90% Bisnis Merugi Akibat Barang Palsu Online, 3 Langkah Lindungi Brand di Era Digital

 In Artikel

Teknologi membuka peluang bagi pemalsuan barang. Akibatnya, beberapa kali kita mendapati berita terkait pelanggan e-commerce besar yang komplain lantaran merasa tertipu membeli barang palsu.Tak jarang salah satu pemilik akun ataubrandmelayangkan gugatan lantaran propertibrand –  contohnya, foto dipakai tanpa izin oleh pihak lain.Itu hanya sebagian kecil dari realita sebuahbrand atau entitas bisnis yang berupaya melindungibrand dan konsumennya di tengah hiruk pikuk pembajakan di era digital.

Berdasarkan laporan MarkMonitor, sebanyak 90% bisnis mengalami kerugian lebih dari 10% karena penjualan barang palsu secara online. Menurut Special 301 Report, Office of the United States Trade Representative, Volume pembajakan di dunia digital tak lama lagi akan melebihi volume pembajakan offline dan pasar fisik sejenis. Teknologi menawarkan banyak peluang positif, tapi juga menghadirkan tantangan baru dalam upayabrand protection.

 

1. Edukasi konsumen dan seller

Konsumen adalah sekutu penting bagi brand dalam memerangi barang palsu. Berikan edukasi pada konsumen terkaitproduct knowledgedan risiko membeli dari sumber yang tak jelas. Mengedukasi seller sama pentingnya. Berikan edukasi terkait risiko-risiko menjual barang palsu. Sediakan kanal pengaduan dan ajak konsumen serta seller untuk berpartisipasi melapor apabila menemukan seller yang mencurigakan menjual barang palsu.

 

2. Berkolaborasi

Perang terhadap pemalsuan bukanlah medan perang bagi satu entitas.It takes two to tango.Bisnis perlu berkolaborasi secara vertikal dan horizontal di rantai pasok. Tak hanya memberikan edukasi terhadap konsumen dan seller, bisnis juga perlu mendorong mereka untuk berpatisipasi melapor apabila mencurigai adanya penjualan barang palsu. Oleh karena itu, penting pula bagi perusahaan menyediakan kanal pelaporan. Raksasa e-Commerce asal Tiongkok, Alibaba, bisa menjadi role model dalam hal kolaborasi horizontal dengan membentuk Alibaba Group Anti-Counterfeiting Alliance (AACA) dengan lebih dari 20 merek internasional, termasuk Louis Vuitton. Hasilnya? Penurunan persentase pengembalian dana karena kecurigaan pembeli membeli barang palsu.

 

3. The power of data

Tak cukup hanya mengatasi para seller yang menjual barang palsu atau menggunakan atribut brand tanpa izin. Melakukan penegakan hukum hingga ke akar untuk membasmi pemalsuan diperlukan. Investigasi fisik, penyerbuan dan penutupan pabrik barang palsu dan kegiatan serupa diperlukan dan dapat dilakukan secara efisien dalam hal biaya, usaha dan waktu dengan memanfaatkan data online. Dari data online, bisnis dan otoritas dapat melacak jejak digital pemalsu dan merancang penyelidikan fisik yang efektif.

Sumber:

http://wwd.com/business-news/business-features/think-tank-ip-protection-alibaba-10969930/

https://cdn.frankwatching.com/app/uploads/2015/02/MarkMonitor-WP-Brand_Protection_in_the_Digital_World.pdf

https://www.socialmedialawbulletin.com/2017/07/battle-copyright-protection-digital-era/

https://www.retailtouchpoints.com/topics/e-commerce/90-of-online-businesses-experience-revenue-losses-due-to-counterfeit-sales

 

 

Recent Posts

Start typing and press Enter to search