Mengapa Organisasi Nonprofit Rentan Risiko Fraud?

 In Artikel

Risiko fraud merupakan masalah serius bagi semua perusahaan maupun organisasi, tak terkecuali bagi organisasi nirlaba atau nonprofit. Data dari Report to The Nation 2020 menunjukkan bahwa kasus fraud yang tercatat sebanyak 191 kasus dengan kasus korupsi menempati posisi pertama sebanyak 40% dan disusul oleh kasus billing serta kasus penggantian biaya.

Kerugian organisasi nonprofit yang ditaksir memiliki rata-rata terkecil sebanyak $75.000 hingga rata-rata terbesar sebanyak $639.000. Kerugian yang ditimbulkan memang tidak sebesar organisasi atau perusahaan komersil, tetapi jumlah tersebut sudah cukup membuat organisasi nonprofit mengalami kolaps karena sumber daya keuangan yang terbatas.

Diluar kerugian finansial, organisasi nonprofit memiliki dampak potensi fraud yang lebih besar, yaitu reputasi. Karena sebagian besar organisasi nonprofit bergantung pada dukungan dari pendonor, pemberi hibah, atau sumber-sumber dana lainnya, maka reputasi menjadi aset penting bagi organisasi nonprofit agar mereka mau memberikan dana untuk menjalankan organisasi.

Kelemahan dalam organisasi 

Beberapa kelemahan dalam organisasi nonprofit menyebabkan organisasi nonprofit rentan terhadap risiko fraud. Kontrol internal adalah faktor penyebab utama yang disebutkan dalam laporan tersebut. Beberapa organisasi nonprofit memiliki sumber daya karyawan yang terbatas karena kebanyakan organisasi menerima karyawan dari minat maupun visi organisasi yang sejalan. Alhasil, kontrol internal dijalankan oleh karyawan yang bukan merupakan bidang mereka serta tidak berpengalaman. 

Langkah penting untuk mengendalikan risiko fraud pada organisasi nonprofit adalah dengan menerapkan sistem kontrol internal dan pengawasan yang kuat, untuk mendeteksi kemungkinan adanya fraud dalam organisasi dan bahkan bisa mencegah fraud di masa mendatang.

Metode paling efektif untuk mendeteksi fraud

Sistem whistleblowing sebagai bagian dari kontrol internal merupakan metode deteksi dini fraud yang perlu diterapkan oleh perusahaan nonprofit. Mengapa? laporan tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 40% kasus fraud yang ditemukan dalam organisasi nonprofit terdeteksi melalui laporan. Dengan kata lain, laporan adalah metode deteksi paling efektif. 

Sistem whistleblowing mengharuskan perusahaan untuk meningkatkan kesadaran di antara para pemangku kepentingan mereka untuk mengenali karakteristik dan tanda-tanda fraud, serta betapa pentingnya bagi para pemangku kepentingan untuk mengambil bagian untuk mengurangi risiko dengan melaporkan temuan mereka.

Integrity Indonesia sebagai perusahaan yang telah lebih dari tujuh belas tahun bekerja pada bidang kepatuhan memiliki pengalaman luas dalam menyediakan layanan whistleblowing untuk klien dari berbagai latar belakang bisnis. Melalui Canary Whistleblowing System, Integrity menghadirkan kombinasi beberapa saluran pelaporan yang terpusat pada aplikasi situs web sehingga meningkatkan aksesibilitas klien kami ke laporan, sambil tetap memastikan anonimitas pelapor. Untuk informasi lebih lanjut tentang Canary Whistelsblowing System jangan ragu untukmenghubungi kami.

 

 

 

Ditulis oleh: Aqilla N

Photo by Kat Yukawa on Unsplash

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search