Maraknya penipuan kripto dengan rekayasa sosial
Kepopuleran kriptokurensi menjadikannya sebagai target peretasan. Kini, para pemilik kripto harus lebih waspada daripada sebelumnya karena para peretas selalu mencoba selangkah di depan untuk mengelabui target mereka.
Para peneliti keamanan telah mengamati beberapa modus operandi yang digunakan para peretas untuk mencuri token kripto, salah satunya dengan rekayasa sosial. Dalam banyak kasus penipuan kripto, rekayasa sosial merupakan metode yang digunakan pelaku untuk mendapatkan informasi akses kode wallet kripto.
Fundamental dari rekayasa sosial sendiri adalah mengeksploitasi titik terlemah dalam sebuah sistem keamanan, yaitu manusia, seperti yang baru-baru ini terjadi pada sebuah perusahaan game. Adanya media sosial semakin mengamplifikasi upaya mereka untuk menargetkan korban.
Rekayasa sosial dalam penipuan kripto
Sekelompok peretas berhasil mencuri token Ethereum dan USDC senilai 625 juta dolar atau setara lebih dari IDR 8 triliun (asumsi Rp 14.300/US$) setelah meretas wallet kripto milik pengembang game, Sky Mavis. Token-token yang diambil adalah milik para pengguna game.
Melansir dari media, pencurian tersebut terjadi bukan akibat kesalahan teknis, melainkan karena dilakukan dengan rekayasa sosial. Hal ini terungkap setelah penyelidikan mengungkap bahwa peretas masuk ke dalam jaringan dengan menggunakan ‘kunci’ pribadi.
Bagaimana ia mendapatkan kunci tersebut? Menurut sumber yang mengetahui peretasan tersebut, pelaku menghubungi salah seorang karyawan Sky Mavis melalui LinkedIn dengan berpura-pura sebagai sebuah perusahaan yang ingin merekrutnya.
Karyawan tersebut tertarik dengan besaran gaji yang ditawarkan kepadanya. Ia pun mengikuti serangkaian wawancara yang dipersiapkan oleh pelaku. Lantaran proses rekrutmen berjalan sewajarnya, karyawan tersebut tidak menaruh curiga.
Hingga pada suatu titik, ia menerima file dengan format pdf yang berisikan detail pekerjaan. Sayangnya, file tersebut sebenarnya adalah jalan bagi pelaku untuk menginfeksi perangkat komputer karyawan tersebut. Ia pun membuka file tersebut dan infeksi dimulai hingga akhirnya pelaku mendapatkan ‘kunci’ dari wallet perusahaan.
Penipuan kripto dengan rekayasa sosial tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Tahun 2020, akun twitter beberapa figur ternama diretas dan membuat cuitan yang sama, yaitu meminta followers mereka mengirimkan bitcoin. Pada 2021, pelaku berhasil meraup uang investor melalui token kripto ‘Squid Coin’.
Mencegah penipuan kripto
Dari banyak kasus penipuan kripto, kesamaan para korban pada umumnya adalah bahwa mereka tidak cukup melakukan uji tuntas kepada orang atau entitas asing. Seorang pendiri DAO (decentralized autonomous organization) menceritakan bagaimana skeptisisme yang sehat membantunya menghindari penipuan kripto.
Singkatnya, ia melakukan uji tuntas terhadap individu dan entitas yang mengajaknya bekerja sama. Tak sampai di situ, ia juga membaca keseluruhan kontrak. Saat itulah ia menemukan ada yang tidak beres pada kontrak kerja sama tersebut yang memungkinkan pelaku memindahkan semua token pada wallet miliknya.
Belajar dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa uji tuntas yang objektif harus menjadi landasan bagi rencana bisnis seseorang, terlepas dari apakah ia seseorang yang baru mengenal kriptokurensi, seorang CEO, atau ICO.
Putri
Photo by Kanchanara on Unsplash



