Bagaimana Mengklaim Merek Dagang yang Sudah Terdaftar?

 In Artikel

Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi di Asia Tenggara. Salah satu yang menjadi perhatian para investor dan pebisnis lokal dalam melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia adalah aturan merek dagang yang kerap masih menjadi polemik.

Salah satu kasus sengketa merek dagang terakhir yang sempat menghebohkan adalah kasus merek dagang IKE pada 2016. Kasus ini bermula pada tahun 2013 ketika PT Ratania Khatulistiwa mengajukan gugatan karena menilai pihak Inter IKEA System BV tak berhak menggunakan merek ‘IKEA’ untuk kelas barang 20 dan 21 dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia. Ratania mengklaim pihaknya lebih dulu mendaftarkan merek dagang ‘IKEA’ yang merupakan singkatan dari Intan Khatulistiwa Esa Abadi.

Prinsip dasar yang perlu diketahui tentang pendaftaran merek di Indonesia adalah: hak ekslusif atas merek hanya diberikan setelah merek terdaftar yang menganut prinsip first-to-file atau perusahaan/perorangan yang pertama mendaftarkan sebuah mereklah yang berhak mendapatkan hak ekslusif merek tersebut. Ada banyak merek dagang yang diajukan untuk pendaftaran, tapi sudah ada merek dagang serupa atau sama yang sudah lebih dulu terdaftar. Meskipun begitu, merek-merek terdaftar tersebut belum tentu beredar di pasaran (non-use).

Terdaftarnya sebuah merek bisa saja dibatalkan jika merek tersebut tak digunakan selama tiga tahun berturut-turut dalam perdagangan barang dan/atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian. Caranya, sesuai pasal 74 ayat (1) UU Merek, pihak ketiga yang berkepentingan bisa mengajukan gugatan ke pengadilan niaga. Dalam kasus IKEA, merek IKEA sudah didaftarkan sejak tahun 2006 dan 2010. Namun pada tahun 2013 ketika Ratania mendaftarkan merek IKEA untuk perusahaannya, ritel IKEA belum beroperasi di Indonesia.

Jika ternyata merek terdaftar belum beredar di pasar selama jangka waktu tiga tahun, pihak ketiga yang ingin mendaftarkan merek tersebut bisa mengajukan gugatan pembatalan merek terdaftar tersebut dengan syarat-syarat, salah satunya adalah adanya bukti tidak digunakannya merek dagang tergugat di pasar.

Oleh karena itu, investigasi perlu dilakukan untuk memastikannya. Investigasi tersebut bisa dilakukan sendiri oleh pihak penggugat, namun hal itu akan menghabiskan banyak waktu. Maka, pihak penggugat sangat disarankan untuk menggunakan jasa investigator yang terpercaya dan berpengalaman.

Investigator akan memulai investigasi dengan memeriksa database Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan  Hak Asasi Manusia RI (DJKI) untuk mengetahui pihak yang mendaftarkan merek. Dari pemeriksaaan awal tersebut, dapat diketahui nama pendaftar, alamat, klasifikasi produk, logo merek, tanggal pendaftaran dan tanggal kadaluwarsa merek terdaftar. Dari informasi awal tersebut akan dilakukan pemeriksaan mendalam, baik melalui investigasi lapangan maupun media search.

Investigasi lapangan biasanya dilakukan di kota-kota besar di Indonesia tergantung kebutuhan ekspansi klien dan fokus terhadap ritel-ritel. Hasil investigasi, termasuk bukti, akan dilaporkan dalam bentuk pernyataan bertanda tangan dari pihak ritel. Surat pernyataan inilah yang nantinya akan diserahkan sebagai bukti untuk menggugat pembatalan merek di pengadilan niaga.

 

 

Source:

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160212131924-92-110555/ikea-klaim-telah-daftarkan-ulang-merek-dagang

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search