5 tips untuk mendorong karyawan melaporkan pelanggaran

Semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya penerapan sistem whistleblowing. Di Indonesia, BUMN wajib mengikuti program Whistleblowing System terintegrasi, yang diharapkan dapat meningkatkan sinergi dan pengawasan penanganan pengaduan dalam upaya pemberantasan korupsi.
Namun, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan penerapan whistleblowing system menjadi sia-sia. Absennya budaya berbasis integritas adalah salah satunya. Agar whistleblowing system dapat bekerja secara efektif, berikut adalah rangkuman solusi terintegrasi berdasarkan riset yang dapat diterapkan oleh organisasi manapun:
1. Ciptakan rasa aman
Dukungan dan budaya organisasi adalah salah satu pendorong pengungkapan terbesar. Alih-alih mengandalkan audit keuangan, pemimpin yang baik membangun hubungan yang baik dengan karyawan, misalnya dengan mengadopsi dialog yang tidak menghakimi. Ini akan membantu membangun kepercayaan diri karyawan untuk menggunakan suara mereka. Contoh lain adalah mengadakan sesi reguler di mana mereka mendorong karyawan untuk mengungkapkan keprihatinan mereka.
2. Alat pelaporan yang mudah diakses
Organisasi perlu berinvestasi dalam memberikan pelatihan bagi karyawannya untuk mengenali tanda-tanda pelanggaran dan memahami mekanisme pelaporan. Ini penting karena sering kali seseorang memperhatikan kejahatan tetapi tidak yakin bagaimana menanggapinya. Selain itu, organisasi juga perlu memastikan bahwa hotline whistleblowing aman di dunia maya, anonim, dan mudah diakses.
[vc_btn title=”Contact Us for Whistleblowing System” color=”danger” size=”lg” align=”center” i_icon_fontawesome=”fa fa-envelope-o” add_icon=”true” link=”url:https%3A%2F%2Fcanary-whistleblowing.com%2Fcontact%2F|title:Contact%20Us||”]
Integrity Indonesia, dengan pengalaman selama dua dekade di bidang kepatuhan, telah dipercaya oleh klien untuk menjadi penyedia whistleblowing system mereka. Canary Whistleblowing System dari Integrity menyediakan platform yang aman dan berdedikasi dengan pilihan tingkat anonimitas untuk Anda. Situs web Canary dilengkapi dengan manajemen kasus yang memberi Anda notifikasi, analisis, dan manajemen pelaporan yang mudah diakses. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.
3. Membingkai pesan dengan citra positif
Selain menekankan konsekuensi finansial, organisasi juga dapat menyertakan pesan yang menarik empati, minat pribadi, dan inklusi. Posisikan ‘keheningan’ sebagai masalah setiap orang untuk mencapai tujuan bersama. Posisikan juga melaporkan pelanggaran sebagai tindakan menunjukkan kasih sayang dan dukungan untuk orang lain.
4. Motivasi dengan kisah keberanian
Organisasi perlu merayakan dan menyoroti kisah karyawan yang dengan berani mengungkap kejahatan. Hal ini dapat mengurangi ketakutan karyawan akan dicap negatif dan sebagai upaya persuasif untuk mendorong karyawan untuk angkat bicara.
5. Berikan insentif non-moneter
Sementara regulator menawarkan insentif uang untuk pelapor—ambil contoh Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia, yang menawarkan maksimum 200 juta rupiah atau sekitar 13.000 dolar AS, disarankan agar organisasi tidak mengikutinya. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana penghargaan moneter dapat menyebabkan masalah yang kompleks daripada memelihara budaya berbasis integritas. Pemimpin perlu menunjukkan rasa terima kasih yang tulus kepada mereka yang membeberkan kesalahan sebagai bentuk penghargaan. Ini akan menciptakan efek bandwagon yaitu efek yang mendorong karyawan lain untuk meningkatkan kepedulian dan melaporkan kejahatan.
Putri
Photo by Dan Dimmock on Unsplash



