3 Tren Background Screening 2020

 In Artikel

Tahun 2020 bisa dikatakan sebagai tahun di mana teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan otomatisasi membentuk perubahan dalam industri Human Resource. Perubahan-perubahan dalam industri HR termasuk dalam hal bagaimana perusahaan merekrut karyawan dan mengelola data karyawan. Tentunya perubahan-perubahan tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi perusahaan background screening dalam menyediakan jasa bisnisnya.

 

Screening dalam satu platform

Menurut Business Development Manager Integrity regional Thailand, Khwanthip Sooksung, HR bukan lagi manajemen konservatif karena mulai beralih ke penggunaan AI. Industri HR kini menetapkan prioritas akan pentingnya HR Management System & Technology. Menurut keterangannya, tren tersebut menjadi fokus dan banyak di bicarakan dalam event HR di Asia dan global.

Manajemen rekruitmen, data kandidat, screening, onboarding, data karyawan, absen, cuti, klaim, gaji, performa, pengembangan, manajemen talenta, dan lain-lainnya berada dalam satu platform mobile. Semua data yang digunakan oleh HR untuk analisa dan penilaian berada dalam aplikasi. Cloud Tech, APIs Platform dan App Store digunakan secara luar oleh para pemain di industri HR.

“Perubahan ini mendorong perusahaan screening mengembangkan aplikasi screening online. Sementara mereka juga dituntut fleksibel dan mampu berintegrasi dengan HR management/mitra untuk merespon perubahan ini,” jelas Sooksung.

Integrasi API memungkinkan modul screening dengan mudah ditambahkan atau diintegrasikan ke dalam penggunaan HR information System.

 

Personal background screening

Pada dasarnya gig economy ditandai dengan meningkatnya pekerja freelancers pada level global. Berdasarkan data Freelancing in America 2019, sebanyak tiga puluh tiga persen atau 57 juta jiwa warga Amerika Serikat bekerja freelance. Angka tersebut merupakan peningkatan dibanding tahun 2018 yaitu sebanyak 56.7 juta jiwa. Sribulancer, platform jasa yang menjembatani antara perusahaan dengan para pekerja lepas, merilis riset yang menyatakan angka pekerja lepas di Indonesia tahun 2019 meningkat enam belas persen dibanding tahun 2018.

Selain akan menjadi hal yang lumrah, pekerja lepas juga membawa berbagai risiko. Kabar baiknya, risiko-risiko tersebut bisa dicegah melalui screening.

“Saya melihat umumnya perusahaan yang bereputasi lebih ketat dalam hal keamanan atau kebijakan manajemen risiko ketika mereka mempekerjakan pekerja lepas, vendor atau pihak ketiga. Mereka menetapkan persyaratan screening sebagai salah satunya,” jelas Sooksung.

Screening terhadap kandidat pekerja tetap dan pekerja lepas berbeda setidaknya dalam hal akurasi dan kecepatan. Dua tantangan tersebut menciptakan inovasi dan tren yang disebut personal background screening yaitu kandidat pekerja lepas melakukan self-screening menggunakan aplikasi screening online yang kini mulai banyak ditawarkan oleh perusahaan screening. Hasil self screening kandidat pekerja lepas menjadi persyaratan jaminan keamanan bagi perusahaan yang merekrutnya.

“Saya rasa ini menjadi peluang dan akan lebih banyak lagi permintaan dalam wilayah self screening,” tambahnya.

 

Continous background screening

Setelah kandidat karyawan melalui background screening dan memenuhi persyaratan, bukan berarti perusahaan bebas dari risiko. Data-data karyawan bisa saja berubah seiring waktu, seperti KTP, SIM, dan catatan kriminal. Continues background screening pada dasarnya adalah konsep teknologi real-time monitoring terhadap catatan karyawan untuk mendeteksi adanya ancaman risiko internal. Perusahaan online ride hailing seperti Uber dan Lafyt sudah menggunakan teknologi semacam itu terhadap para pengemudi demi keamanan para penumpang.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search