83% Perusahaan Diserang Phishing, Ini Penyebabnya

 In Artikel

Di antara sekian banyak kasus cybercrime, kasus dengan modus phishing paling banyak diperbincangkan. Pada dasarnya phishing merupakan metode penipuan klasik dengan cara memancing korban untuk memberikan informasi kredensial; nama, alamat, nomor telepon, email, kode OTP, akses ke sistem IT perusahaan, dan data kredensial lainnya. Dengan kecanggihan teknologi masa kini, phishing makin merajalela.

Apabila informasi-informasi semacam itu bisa didapatkan, pelaku bisa mengambil alih akun, melakukan transaksi keuangan, mencuri uang, mengajukan pinjaman utang dan tindakan lain yang merugikan pemilik identitas.

 

Manusia titik terlemah dalam sistem keamanan

Phishing tak hanya bisa terjadi pada perorangan, tapi juga sebuah perusahaan di mana manusia – dalam hal ini karyawan – menjadi faktor kerentanan dalam sebuah sistem keamanan perusahaan. Karyawan bisa saja menerima sebuah email asing dan tergoda mengklik tautan di dalamnya yang ternyata membawa malware. Melalui malware tersebut pelaku mendapatkan akses ke perangkat karyawan dan mencuri data kredensial perusahaan. Faktanya, menurut Global Infosecurity sebanyak 83% responden perusahaan mengalami serangan phishing pada tahun 2018. Perusahaan yang menjadi korban phishing tentu mengalami kerugian finansial dan reputasi.

Baca Juga: Richard Branson: Fraudsters Impersonating Me in Attempts to Take Your Personal Information

 

Apabila perusahaan diserang phishing…

Upaya mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Namun, ada kalanya perusahaan harus menghadapi kenyataan terkena serangan phishing. Apa yang harus dilakukan? Tentunya investigasi perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana serangan phishing terjadi sehingga perusahaan bisa melakukan pencegahan yang lebih baik ke depannya.

Menginvestigasi sebuah kejahatan penipuan cybercrime membutuhkan sumberdaya, tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Tantangan dalam sebuah investigasi cybercrime adalah kemungkinan korban, pelaku, dan saksi berada di yurisdiksi yang berbeda. Namun, kasus semacam ini bisa dipecahkan dengan baik apabila investigator menggunakan kombinasi riset internet, perangkat investigasi konvensional dan bekerjasama dengan penegak hukum di yurisdiksi yang berbeda. Perusahaan amat disarankan untuk bekerja sama dengan pihak ketiga penyedia jasa investigasi yang berpengalaman dan profesional untuk menangani kasus semacam ini.

Integrity sudah dipercaya oleh klien sebagai perusahaan penyedia jasa mitigasi risiko dan bisnis investigasi – termasuk audit dan investigasi fraud, investigasi pencurian, pelacakan aset, skip tracing, dan dukungan litigasi. Para analis kami bersertifikat dan investigator kami adalah para personel yang dibekali keterampilan dan pengalaman dalam melakukan investigasi bisnis. Untuk informasi lebih lanjut tentang investigasi bisnis, jangan ragu untuk menghubungi kami.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search