4 dari 10 kasus fraud tidak dilaporkan ke penegak hukum

Berdasarkan studi, perusahaan mengalami kerugian sebesar 5% dari pendapatannya akibat fraud. Dengan persentase kerugian tersebut, apa yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pelaku fraud, yang umumnya adalah karyawan mereka sendiri?
Ternyata, tidak semua kasus fraud dilaporkan oleh perusahaan kepada penegak hukum. Sebanyak 4 dari 10 kasus fraud tidak dilaporkan. Ada beberapa alasan yang diungkap oleh perusahaan mengapa mereka tidak melaporkannya.
Di antara alasan-alasan tersebut, terdapat tiga yang sering ditemukan. Pertama, perusahaan meyakini bahwa kejahatan tersebut dapat diatasi dengan tindakan pendisiplinan internal. Kedua, perusahaan menganggap bahwa permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan pelaku membayar ganti rugi. Ketiga adalah kekhawatiran bahwa isu tersebut justru akan merusak reputasi perusahaan.
Buah simalakama penanganan fraud di perusahaan
Dapat dipahami bahwa melindungi reputasi dan mengembalikan kerugian menjadi fokus dalam penyelesaian kasus. Namun, tidak dilaporkannya kasus fraud berpotensi menimbulkan kejadian berulang di kemudian hari, termasuk potensi terjadi di perusahaan lain.
Dalam beberapa kasus, perusahaan bahkan memberikan hukuman yang ringan bagi pelaku, seperti, antara lain, memberhentikan sementara, meminta pelaku untuk mengundurkan diri, dan mendesak pelaku untuk mengganti kerugian.
Di sisi lain, dengan tidak melaporkan kasus tersebut, pelaku dapat keluar dan masuk perusahaan lain tanpa catatan kriminal. Kebebasan ini dapat dimanfaatkan oleh mereka untuk melakukan fraud di perusahaan lain dengan modus yang berbeda.
Pentingnya reference check
Hal ini tentu akan mengurangi tingkat kepercayaan perusahaan terhadap calon karyawan dan menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan rekrutmen. CV kandidat mungkin terlihat menarik, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kandidat tersebut pernah melakukan fraud di perusahaan sebelumnya.
Oleh karenanya, perusahaan perlu melakukan employment background screening. Di dalam proses tersebut, dilakukan berbagai macam pengecekan, antara lain pengecekan dokumen pendidikan, credit check, criminal check, riwayat karir, termasuk reference check.
Reference check bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kandidat dengan mewawancarai referensi yaitu atasan dan/atau kolega di perusahaan tempat kandidat bekerja sebelumnya. Informasi yang digali berupa keterampilan, kualifikasi, dan perilaku kandidat saat masih bekerja di perusahaan tersebut.
Dari reference check juga dapat diperoleh informasi mengenai apakah kandidat pernah melakukan fraud atau pelanggaran lainnya sebelumnya, yang mana tidak akan terverifikasi dari catatan kriminal apabila perbuatan fraud kandidat tidak pernah dilaporkan kepada penegak hukum.
Integrity Asia telah dipercaya oleh klien kami dari berbagai latar belakang bisnis selama lebih dari dua dekade untuk melakukan employment background screening dan menyediakan laporan analisis yang komprehensif. Dengan memiliki informasi vital kandidat, perusahaan Anda akan lebih siap membuat keputusan yang tepat dalam mempekerjakannya.
Untuk informasi lebih detail tentang employment background screening dan layanan kepatuhan lainnya, kontak kami hari ini.



