan yang diduga melakukan pencurian data.  

Dalam perangkat tersebut, tersimpan riwayat perilaku dan aktivitas karyawan, mulai dari data digital yang tersimpan, waktu login, kapan USB pribadinya terhubung dengan perangkat, berapa kali file dicetak, hingga dokumen berbasis cloud yang diakses. Jejak digital tersebut dapat menjadi bukti kronologis untuk mengungkap kasus dan mengajukan gugatan. 

Sangat penting untuk memahami bahwa bukti digital bersifat fluktuatif karena rentan terhadap perubahan. Mengingat hal ini, pengadilan hanya akan menerima bukti yang dikumpulkan dan disampaikan ke hadapan hakim sesuai dengan standar forensik yang berlaku. 

Selain itu, perlu dicatat bahwa setiap upaya pelestarian dapat secara tidak sengaja membahayakan integritas data, sehingga membuka peluang sengketa di pengadilan. Oleh karena itu, mengandalkan departemen TI internal bukanlah pilihan yang tepat karena mereka tidak memiliki peralatan, sertifikasi, dan keterampilan yang diperlukan untuk mengumpulkan data secara forensik atau melakukan analisis forensik komputer. 

Forensik digital hanya boleh dilakukan oleh profesional yang berpengalaman dan terlatih. Mereka juga telah tersertifikasi atas kompetensinya. 

Tim kami di Integrity Asia terlatih, terampil, dan dilengkapi dengan baik untuk melakukan forensik digital sebagai bagian dari investigasi penipuan. Tim kami membantu klien di berbagai sektor dengan investigasi forensik digital. 

Semua bukti yang diperoleh selama penyelidikan dicatat dalam laporan forensik yang dapat digunakan di pengadilan. Hubungi kami untuk mendapatkan layanan forensik digital. 

 

Image by <a href=”https://www.freepik.com/free-vector/background-fingerprint-neon_6148292.htm#query=digital%20forensic&position=13&from_view=search&track=sph”>Freepik</a>

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.