Pelajaran dari Kebangkrutan FTX: Apa yang Salah dari Uji Tuntas?

Putri Pertiwi
June 19, 2023
4 menit membaca
ftx crypto exchange

Kehancuran kerajaan kripto, FTX, menjadi berita utama di media dan menambah panjang daftar kejatuhan korporasi setelah Enron dan Theranos. Platform bursa kripto senilai 32 miliar dolar ini mengajukan kebangkrutan pada 11 November lalu karena krisis likuiditas dan tuduhan fraud.

Kehancuran ini sangat mengguncang kepercayaan investor terhadap aset kripto dan meninggalkan seluruh dunia kripto dengan efek domino yang merugikan. Beberapa kesamaan antara bencana FTX, Theranos, dan Enron adalah keterlibatan investor besar yang uji tuntasnya gagal mengungkap red flags.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mungkin mereka melewatkan red flags yang begitu jelas dan apa poinnya melakukan uji tuntas jika masih mengalami kerugian pada akhirnya.

Lemahnya pengawasan

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat penyebab kehancuran raksasa kripto ini. Berbagai media telah menyebutkan bahwa kurangnya kontrol keuangan dan perusahaan merupakan penyebab utamanya.

Sam Bankman-Fried (a.k.a SBF), pemegang saham utama perusahaan dan CEO, secara efektif mengendalikan semua pengambilan keputusan, dengan sedikit atau bahkan tanpa dokumentasi atas tindakan yang ia ambil. Kurangnya direktur independen dalam struktur perusahaan mengakibatkan kurangnya pengawasan terhadap kepentingan investor dan klien dan salah satu red flag yang seharusnya terlihat jelas jika dilakukan uji tuntas.

Selain itu, menurut pejabat restrukturisasi dan CEO interim, John J. Ray, yang paling dikenal karena mengawasi likuidasi Enron Corp, mengungkapkan bahwa FTX tidak memiliki kontrol pengeluaran yang memadai layaknya sebuah perusahaan.

Karyawan FTX, misalnya, menggunakan platform “obrolan” daring untuk meminta dan mengirimkan pembayaran. Selanjutnya, pihak manajer akan menyetujui pembayaran dengan cara membalas permintaan tersebut dengan emoji yang dipersonalisasi.

Lemahnya kontrol juga memungkinkan penyelewengan dana investasi secara besar-besaran. Penyelidikan lebih lanjut menemukan fakta bahwa karyawan dan orang tua SBF membeli properti mewah dengan dana perusahaan. Miliarder kripto ini juga secara diam-diam mentransfer dana klien dari FTX ke sister company, Alameda Research, tanpa memberitahu investor, karyawan, dan auditor dalam prosesnya.

Alameda Research adalah sebuah perusahaan perdagangan kecil yang dibangun SBF pada 2017. Perusahaan kecil ini membutuhkan uang untuk menjalankan bisnis perdagangannya dan itulah alasan SBF menciptakan FTX. Saat harga kripto turun, nilai FTT (FTX Token) turun, sehingga membuat Alameda sulit membayar uang klien FTX. Hubungan antara FTX dan Alameda saat ini sedang dalam pengawasan pihak berwenang.

Red flags lainnya adalah FTX tidak memiliki departemen akuntansi dan laporan keuangannya sebagian besar tidak diaudit. Adapun laporan yang diaudit, hal itu dilakukan oleh sebuah perusahaan audit kecil yang beroperasi secara virtual. Fakta bahwa audit terhadap laporan keuangan perusahaan sebesar ukurannya dilakukan oleh perusahaan audit kecil, di luar The Big Four, seharusnya menimbulkan pertanyaan bagi investor.

Sudah melakukan uji tuntas, tetapi…

Kejatuhan FTX bagai petir di siang bolong bagi investor-investornya, termasuk Temasek. BUMN Singapura ini mengklaim sudah melakukan uji tuntas secara luas selama delapan bulan terhadap FTX, termasuk meninjau laporan keuangan yang diaudit FTX yang menunjukkan adanya keuntungan.

Terkait hal itu, pendiri dan editor blog FCPA, Richard L. Cassin, mempertanyakan dan mengkritisi para investor yang mengklaim telah melakukan uji tuntas secara menyeluruh, tetapi tidak melihat red flags yang begitu jelas.

Uji tuntas adalah alat mitigasi yang pada dasarnya merupakan investigasi latar belakang terhadap sebuah bisnis yang biasanya dilakukan oleh perusahaan atau perorangan sebelum mengambil keputusan (pembelian, merger, investasi, dll.).

Pada praktiknya, uji tuntas dapat memitigasi risiko-risiko tertentu. Akan tetapi, tidak semua risiko dapat dimitigasi dengan metode ini, tergantung aspek apa yang diinvestigasi.

Dalam dunia kripto yang terbilang baru, misalnya, uji tuntas yang dilakukan seharusnya berbeda dibanding uji tuntas yang dilakukan terhadap bisnis konvensional.

Profesor Mak Yuen Teen dari sekolah bisnis National University of Singapore mengatakan kepada media bahwa aset tak berwujud dan bergerak cepat seperti kripto membuat uji tuntas lebih rumit dilakukan.

Meski demikian, setidaknya uji tuntas untuk dunia kripto dapat berfokus pada beberapa hal fundamental dan krusial, antara lain model bisnis, struktur perusahaan, entitas terkait, di mana perusahaan didirikan, apakah perusahaan berada di yurisdiksi dengan aturan ketat, apakah ada dewan direksi yang independen dan kompeten, siapa yang mengaudit laporan keuangan, dll.

Investor-investor ini mungkin gagal melakukan uji tuntas pada beberapa aspek tersebut, sehingga meninggalkan celah risiko yang sangat besar. Atau, mungkin saja mereka tidak cukup dalam menggali aspek-aspek tersebut. Akibatnya, beberapa red flags yang seharusnya terlihat dan direspon, justru tidak terlihat dan terabaikan, sehingga mengakibatkan kerugian besar yang nyata.

Selain sebagai alat mitigasi, uji tuntas juga berfungsi sebagai salah satu syarat kepatuhan. Banyak negara, seperti Inggris dan Amerika Serikat, mewajibkan perusahaan melakukan uji tuntas untuk mengurangi risiko kejahatan keuangan. Jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi setelah pengambilan keputusan dan perusahaan ditemukan tidak melakukan uji tuntas sebelumnya, kemungkinan besar perusahaan akan menghadapi tanggung jawab hukum.

 

Putri

Photo by Jason Briscoe on Unsplash

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.