75% Perusahaan Alami Bad Hires, Apa Saja Penyebabnya?

 In Artikel

Mencari kandidat yang tepat untuk sebuah posisi selalu menjadi tantangan bagi departemen HR. Kurangnya tenaga kerja berkualitas, ditambah ‘talent war’membuat tantangan rekrutmen berlipat ganda.

Menurut hasil survei CareerBuilder, 75% perusahaan mengakui mereka merekrut kandidat yang salah (bad hires). Bad hires menyebabkan perusahaan mengalami kerugian.

Apa saja penyebab kesalahan dalam rekrutmen?

 

1. Kurang informasi seputar kandidat

Langkah awal yang salah adalah tak melakukan skrining terhadap kandidat atau kurang mendapatkan informasi mengenai latar belakang kandidat. Pre-employment screening sangat penting agar perusahaan dapat memvalidasi informasi yang tertera pada CV kandidat beserta latar belakangnya. Proses pada tahap ini memang merupakan sebuah investasi yang tak sedikit, namun apabila tahap ini dilewatkan, risiko kerugian yang lebih besar menanti di masa yang akan datang.

 

2. Terburu-buru

Kerap kali perusahaan asal merekrut kandidat karena sedikitnya pelamar dan sulitnya mendapatkan kandidat yang sesuai kualifikasi. Perusahaan cenderung berpikir bahwa lebih baik posisi tersebut diisi oleh seseorang meskipun tak sesuai kualifikasi daripada dibiarkan kosong terlalu lama. Kesalahan inilah peyumbang turnover rate yang tinggi.

Hasil survei yang dilakukan oleh CareerBuilder menunjukkan 2 dari 3 kandidat menerima tawaran posisi tersebut dan kemudian menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak tepat bagi mereka dan mengundurkan diri dalam enam bulan.

 

3. Tak punya pendekatan strategis

Untuk mengurangi biaya akibat salah merekrut, perusahaan perlu memiliki strategi dalam rekrutmen, termasuk dalam sesi wawancara dengan kandidat. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Brandon-Hall Research, 69% perusahaan merasakan proses wawancara memberikan dampak terbesar terhadap kualitas perekrutan.

Masih menurut hasil survei yang sama, 60% perusahaan yang menggunakan standardisasi dalam mewawancarai kandidat memiliki strategi rekrutmen yang sejalan dengan tujuan bisnis.

 

4. Brand perusahaan lemah

Menurut Sajid H Shah, CEO JobsMarkt, dalam wawancara dengan HRTechnologist mengatakan bahwa brand sangat membantu perusahaan dalam merekrut dan meretensi karyawan di tengah ketatnya persaingan. Sebuah perusahaan dengan reputasi brand positif menghemat lebih banyak upaya dan biaya dalam rekrutmen, membutuhkan waktu sedikit untuk mengisi kekosongan posisi dan cenderung menarik high-profile candidate. Apabila brand perusahaan lemah, maka yang terjadi adalah sebaliknya.

 

5. Kurang berinvestasi dalam proses onboarding

Setelah tahap skrining dan wawancara, tahap onboarding tak kalah penting. Pada tahap inilah perusahan memperkenalkan diri dan kulturnya pada karyawan baru. Namun tahap ini tak sekadar memberikan perkenalan dan daftar pekerjaan.

Bimbingan, peralatan kerja yang memadai, dan program sosial yang membantu karyawan baru menjalin networkdi lingkungan kerja memberikan pengaruh terhadap keputusan karyawan untuk tetap tinggal atau mengundurkan diri setelah masa percobaaan. Perusahaan yang tak mengimplementasikan proses onboarding dengan tepat dan konsisten akan menemukan karyawan barunya tak menunjukkan performa dan tak menemukan engagement hingga pada akhirnya memutuskan berhenti.

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search