Dari Phishing Hingga Penipuan Kartu Kredit, Waspadai 6 Jenis Fraud yang Kerap Terjadi Jelang Liburan

Akhir tahun adalah momen yang dinanti banyak orang untuk merayakan kebersamaan, berbagi kebahagiaan, dan menikmati waktu liburan. Namun, di balik atmosfer yang penuh keceriaan ini, tersembunyi ancaman yang tidak kalah serius, yaitu meningkatnya kasus penipuan dan kecurangan.
Aktivitas belanja yang melonjak, tekanan keuangan, serta suasana emosional yang seringkali menyertai periode ini menciptakan peluang emas bagi pelaku kecurangan untuk melancarkan aksinya. Ancaman ini tidak hanya mengincar individu, namun juga perusahaan.
Selama lebih dari tujuh tahun, Integrity Today telah setia menemani klien melalui artikel bulanan yang informatif. Kali ini, kami ingin kembali mengingatkan Anda tentang enam jenis penipuan yang perlu diwaspadai menjelang musim liburan, lengkap dengan langkah pencegahannya :
1. Phishing
Phishing adalah salah satu bentuk penipuan yang paling sering terjadi, di mana pelaku mengirimkan email atau pesan yang tampak resmi dengan tujuan mencuri informasi pribadi. Jelang liburan menjadi momen sibuk di mana lebih banyak orang melakukan aktivitas daring seperti berbelanja, memesan akomodasi, tiket perjalanan, atau paket liburan, dan pelaku phishing memanfaatkan situasi ini.
Modus umum yang digunakan melibatkan pengiriman pesan melalui surel atau aplikasi pesan instan yang berisi tautan menuju situs web palsu yang menyerupai situs resmi. Pesan tersebut biasanya disertai iming-iming seperti diskon besar atau promosi khusus untuk menarik perhatian konsumen. Ketika pengguna mengklik tautan tersebut, mereka diarahkan ke halaman palsu di mana mereka diminta memasukkan informasi pribadi seperti nama, alamat, dan data kartu kredit.
Sebagai upaya pencegahan, sangat penting untuk selalu memverifikasi alamat email pengirim dengan teliti, hindari mengklik tautan mencurigakan, dan pastikan Anda hanya memasukkan informasi sensitif di situs yang terpercaya.
2. Business Email Compromise (BEC)
Business email compromise (BEC) adalah salah satu bentuk penipuan yang sering menargetkan perusahaan. Dalam modus ini, pelaku menyamar sebagai pimpinan perusahaan, CEO atau eksekutif lainnya, dengan mengirimkan alamat surel yang mirip dengan aslinya. Biasanya, pelaku hanya mengubah satu atau dua karakter pada alamat email atau menggunakan domain yang hampir sama dengan domain resmi perusahaan.
Isi surel biasanya berisi permintaan mendesak, seperti instruksi untuk transfer dana atau memberikan informasi sensitif. Para pelaku sering menggunakan taktik urgensi untuk mendorong karyawan bertindak cepat tanpa memverifikasi keaslian permintaan tersebut.
Bagian keuangan sering menjadi sasaran utama dalam kasus penipuan ini. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktivitas transaksi yang terkait dengan tutup buku, percepatan permintaan pembayaran invoice dari supplier atau vendor, serta keterbatasan sumber daya manusia akibat banyaknya karyawan yang cuti selama musim liburan.
Dalam keadaan sibuk dan terburu-buru, pelaku memanfaatkan situasi ini karena karyawan lebih mungkin mengabaikan prosedur verifikasi yang biasanya diterapkan.
Untuk mencegah hal ini, setiap permintaan transfer dana harus selalu diverifikasi melalui saluran komunikasi terpisah, seperti menghubungi langsung eksekutif terkait menggunakan nomor telepon resmi perusahaan.
3. Payroll Fraud
Payroll fraud terjadi ketika seseorang memanipulasi sistem penggajian untuk memperoleh pembayaran yang tidak sah. Selama musim liburan, banyak karyawan yang cuti, yang menyebabkan permintaan lembur dan karyawan temporer meningkat. Situasi ini dimanfaatkan oleh pelaku untuk menyisipkan nama “karyawan hantu” (ghost employee) ke dalam sistem payroll. Kasus ini sering terjadi di industri padat karya, terutama yang memiliki lokasi kantor pusat jauh dari pabrik atau tempat produksi, di mana pengawasan lebih sulit dilakukan.
Modus lainnya adalah karyawan yang memanipulasi catatan jam kerjanya, dengan mencatat jam lembur untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak pernah dikerjakannya. Pelaku biasanya berkolusi dengan pemegang akses ke sistem payroll untuk melancarkan aksi-aksi tersebut.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan selalu melakukan pemeriksaan latar belakang prakerja terhadap calon karyawan dan karyawan yang sudah ada, terutama untuk posisi strategis yang berhubungan dengan kepegawaian, penggajian, atau keuangan. Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan audit rutin terhadap sistem payroll dan memverifikasi setiap perubahan yang dilakukan.
Baca juga:
Karyawan hantu, teror bagi organisasi
Kasus penipuan email (BEC) meningkat, ini upaya yang dapat dilakukan perusahaan
Perlindungan dari pemalsuan tanda tangan: Strategi mitigasi fraud dan perlindungan organisasi
4. Penipuan Amal
Penipuan amal atau charity fraud adalah penipuan di mana individu atau kelompok berpura-pura menjadi organisasi amal untuk mengumpulkan dana secara ilegal. Musim liburan, terutama menjelang perayaan hari keagamaan, menjadi waktu yang ideal bagi pelaku untuk memanfaatkan pendekatan religius dan taktik emosional guna meyakinkan orang untuk memberikan donasi.
Pelaku menghubungi calon korban melalui telepon, sosial media, atau email , dan menyarankan metode pembayaran yang sulit dilacak, seperti menggunakan kartu hadiah (gift card) atau aplikasi pembayaran mobile (e-wallet). Tidak jarang, mereka meminta donatur untuk melakukan transfer uang langsung ke rekening bank pelaku, terutama dalam penipuan amal berskala internasional.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui proses due diligence terhadap organisasi amal, termasuk memeriksa situs web, akun media sosial, dan reputasi mereka di internet.
5. Penipuan Kartu Kredit
Penipuan kartu kredit cenderung meningkat menjelang liburan, terutama saat banyak orang berbelanja online. Visa Indonesia melaporkan terjadi peningkatan aktivitas fraud selama musim liburan, baik transaksi dengan kartu fisik (card-present/CP) maupun secara daring (card-not-present/CNP).
Pelaku dapat mencuri informasi kartu kredit dan melakukan pembelian tanpa sepengetahuan pemiliknya. Salah satu modusnya adalah dengan menggunakan perangkat bernama skimmer, yang dipasang pada mesin ATM atau terminal pembayaran (merchant) untuk menyalin informasi kartu saat digunakan.
Pencegahan terhadap skimmer dapat dilakukan dengan beberapa langkah, di antaranya adalah memastikan untuk segera mengambil kartu dan struk pembayaran setelah transaksi, serta tidak membiarkan kartu terpasang terlalu lama di mesin.
6. Invoice Fraud
Penipuan ini melibatkan pengiriman faktur palsu yang tampak asli untuk mendapatkan pembayaran tidak sah. Modusnya bervariasi, seperti memodifikasi faktur asli dengan menambahkan biaya atau mengubah informasi pembayaran. Pelaku biasanya memiliki akses ke surel atau sistem komunikasi antara perusahaan dan vendor.
Modus lainnya, pelaku menyamar dengan menggunakan nama dan kontak yang mirip dengan vendor sah, lalu mengirimkan faktur berisi barang atau layanan yang tidak pernah dipesan.
Kesibukan perusahaan jelang liburan mengakibatkan karyawannya cenderung lengah dan kurang teliti terhadap detail transaksi keuangan. Situasi inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan selalu melakukan verifikasi terhadap semua faktur yang diterima dan memeriksa detail transaksi.
Penting bagi bisnis dan individu untuk selalu waspada, terutama saat melakukan transaksi. Salah satu cara terbaik untuk melindungi diri adalah dengan selalu memverifikasi setiap transaksi. Dengan memahami berbagai jenis penipuan dan modus-modusnya, kita dapat mengurangi risiko kerugian dan memastikan liburan tetap aman dan menyenangkan.
Image by Firefly



