Rekrutmen: 5 Kesalahan Umum dalam Screening Karyawan

 In Artikel

Employee screening atau screening karyawan menjadi bagian penting dalam proses rekrutmen. Banyak perusahaan yang sudah melakukan screening karyawan demi menjaga brand, klien, dan perusahaan itu sendiri. Namun, ternyata dalam prosesnya masih terjadi kesalahan-kesalahan umum yang berpotensi membuat profesional HR salah mengambil keputusan. Apa sajakah kesalahan-kesalahan tersebut?

 

1. Tak punya kebijakan screening karyawan

Profesional HR sebuah perusahaan mungkin melakukan background check, tapi belum tentu mereka melakukannya dengan konsisten. Oleh karena itu, perlu adanya standard kebijakan tertulis untuk memastikan bahwa proses tersebut dilakukan secara konsisten dan data digunakan sesuai dengan kepatuhan perusahaan, industri dan peraturan pemerintah.

 

2. Menggunakan media sosial sebagai satu-satunya sumber

Media sosial memang bisa menjadi sumber informasi latar belakang kandidat. Tapi, hanya mengandalkan media sosial sebagai satu-satunya sumber penilaian adalah sebuah kesalahan karena informasi yang didapat bisa jadi tak utuh atau tak berimbang yang berimbas pada penilaian yang keliru.

 

3. Tak melakukan background screening pada vendor, kontraktor dan pekerja tak tetap

Dalam screening karyawan, background screening menjadi tahap yang penting. Hanya karena seorang kandidat akan dipekerjakan sebagai pekerja tak tetap, bukan berarti ia bisa melewatkan begitu saja tahap ini. Setiap orang yang memiliki akses terhadap tempat bekerja berkontribusi terhadap potensi kerentanan perusahaan sehingga harus melalui tahap screening, termasuk pekerja tak tetap. Standardisasi background screening terhadap vendor, kontraktor dan pekerja tak tetap harus masuk dalam kebijakan perusahaan.

 

4. Tak melakukan background screening terhadap pengalaman kerja dan pendidikan

Terkadang keinginan untuk ‘mengamankan’ kandidat yang terlihat baik dari resume membuat perusahaan terburu-buru mengambil keputusan hingga melewatkan bagian yang penting. Padahal menurut data survei dari CareerBuilder, 58% manajer perekrutan mengatakan mereka menemukan kebohongan pada resume pelamar.

Penting untuk meverifikasi pengalaman kerja dan pendidikan pelamar. Meskipun untuk bidang pekerjaan tertentu mungkin pendidikan tak terlalu signifikan terhadap kesuksesan kandidat, namun jika ditemukan adanya ketidaksesuaian yang disengaja antara poin tertulis di resume dengan fakta lapangan itu menandakan bisa jadi ada masalah pada karakter kandidat.

 

5. Tak meminta izin kandidat

Setiap prosedur background screening sebaiknya meminta persetujuan kandidat agar kandidat tahu akan dilakukan prosedur tersebut dan karena ada beberapa institusi yang membutuhkan persetujuan dari kandidat untuk dapat menyediakan informasi saat dilakukan background screening oleh perusahaan.

 

 

Sumber:

http://globalverificationnetwork.com/press-room/8-common-mistakes-made-when-conducting-background-check-employee

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search