Menuai peluang bisnis yang lebih menguntungkan dengan uji tuntas LST
Hari Lingkungan Hidup yang dirayakan pada 5 Juni setiap tahun mengadvokasi perubahan lingkungan yang transformatif dalam skala global. Terkait dengan gerakan untuk semakin peduli terhadap lingkungan, semakin banyak perusahaan menaruh perhatian untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan.
Banyak bisnis dengan operasional berdampak tinggi, seperti eksploitasi sumber daya alam, telah menunjukkan komitmennya terhadap model bisnis berkelanjutan yang memiliki tingkat standar tanggung jawab yang lebih tinggi dalam praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST).
Tantangan dan faktor pendorong
Dari segi lingkungan, misalnya, salah satu bisnis energi terintegrasi di Indonesia memiliki rasa tanggung jawab untuk membangun perusahaan yang lebih inovatif dan berkelanjutan dengan mengupayakan gerakan “netral karbon” pada 2060.
Adapun dari segi sosial, perusahaan bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, melindungi kepentingan bersama, serta membentuk ekosistem untuk jangka panjang. Tujuan-tujuan seperti yang dijelaskan sebelumnya, apa pun itu, tidak dapat dipenuhi kecuali ada kehadiran yang signifikan dalam tata kelola perusahaan.
Tantangan terbesar dalam mengimplementasikan kebijakan ini adalah saat berhadapan dengan ambisi negara berkembang yang secara masif dan berani masih melakukan ekstraksi bahan bakar fosil. Namun, gelombang transisi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan dengan kepatuhan LST yang kuat menjadi semakin normal, tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang.
Meningkatnya biaya energi, yang mencapai titik tertinggi pada tahun 2022 sebagai akibat dari pemulihan ekonomi pasca-Covid-19 dan dinamika geopolitik di Eropa, telah menimbulkan tantangan besar bagi bisnis di seluruh dunia. Di sisi lain, hal tersebut justru menjadi faktor pendorong untuk mempercepat transisi.
Manfaat program LST
Ada banyak manfaat untuk bisnis dengan program LST yang kuat. Dengan program ini, perusahaan dapat menetapkan visi untuk pengaruh lingkungan dan sosialnya.
Di bidang lingkungan, misalnya, perusahaan dapat menetapkan target untuk menurunkan jejak karbon, memutuskan strategi sumber mereka, dan membuat peta jalan untuk membuang limbah yang tidak diperlukan. Di bidang sosial, perusahaan dapat membuat program keragaman yang bermakna, meningkatkan kesehatan karyawan, dan membuat perbaikan jangka panjang di masyarakat.
Landasan tata kelola yang kuat dapat membantu perusahaan mendiversifikasi tim manajemen puncak, meningkatkan etika bisnis, meningkatkan transparansi pemangku kepentingan, dan melindungi privasi.
Manfaat lainnya adalah mendapatkan insentif. Salah satu insentifnya adalah sektor keuangan yang menawarkan rencana pembiayaan yang menarik untuk proyek komersial yang mempunyai pola pikir berkelanjutan untuk mengurangi dampak negatif bisnisnya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Pada Maret 2022, IMF menyatakan bahwa pembiayaan berkelanjutan tumbuh pesat. Keuangan berkelanjutan menggabungkan konsep lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam keputusan bisnis dan strategi investasi yang mengatasi masalah, mulai dari perubahan iklim hingga praktik ketenagakerjaan.
Program ini diutamakan menyasar ke pasar negara berkembang karena kebutuhan pembiayaan terkait pandemi, seperti perawatan kesehatan. Selain itu, juga terjadi lonjakan pinjaman terkait iklim di negara berkembang, terutama di Amerika Latin.
Selain insentif keuangan, ada juga motivasi lain bagi bisnis untuk mengadopsi pendekatan LST dalam perilaku komersial mereka. Penting untuk dicatat bahwa kekhawatiran seperti pekerja anak, emisi karbon, perpajakan yang adil, dan korupsi akibat kurangnya transparansi dapat menimbulkan bahaya yang rumit dan mahal.
Cara perusahaan mengelola isu-isu LST dapat memengaruhi keberhasilan dan penilaian jangka panjang perusahaannya. Investor mencari peluang investasi yang akan memberi mereka metode yang jauh lebih baik untuk menumbuhkan nilai dengan melakukan berbagai hal secara berbeda, yaitu dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Banyak proyek komersial di Indonesia telah mendapatkan keuntungan dari pendanaan jangka panjang, sehingga membuat perusahaannya lebih mapan secara ekonomi dan dapat bersaing. Selain itu, banyak bisnis telah berusaha menarik investor kelas atas untuk mendanai konsep bisnis berkelanjutannya.
Meski demikian, untuk memperoleh fasilitas pembiayaan atau investasi tersebut, diperlukan persiapan dan strategi yang matang agar dapat menunjukkan kepada kreditur bahwa bisnis yang dijalankan beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip LST.
Uji tuntas LST
Uji tuntas LST dapat menjadi solusinya. Uji tuntas kreditor atau investor, baik menyeluruh atau sebagian, diperlukan untuk menetapkan jumlah kepatuhan terhadap prinsip-prinsip LST dari bisnis yang ingin mereka biayai atau investasikan.
Menurut laporan KPMG, lebih dari setengah (54%) mitra ekuitas swasta yang disurvei memilih untuk memotong harga penawaran setelah uji tuntas ESG, sedangkan sepertiga (32%) menaikkan harga penawaran.
Selain itu, UE telah mengeluarkan proposal “Directive on Corporate Sustainability Due Diligence” yang mengharuskan perusahaan besar yang beroperasi di Eropa dan bergerak di sektor berdampak tinggi, seperti pertanian, pertambangan, tekstil, dan sebagainya, menjunjung nilai hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan, serta melakukan uji tuntas, termasuk uji tuntas LST. Sementara itu, perusahaan menengah dan kecil dikecualikan dari peraturan ini.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa perusahaan tersebut juga harus memastikan kepatuhan di sepanjang rantai pasokan mereka. Artinya, pihak ketiga (baik langsung maupun tidak langsung) anak perusahaan, dan pemasok yang terlibat dalam perusahaan harus mempertimbangkan dampak peraturan tersebut terhadap mereka secara tidak langsung.
Rahmad
Photo by Zbynek Burival on Unsplash



