Pelaku fraud tanpa catatan kriminal
Pre-employment background screening terbukti menjadi salah satu cara pencegahan fraud yang ampuh di dalam perusahaan, berdasarkan Report to the Nations 2022. Akan tetapi, apakah hanya dengan melakukan pre-employment background screening saja cukup? Bagaimana perusahaan dapat menyikapi potensi risiko yang muncul setelah proses hiring?
Hasil studi dari laporan tersebut menyebutkan bahwa hanya 6% dari pelaku fraud memiliki catatan kriminal. Selebihnya, tidak ada catatan yang menginformasikan perilaku fraud yang pernah dilakukan kandidat.
Perlu diketahui bahwa berdasarkan laporan yang sama, sebanyak 42% kasus fraud yang dipelajari tidak dilaporkan kepada penegak hukum. Karena ada banyaknya kasus hukum yang tidak dilaporkan, sangat memungkinkan bahwa aktivitas fraud akan dilakukan pelaku secara berulang dari satu perusahaan ke perusahaan lain.
Potensi tindak kriminal
Dengan adanya pelaku fraud yang tidak memiliki catatan kriminal, maka kandidat yang lolos pre-employment screening bisa saja tetap membawa risiko. Kalaupun kandidat memang tidak pernah melakukan fraud, tidak menutup kemungkinan bahwa fraud akan dilakukan di masa mendatang, karena perilaku merupakan faktor yang sifatnya dinamis.
Seorang karyawan yang telah lolos pre-employment screening bukan berarti selamanya pasti akan menunjukkan perilaku tanpa red flags. Bisa jadi, selama masa kerja, karyawan tersebut kehilangan izin profesi atau melakukan tindakan kriminal yang tidak diketahui oleh perusahaan yang dapat merugikan perusahaan dan karyawan lain, baik dari segi biaya maupun produktivitas.
Dengan adanya risiko-risiko tersebut, perusahaan perlu melakukan upaya pencegahan lebih lanjut, yaitu dengan melakukan post-hire screening.
Post-hire screening
Jika pre-employment screening memungkinkan perusahaan mengidentifikasi risiko sebelum karyawan dipekerjakan, maka penyaringan latar belakang berkelanjutan atau post-hire screening membantu perusahaan meminimalkan risiko yang mereka hadapi dalam jangka panjang.
Post hire screening memungkinkan perusahaan melakukan screening secara berkala terhadap karyawannya. Metodenya tidak jauh berbeda dengan metode pre-employment screening.
Pemeriksaan tersebut antara lain meliputi pemeriksaan media, catatan kriminal, credit check, pemeriksaan tempat tinggal, dan aktivitas media sosial, hingga pemeriksaan sertifikat pendidikan jika karyawan tersebut melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Post hire screening juga perlu dilakukan saat karyawan akan dipromosikan. Hal ini untuk memastikan integritas dan kualifikasi karyawan tersebut sesuai untuk posisi barunya.
Integrity Asia memiliki pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam menyediakan layanan penyaringan latar belakang, baik dalam bentuk pre-employment screening maupun post-hire screening.
Penyaringan dilakukan melalui Prisma, platform satu pintu yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi SDM perusahaan Anda.
Dapatkan informasi lebih lanjut tentang layanan post-hire screening untuk melindungi aset organisasi Anda dari potensi fraud yang disebabkan oleh karyawan bermasalah. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.
Putri
Photo by Ant Rozetsky on Unsplash



