Whistleblowing System dan Transformasi Integritas

Putri Pertiwi
December 3, 2025
4 menit membaca
Featured image for: Whistleblowing System dan Transformasi Integritas

Dalam rangka memperingati Hari Anti-Korupsi Sedunia (HAKORDIA) pada 9 Desember, Semen Indonesia Group (SIG) menyelenggarakan seminar internal bertema “Peningkatan Komitmen Pengendalian Gratifikasi dan Kepatuhan Anti Penyuapan.” Acara yang berlangsung pada 19 November ini menjadi bagian dari upaya edukasi SIG sebagai BUMN untuk memperkuat integritas dan meningkatkan efektivitas implementasi tata kelola perusahaan yang baik.

HAKORDIA sendiri bermula dari kesadaran negara-negara anggota PBB bahwa korupsi membawa dampak buruk bagi perkembangan sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Kesadaran inilah yang kemudian mendorong lahirnya konvensi PBB untuk menentang korupsi (United Nations Convention Against Corruption/ UNCAC) pada 31 Oktober 2003. Kemudian, pada 9 Desember, komitmen tersebut diwujudkan dengan penandatanganan Perjanjian Antikorupsi di Merida, Meksiko yang kemudian diperingati sebagai HAKORDIA. Hingga 2023 sudah ada 187 negara anggota PBB yang menandatangani perjanjian tersebut, termasuk Indonesia.

Pada kegiatan HAKORDIA di SIG tahun ini, President Director PT Integrity Indonesia, Edouard Helfand, selaku mitra pengelola sistem whistleblowing independen SIG, hadir sebagai pembicara untuk membahas peran sistem whistleblowing dalam mendukung pencegahan pelanggaran dalam lingkungan perusahaan.

Integritas sebagai Bagian dari Transformasi SIG

SIG saat ini tengah menjalankan strategi transformasi “Turnaround Towards Excellence” yang berfokus pada inovasi, kolaborasi, efisiensi operasional, dan keberlanjutan. Dalam sambutan pembuka, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Indrieffouny Indra, menekankan bahwa setiap upaya transformasi harus dilandasi integritas dan komitmen yang kuat dari seluruh insan perusahaan. 

“Transformasi tidak cukup jika tanpa integritas dan hati. Untuk itu dibutuhkan komitmen kerja keras demi kemajuan perusahaan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia,” ucapnya

Dewan Komisaris Independen yang diwakili oleh Saor Siagian turut menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini sebagai bentuk dari komitmen dan tekad perusahaan dalam memperkuat budaya kepatuhan. Acara yang berlangsung secara luring dan daring ini diikuti lebih dari 900 peserta dari berbagai unit kerja SIG beserta anak perusahaannya; hal ini menunjukkan besarnya perhatian SIG terhadap isu integritas.

Risiko Gratifikasi dan Suap

Materi pertama disampaikan oleh Ipi Maryati Kuding, Kepala Satgas IV Direktorat Anti Korupsi Badan Usaha KPK. Dalam materinya, Ipi memberikan catatan penting bahwa integritas masih menjadi isu nasional, dan badan usaha turut berkontribusi pada tantangan tersebut. Ipi juga menguraikan berbagai risiko korupsi, terutama gratifikasi dan suap, yang dapat terjadi dalam operasional perusahaan serta potensi dampaknya terhadap reputasi dan keberlanjutan bisnis.

Ia juga memberikan panduan praktis bagi individu dalam menghadapi gratifikasi, serta langkah mitigasi yang perlu diterapkan perusahaan, salah satunya dengan menyediakan kanal pelaporan yang efektif dan dapat dipercaya.

Membangun Kepercayaan Melalui Sistem Whistleblowing Independen

Materi selanjutnya disampaikan oleh Edouard Helfand yang menyoroti peran strategis sistem whistleblowing sebagai alat deteksi kecurangan. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan berbagai studi, sistem pelaporan atau sistem whistleblowing adalah alat deteksi kecurangan paling efektif. Akan tetapi, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada tingkat kepercayaan pelapor terhadap independensi dan mekanisme kerahasiaan dari sistem tersebut. 

Menurut Edouard, banyak perusahaan menghadapi tantangan berupa keraguan pelapor untuk melapor karena takut risiko pembalasan atau ketidakpastian mengenai perlindungan identitas. Oleh karena itu, sistem pelaporan yang dikelola pihak ketiga dapat menjadi solusi karena menawarkan independensi dan kerahasiaan yang lebih baik, sehingga meningkatkan keberanian pelapor.

Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa perusahaan perlu menyediakan kanal pelaporan yang mudah diakses, aman, dan mampu menangani laporan secara terstruktur. Selain itu, edukasi dan komunikasi yang intensif dengan karyawan sebagai calon pelapor juga menjadi kunci utama. 

“Memiliki sistem whistleblowing adalah satu hal. Tapi, jika perusahaan tidak memberikan edukasi kepada karyawan tentang bagaimana menggunakan sistem whistleblowing, ketersediaan kanal pelaporan susah diakses, dan tidak melakukan investigasi terhadap laporan-laporan yang masuk, atau dengan kata lain mengimplementasikan sistem whistleblowing hanya sekadar syarat kepatuhan, maka itu tidak akan cukup,” paparnya.

Canary Whistleblowing System sebagai Solusi Pendukung SIG

Dalam konteks penguatan integritas, Edouard Helfand memperkenalkan Canary Whistleblowing System, layanan pengelolaan laporan pelanggaran yang dikembangkan oleh PT Integrity Indonesia. Layanan sistem whistleblowing ini melengkapi serangkaian layanan deteksi yang ditawarkan oleh Integrity Indonesia. 

Canary dirancang untuk membantu perusahaan mengelola pelaporan secara independen dan profesional sekaligus memastikan keamanan data dan anonimitas pelapor. Beberapa fitur penting yang relevan bagi perusahaan seperti SIG antara lain:

  • Pelaporan multikanal (website, surel, hotline, dan kanal lain).
  • Dukungan multi-bahasa yang mendukung perusahaan dengan karyawan dengan latar belakang bahasa yang beragam.
  • Perlindungan identitas pelapor dengan standar keamanan yang tinggi.
  • Sistem manajemen kasus yang memudahkan pemantauan dan dokumentasi laporan.
  • Dukungan investigasi berdasarkan kebutuhan perusahaan.

Canary membantu perusahaan memperkuat penerapan Good Corporate Governance, mendukung persyaratan ISO 37001, menerapkan standar sistem whistleblowing sesuai panduan ISO 37002, serta menjadi alat deteksi dini untuk mencegah pelanggaran yang berpotensi merugikan perusahaan.

Kehadiran Integrity Indonesia sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini menunjukkan pentingnya peran mitra profesional dalam mendukung upaya pencegahan korupsi dan gratifikasi di perusahaan. Melalui pemanfaatan sistem independen seperti Canary Whistleblowing System, perusahaan dapat membangun budaya pelaporan yang lebih kuat dan memastikan pengelolaan yang lebih kredibel serta transparan.

 

Foto SIG

Choose a platform to share this article. Links will open in a new window.