Kesadaran fraud meningkat signifikan selama pandemi

Pandemi virus Corona telah menciptakan ‘ekosistem’ yang menguntungkan bagi para pelaku fraud. Seorang karyawan Layanan Eksekutif Senior (SES) dari Administrasi Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena melakukan penipuan senilai lebih dari $350,000 dalam bentuk pinjaman dan tunjangan bantuan ekonomi COVID-19, menurut situs justice.gov.
Kasus lainnya seperti yang dikutip CNN yaitu seorang pegawai pabrik memalsukan hasil tes COVID-19 agar bisa rehat dari pekerjaan. Alhasil, perusahaan menanggung kerugian biaya dan produktivitas karena mereka harus menghentikan aktivitas pabrik untuk disinfeksi.
Peningkatan Signifikan Fraud
Dua kasus tersebut hanya sedikit contoh dari kasus fraud yang terjadi sejak pandemi. Laporan Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) yaitu Fraud in the Wake of COVID-19: Benchmarking Report menunjukkan bahwa dibanding bulan Mei dan Agustus 2020.
Hingga November 2020, 79% organisasi yang disurvei mengatakan mereka telah melihat peningkatan fraud.
Lalu, berdasarkan laporan yang disusun oleh ACFE dan Grant Thornton berjudul The next normal: Preparing for a post-Pandemic fraud landscape, lebih dari setengah organisasi (51%) yang disurvei pada bulan Maret hingga April 2021 mengaku telah mendeteksi lebih banyak kasus fraud dari biasanya sejak awal pandemi. Pandemi telah menciptakan ketidakpastian. Di mana ketidakpastian berada, di situlah peluang besar fraud terjadi.
Anggaran yang ketat dan penerapan Work From Home (WFH) adalah sedikit faktor yang mendorong peningkatan risiko fraud di tengah pandemi. WFH membuat hampir semua urusan bisnis dikendalikan dari rumah dengan metode daring. Minimnya kendali bisnis dengan tatap muka membuat pengawasan dan kontrol menjadi lebih renggang.
Kabar baiknya, meningkatnya risiko fraud diiringi dengan meningkatnya kesadaran terhadap fraud. Berdasarkan laporan tersebut, lebih dari 60% responden mengamati adanya peningkatan kesadaran terhadap risiko fraud yang signifikan. Peningkatan ini kemungkinan karena adanya peningkatan upaya edukasi oleh para profesional anti-fraud dan internal perusahaan serta meningkatnya percakapan seputar risiko fraud. Selain itu, peningkatan eksposur dari pers tentang skema fraud terkait pandemi juga mungkin berkontribusi terhadap hal ini.
Sebagai respon terhadap meningkatnya fraud dan kesadaran fraud, sebanyak lebih dari 80% organisasi yang disurvei mengaku sudah mengimplementasikan satu atau lebih dari satu perubahan pada program anti-fraud mereka. Fraud pada masa setelah pandemi diperkirakan masih akan terus meningkat dan diharapkan program anti-fraud organisasi akan lebih waspada dan gesit.
Also Read:
Fraud trend in post-pandemic era
How the Pandemic Shapes Organizations’ Anti-fraud Efforts in 2021



