Teladan Buruk Datangkan Bencana Bagi Toshiba

 In Artikel

Sudahkah perusahaan Anda menerapkan internal kontrol yang layak? Internal kontrol erat kaitannya dengan peluang terjadinya fraud di sebuah perusahaan. Menurut hasil survei yang dirilis oleh ACFE, sebanyak sepertiga dari kasus fraud disebabkan oleh kontrol internal yang tidak efektif.

Baca Juga: Cegah Fraud, 7 Kontrol Internal Ini Bisa Diterapkan Pada Bisnis Kecil

Memiliki kontrol internal saja tidak cukup. Agar berfungsi secara efektif kontrol internal membutuhkan dukungan dari semua stakeholder. Para eksekutif perlu memberikan ‘tone from the top’ positif kepada para karyawannya. ‘Tone from the top’ bisa diartikan sebagai keteladanan.

Kontrol internal dan keteladanan para atasan dianalogikan seperti sebuah kendaraan dan bahan bakar. Memiliki kontrol internal saja tidak cukup, perusahaan memerlukan keteladanan agar kontrol internal dapat berjalan sesuai fungsinya dalam meminimalkan peluang fraud. Kontrol internal dan keteladanan bisa dianalogikan sebagai sebuah mobil dan bensin. Tanpa keteladanan yang positif, sangat mungkin kontrol internal tidak berfungsi secara efektif.

Kita bisa mengambil pelajaran pentingnya kontrol internal dan keteladanan dari contoh kasus Toshiba pada tahun 2015. Walaupun Toshiba sudah memiliki kontrol internal di perusahaannya, namun keteladanan yang negatif membawa bencana bagi konglomerat ini.

 

Keteladanan yang buruk

Peluang kecurangan mulai muncul saat para eksekutif di Toshiba menetapkan target profit yang tidak realistis. Selain itu, Toshiba menerapkan kultur ‘kesalahan tidak dapat ditolerir’ sehingga para kepala divisi mencari cara untuk mencapai target yaitu dengan menyembunyikan data dengan teknik akunting. Selain kultur seperti itu, Toshiba juga menerapkan hierarki jabatan yang kuat di mana anak buah harus patuh terhadap kepada para atasannya. Masalahnya, para atasan tidak memberikan tauladan yang baik dalam praktik kontrol internal.

Berdasarkan laporan dari Special Investigation Committee yang dirilis pada Juli 2015, ditemukan adanya beberapa penyimpangan yang mengejutkan dilakukan oleh Toshiba. Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa teladan etika yang buruk sebagai akar dari penyimpangan-penyimpangan tersebut.

 

Kontrol internal ‘mandul’

Miskin teladan baik membuat para stakeholder tidak menerapkan kontrol internal seperti seharusnya. Tata kelola Toshiba terbukti lemah dengan fungsi sistem kontrol internal yang buruk di setiap level eksekutif Toshiba. Hasil investigasi juga melaporkan masalah-masalah internal kontrol di seluruh aspek divisi keuangan, audit, dan manajemen risiko mengakibatkan kegagalan dalam mengidentifikasi dan mencegah perilaku yang menyimpang dari etika profesional. Kontrol internal yang ‘mandul’ tersebut membuka pintu terjadinya fraud.

Akibat skandal kecurangan ini, selain harga sahamnya anjlok secara signifikan, Toshiba juga mengalami kerugian laba mencapai 995 milyar yen. Tahun-tahun setelah terungkapnya skandal, Toshiba masih terus berjuang memperbaiki etika perusahaannya. Perusahaan berusia lebih dari 140 tahun ini menyadari bahwa skandal ini begitu memalukan dan untuk kembali berdiri tegak serta mendapatkan kembali kepercayaan pasar bukanlah sebuah pekerjaan rumah yang bisa diselesaikan dalam semalam.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search