Cyber-laundering, Wajah Baru Pencucian Uang di Era Digital

 In Artikel

Kehadiran internet membawa kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, tak terkecuali bagi para pelaku pencucian uang. Oleh karena itu kemudian muncul istilah cyberlaunderingyang definisi sederhananya adalah praktik pencucian uang yang dilakukan di dunia maya yaitu melalui transaksi online. Pada prinsipnya cyberlaundering sama dengan praktik pencucian uang konvensional yang terdiri dari tiga tahap:

  1. Placement, menempatkan uang kotor ke dalam sistem keuangan yang legal.
  2. Layering, memindahkah atau mengubah bentuk uang melalui transaksi yang kompleks untuk mengaburkan asal dana.
  3. Integration, mengembalikan uang yang sudah dicuci hingga bisa digunakan dengan aman.

Hanya saja transaksi online menawarkan jangkauan yang luas, kecepatan, kemudahan, dan biaya yang murah bagi para pelaku pencucian uang. Di sudut belahan dunia manapun, selama ada akses internet, para pelaku pencucian uang bisa melancarkan aksinya.

 

Modus pencucian uang dengan transaksi online

  1. E-Commerce

Para pelaku bisa memanfaatkan e-commerce sebagai mesin cuci uang kotor mereka melalui prosesor pembayaran yang sah. Contohnya, tahun lalu ada dugaan seorang anggota ISIS di AS memindahkan uang kotor mereka dengan modus menjual komputer di eBay. Pelaku tersebut menerima pembayaran transaksi dari luar negeri melalui akun PayPal.

Para pencuri kartu kredit juga memanfaatkan e-commerce sebagai mesin cuci. Para pelaku memanfaatkan layanan Airbnb untuk mencuci uang kotor yang mereka dapatkan dari kartu kredit dengan bantuan dari pemiliki akun sekaligus para pemilik rumah (host). Para pelaku memesan kamar dari host dan membayarnya dengan kartu kredit. Nantinya, host akan mengembalikan uang hasil pembayaran tersebut pada pelaku.

  1. Mata uang digital

Mencuci uang ilegal dengan mata uang digital atau kriptokurensi lebih kompleks dibanding cara konvensional, namun para pelaku bisa mendapatkan privasi yang jauh lebih baik untuk mengaburkan sumber uang tersebut agar tak terendus oleh aparat.

Ada dua cara pelaku menempatkan uang kotor ke dalam sistem kriptokurensi yaitu menukarkan uang fiat dengan kriptokurensi di exchange digital (CoinBase, Bitstamp, Kraken dan lainnya yang menerima mata uang fiat) melalui akun bank atau menukarkannya melalui ATM Bitcoin dengan debit atau kartu kredit. Umumnya, membeli di exchange digital lebih disukai oleh para pelaku karena ATM Bitcoin biasanya menerapkan sistem Anti-Money Laundering (AML). Dalam praktiknya, para pelaku membayar perantara yang memiliki track record bersih untuk verifikasi saat pembukaan akun di exchange digital.

Kriptokurensi yang dibeli melalui exchange digital hanya mata uang utama yaitu Bitcoin, Ethereum atau Litecoin. Namun, mata uang utama menerapkan sistem blockchain yang menyimpan jejak audit transaksi. Untuk mengaburkan jejak audit dan mendapatkan privasi dalam bertransaksi, para pelaku melakukan sejumlah ‘layering’ yaitu dengan menukarkan mata uang utama dengan altcoin (alternative coin) dan menggunakan ‘coin mixer’. Mata uang yang disimpan dalam bentuk kriptokurensi ini nantinya bisa dicairkan kembali dalam bentuk fiat di mana pun dan kapanpun.

  1. Online game

Siapa sangka game online bisa dijadikan modus praktik pencucian uang. Sony Online Entertainment beberapa tahun lalu menemukan salah satu penggunanya memindahkan uang dalam jumlah besar dari akun di AS ke akun di Rusia melalui online game dengan modus membeli beberapa virtual item yang langka dan sulit didapatkan para pengguna.

  1. Crowdfunding

Situs crowdfunding mudah diakses, mudah digunakan dan cenderung masih belum menerapkan sistem anti kecurangan dan AML, menjadikannya sebagai tempat yang ideal untuk mencuci uang bagi para pelaku. Contohnya, seorang pelaku bisa saja membuat kampanye fiktif dan ‘menyumbangkan’ uang hasil kejahatannya untuk kampanye tersebut. Lalu, menguangkannya kembali. Tentu bank akan mencatat uang tersebut legal karena berasal dari situs crowdfunding.

 

Solusi digital

Teknologi digital membuka peluang bagi para pelaku kejahatan finansial melancarkan aksinya, namun teknologi juga menawarkan solusi mengatasinya. Kecerdasan buatan menjadi ujung tombak dalam memberantas kejahatan finansial di era digital, termasuk pencucian uang. Solusi AML (Anti-Money Laundering) berbasis kecerdasan buatan membantu para analis dengan mengotomatisasi proses pencarian, pemetaan dan menghubungkan aktivitas perusahaan atau individu yang telah ditandai sebagai melakukan aktivitas kecurangan.

 

 

Sumber:

https://www.casewareanalytics.com/blog/crowdfunding-new-cover-money-laundering

https://www.navigant.com/-/media/www/site/insights/disputes-investigations/2014/real-world-risk-in-virtual-world-gaming.pdf

http://evercompliant.com/brief-history-money-laundering/

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search