5 Modus penipuan yang wajib diwaspadai para investor

Seiring dengan banyaknya rintisan usaha yang bermunculan di era ini, semakin terbuka peluang bagi investor untuk mengembangkan kapitalnya. Dengan menyuntikkan dana pada usaha rintisan, para investor berharap passive income besar.
Meski demikian, tidak ada hal yang terlalu mudah di sini. Untuk melakukan investasi, investor harus memastikan bahwa modal yang digelontorkan jatuh pada perusahaan yang tepat dan bersih dari modus penipuan yang berpotensi menyebabkan kerugian fatal. Kerugian akibat penipuan investasi, seperti yang terjadi pada kasus Outcome Health, sebaiknya bisa diantisipasi di awal.
Belajar dari kasus Outcome Health
Outcome Health adalah perusahaan teknologi kesehatan yang menyediakan solusi periklanan digital di ruang tunggu medis. Pada 2017, perusahaan ini bernilai $5,5 miliar dan dianggap sebagai salah satu perusahaan rintisan dengan pertumbuhan tercepat di Chicago.
Sayangnya, Outcome Health dituduh melakukan penipuan. Tuduhan penipuan terungkap setelah investigasi Wall Street Journal, yang menemukan bahwa Outcome Health telah berbohong kepada pengiklan tentang jumlah layar yang menampilkan iklan mereka. Secara signifikan, investasi penipuan ini merugikan beberapa investor terkemuka, seperti Goldman Sachs, Alphabet’s GV, Balyasny Asset Management, dan CapitalG
Setelah 10 minggu persidangan, juri federal akhirnya memvonis bersalah kepada tiga mantan eksekutif Outcome Health—mantan pendiri bersama, Rishi Shah dan Shradha Agarwal, dan mantan chief operating officer dan chief financial officer, Brad Purdy—untuk peran mereka dalam skema penipuan hingga $1 miliar.
Modus dalam laporan keuangan
Dari hasil penelusuran intensif, ditemukan bahwa modus penipuan yang dilakukan perusahaan tersebut adalah dengan memalsukan laporan keuangan. Kecurangan pada pelaporan keuangan tersebut menimbulkan konsekuensi serius bagi perusahaan dan investor, menyebabkan kerugian finansial, tindakan hukum, dan rusaknya reputasi.
Ada beberapa modus yang umumnya digunakan dalam laporan keuangan yang curang, antara lain:
- Melebih-lebihkan pendapatan atau aset.
Modus inilah yang digunakan oleh para terdakwa dalam kasus ini. Menurut Departemen Kehakiman, Purdy menggelembungkan data angka pendapatan yang tidak sesuai fakta untuk menarik para investor.
- Mengecilkan pengeluaran atau kewajiban.
Modus ini biasanya dilakukan dengan tidak mencatat pengeluaran atau kewajiban, seperti hutang atau pajak yang belum dibayar, sehingga membuat posisi keuangan perusahaan tampak lebih kuat dari yang sebenarnya. - Memanipulasi cadangan atau tunjangan.
Menyalahgunakan dana cadangan atau tunjangan yang disisihkan untuk menutupi potensi kerugian atau pengeluaran. - Pengungkapan yang tidak benar.
Laporan tidak mengungkapkan informasi penting, seperti transaksi pihak terkait, perubahan signifikan dalam kebijakan akuntansi, atau peristiwa lain yang dapat memengaruhi posisi keuangan perusahaan. - Channel stuffing.
Pengiriman produk dalam jumlah berlebihan ke distributor atau pelanggan pada akhir periode pelaporan untuk meningkatkan angka penjualan sehingga memberi kesan bahwa kinerja perusahaan lebih baik daripada yang sebenarnya.
Gagal uji tuntas
Kasus Outcome Health bukan satu-satunya kasus penipuan yang merugikan investor terkemuka. Banyak kasus lain, termasuk kasus Theranos, Wirecard, FTX, dan Frank menjadi pengingat bahwa bahkan investor terkemuka pun dapat rentan terhadap investasi bodong dan menyoroti pentingnya melakukan uji tuntas secara menyeluruh.
Belajar dari kasus-kasus tersebut, beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab gagalnya uji tuntas oleh para investor terkemuka, antara lain:
- Terlalu mengandalkan reputasi. Dalam kasus Outcome Health, co-founder, Rishi Shah dan Shradha Agarwal, memiliki reputasi sebagai pengusaha sukses. Reputasi “menyilaukan” itu menyebabkan investor terlalu percaya dan mengambil keputusan secara impulsif tanpa melakukan proses uji tuntas yang ketat.
- Investigasi yang tidak memadai. Investor mungkin tidak melakukan investigasi menyeluruh terhadap keuangan, operasi, dan kontrol internal perusahaan. Mereka hanya mengandalkan informasi dangkal atau melakukan tinjauan sepintas terhadap dokumentasi perusahaan.
- Kegagalan mengidentifikasi tanda bahaya. Investor mungkin mengabaikan tanda-tanda peringatan potensial, seperti praktik akuntansi yang tidak biasa atau kontrol internal yang tidak memadai. Ini semua adalah tanda-tanda peringatan yang mungkin menunjukkan aktivitas penipuan atau perilaku tidak etis dalam sebuah perusahaan.
Sayangnya, tidak semua organisasi memiliki sumber daya dan kompetensi khusus untuk melakukan uji tuntas yang komprehensif terhadap perusahaan yang akan diinvestasi, diakuisisi, atau digabungkan. Oleh karena itu, pilihan untuk bekerja sama dengan perusahaan pihak ketiga yang menyediakan layanan uji tuntas merupakan langkah preventif yang tepat.
Putri
Image by Freepik



