6 dari 10 kasus fraud dilakukan dengan kolusi

Putri Pertiwi
June 20, 2023
3 menit membaca
Featured image for: 6 dari 10 kasus fraud dilakukan dengan kolusi

Mendeteksi fraud yang dilakukan satu orang saja sudah cukup membutuhkan upaya, terlebih lagi dilakukan oleh lebih dari satu orang yang bekerja sama. Hal ini sering disebut sebagai kolusi. Tak heran jika kolusi menjadi salah satu bentuk fraud yang paling sulit dideteksi dan menyebabkan median kerugian yang lebih banyak.

Kolusi pada dasarnya adalah kerja sama antara dua pihak atau lebih secara diam-diam untuk mengambil keuntungan dengan merugikan pihak lain.

Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), melalui laporan Report to the Nations, menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian hingga lebih dari 5% per tahun karena fraud. Dari studi yang dilakukan terhadap kasus-kasus fraud tersebut, sekitar 58%, atau 6 dari 10 kasus fraud, dilakukan dengan metode kolusi.

Semakin banyak individu yang terlibat dalam kolusi, semakin besar kerugian yang diderita perusahaan. Sebagai gambaran mudah, fraud yang melibatkan satu orang menyebabkan median kerugian sebesar 57,000 dolar AS, dua orang sebesar 145,000 dolar AS, dan tiga orang atau lebih sebesar 219,000 dolar AS.

Bagaimana kolusi bekerja?

Sering kali, pada awalnya, pelaku pertama melakukan fraud sendiri. Akan tetapi, ia mungkin mengalami kesulitan karena adanya pengendali internal.

Agar tidak terdeteksi saat melanggar pengendali internal dan menyembunyikan tindakannya, maka akan lebih mudah jika ia berkoordinasi dengan pihak lain. Dengan demikian, kolusi pada dasarnya lahir karena kebutuhan pelaku untuk mengatasi pengendali internal yang menghalanginya dalam mengeksekusi gagasan fraud.

Contohnya, kolusi antara manajemen dan karyawan atau pihak ketiga dapat menyebabkan auditor yang telah melaksanakan audit dengan benar menyimpulkan tidak ada yang mencurigakan dari bukti atau penjelasan yang diberikan. Padahal faktanya, kesimpulan auditor tersebut salah karena dia kesulitan untuk menemukan kejanggalan akibat kolusi beberapa pihak secara simultan dan terorganisir.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa kolusi biasanya dilakukan oleh sekelompok individu yang dipimpin oleh seseorang dari top management. Seseorang inilah yang memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi kelemahan pengendali internal dan menutupi fraud, sehingga tidak terdeteksi oleh auditor.

Pencegahan dan deteksi

Tidak ada pengendali internal yang dapat mencegah dan mendeteksi kolusi dengan sempurna. Namun, penerapan kombinasi praktik dan kontrol berikut memungkinkan pelaku kolusi berpikir ulang untuk melakukan aksinya, atau menyebabkan kolusi terdeteksi sedini mungkin.

  1. Rotasi pekerjaan. Dengan merotasi pekerjaan, akses dan pengetahuan dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang, yang sehingga dapat meminimalkan risiko penyalahgunaan. Selain itu, metode ini bertujuan untuk memastikan adanya pengecekan terhadap transaksi yang pernah dilakukan oleh pemangku jabatan sebelumnya, sekaligus memastikan karyawan mengikuti aturan dan kebijakan perusahaan.
  2. Jejak audit. Pada dasarnya, dokumentasi atau rekam jejak bertujuan untuk melacak semua pihak yang telah melakukan transaksi atau otorisasi. Dengan mengetahui jejak audit tersebut, orang atau pihak yang melakukannya dapat dilacak, apabila diperlukan.
  3. Sistem whistleblowing. Berdasarkan Report to the Nations 2022, sistem whistleblowing merupakan alat deteksi fraud yang paling efektif. Mungkin saja ada beberapa di antara karyawan lain yang melihat adanya tindakan mencurigakan. Atau, mungkin saja justru salah satu pelaku yang terlibat dalam kolusi merasa bersalah, sehingga ingin membuat laporan. Sistem whistleblowing memungkinkan pelapor membuat laporan secara anonim. Agar sistem ini berjalan efektif, penting bagi perusahaan untuk mempromosikan kebijakannya kepada semua pemangku kepentingan (karyawan, investor, mitra, dll.).

Integrity Indonesia sebagai perusahaan yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung di bidang kepatuhan memiliki pengalaman luas dalam menyediakan layanan whistleblowing untuk klien dari berbagai latar belakang bisnis.

Melalui Canary Whistleblowing System, Integrity menghadirkan kombinasi beberapa saluran pelaporan yang terpusat pada aplikasi situs web, sehingga meningkatkan aksesibilitas klien kami pada laporan, dengan tetap memastikan anonimitas pelapor. Untuk informasi lebih lanjut tentang Canary Whistleblowing System, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

Putri

Andre_Popov_Shutterstock

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.