3 Pelajaran Dari Cara Starbucks Lindungi Mereknya di Tiongkok

 In Artikel

Tiongkok menjadi rumah bagi hampir 19% dari populasi dunia, maka tak heran negara Tirai Bambu ini menjadi target pasar prospektif bagi bisnis di seluruh dunia. Di balik potensi pasar yang besar, Tiongkok juga terkenal sebagai sumber dari 70% barang palsu atau bajakan di dunia dan banyak perusahaan Amerika Serikat yang mengklaim kerugian hingga 250 miliar dolar per tahun karena pemalsuan.

Starbuck, waralaba kopi asal Amerika Serikat yang mulai merambah pasar Tiongkok sejak pertengahan tahun lalu tak luput menjadi korban pemalsuan. Batur Oktay, pemimpin komite IP Starbuck melihat terjadinya lonjakan pemalsuan merek Starbuck sejak memasuki pasar Tiongkok.

Seperti dikutip dariWorldtrademarkreview, ia mengungkapkan bahwa jika lima tahun lalu ia menemukan penggunaan logo Starbuck secara ilegal pada produk-produk seperti t-shirt, mug, dancasingponsel, kini ia mulai banyak menemukan produk makanan dan minuman, bahkan kafe berlogo menyerupai Starbuck di Tiongkok.

Bagaimana upaya Starbuck dalam melindungi mereknya di tengah-tengah ekosistem pasar barang palsu terbesar di dunia?

 

1. Pendekatan dengan berbagai institusi pemerintah

Oktay menekankan pentingnya pendekatan dengan berbagai institusi baik di tingkat daerah maupun di pusat. Pihak berwenang di tingkat daerah menurutnya sudah memberikan dukungan pada timnya dalam upaya menertibkan masalah penyalahgunaan merek dagang. Namun, diperlukan pihak berwenang dan berbagai departemen pemerintah dari tingkat provinsi dalam penegakannya. Pendekatan anti-pemalsuan multi tingkat seperti ini menurutnya amat diperlukan.

 

2. Nada penegakan hukum yang bersahabat

Starbuck menyadari bahwa terkadang para pelaku pemalsuan melakukan tindakan tersebut karena tidak memahami regulasi perlindungan IP atau bahkan tak mengetahui bahwa logo yang mereka pakai melanggar hak cipta Starbuck. Apabila dalam investigasi ditemukan tidak ada intensi buruk dari para pelaku, katakanlah sengaja ingin menghancurkan merek Starbuck, maka Starbuck lebih memilih cara penegakan hukum yang lebih ramah dan efisien.

Oktay mengungkapkan bahwa cara yang ramah ini cukup berhasil. Sebanyak 9 dari 10 pelaku cenderung memahami dan beritikad baik setelah tim menegur dan memberikan edukasi pada mereka.

 

3. Tetap terhubung dengan bisnis

Menuntut para pelanggar merek menjadi tantangan besar pula bagi tim Oktay lantaran banyaknya merek di bawah naungan Starbucks. Ia dan tim harus melihat berbagai peluang, contohnya apakah sebuah merek berpotensi untuk berekspansi ke klasifikasi yang baru. Starbuck Tiongkok bekerjasama dengan merek roti Italia, Princi. Awalnya, roti-roti tersebut dijual di gerai-gerai Starbucks, tapi Starbucks kini mulai membuka gerai Princi tersendiri.

Artinya, pengetahuan dan hubungan dekat dengan bisnis Starbucks itu sendiri penting bagi tim IP. Oleh karena itu, mereka kerap turut serta dalam meeting marketing dan produk. Dengan mengetahui rencana perusahaan terhadap pengembangan produk, tim IP bisa membuat rencana tentang perlindungan merek yang sesuai.

 

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search