Due Diligence Tidaklah Murah, Tapi Mengapa Para ‘Sharks’ Melakukannya?

 In Artikel

Investasi menjadi salah satu cara bagi individu atau perusahaan menumbuhkan bisnisnya. Namun, setiap investasi membawa risiko kerugian, termasuk kerugian dari faktor kecurangan atau penipuan. Tak ada investasi yang sempurna.

Mengutip dari seorang penyair Inggris Francis Quarles “Let the fear of danger be a spur to prevent it; he that fears not, gives advantage to the danger”, seorang investor perlu selalu menanamkan kehati-hatian dalam keputusan investasi, meskipun produk investasi tersebut memiliki jaminan keamanan dan legalitas.

Di sinilah peran due diligence yaitu sebagai garda terdepan dalam pencegahan kecurangan atau penipuan investasi. Proses ini memang memakan waktu dan biaya yang tak sedikit, namun membantu calon investor menemukan fakta dan membuat keputusan yang masuk akal sehingga mencegah kerugian lebih besar di masa mendatang.

 

Due diligence tak murah

Due diligence pula yang membedakan investor profesional dan amatir. Dalam salah satu acara TV terpopuler Shark Tank, bagi para ‘sharks’ melakukan due diligence sebelum melakukan keputusan investasi adalah sebuah ritual wajib. Para pebisnis dan investor berkaliber tinggi ini hanya mendapatkan secuil informasi yang belum tervalidasi pada saat para peserta melakukan pitching. Tentu tak mungkin mereka menggelontorkan pendanaan begitu saja. Setelah mempertimbangkan informasi dari pitching, mereka melakukan due diligence terhadap proposal bisnis para peserta, barulah keputusan investasi dibuat.

Investor sekelas Glen Richards mengakui bahwa membuat sebuah kesepakatan investasi dalam Shark Tank bukan proses yang murah lantaran memakan waktu dan biaya. Namun, due diligence adalah bagian dari proses yang dilakukan oleh para investor profesional. Ia biasanya meminta para peserta menyertakan detail bisnis mereka, lalu ia dan para asisten pribadi yang sekaligus akuntan dan auditor memeriksa setiap detailnya.

Tak jarang investasi tak mencapai kata sepakat setelah dilakukan due diligence. Menurut Barbara Corcoran ada banyak alasan mengapa tak terjadi kesepakatan. Contohnya, para peserta selalu berbicara tentang penjualan mereka, namun setelah dilakukan due diligence ditemukan bahwa angka tersebut tak tervalidasi. Atau contohnya, ketika peserta mengklaim bahwa bisnis yang dijalaninya adalah miliknya, tapi ternyata sebenarnya dimiliki oleh mantan saudara ipar. Ditemukannya diskrepansi dan pernyataan-pernyataan palsu tersebut adalah potensi kerugian bagi investor dan hanya ditemukan setelah due diligence dilakukan.

 

Gali informasi faktual sesuai kebutuhan

Tak ada standar dalam melakukan due diligence karena kebutuhan setiap pebisnis atau investor berbeda satu sama lain. Contoh sederhana, ketika kita ingin berinvestasi sebuah rumah, selain memerhatikan harga, kita perlu menggali informasi faktual seperti kemanan dan kenyamanan lingkungan sekitar serta struktur bangunan. Tentu kita tak ingin menemukan ada dinding rumah yang retak hanya dalam beberapa bulan setelah rumah ditempati. Informasi faktual yang kita perlu gali tentunya akan berbeda jika kita ingin berinvestasi dalam sebuah bisnis kuliner warung makanan.

Dalam beberapa kasus, due diligence awal bisa dilakukan dengan pemeriksaan berbasis internet untuk menghemat waktu dan uang. Kita bisa memeriksa latar belakang pemilik perusahaan dan track record perusahaan tersebut, baru kemudian kita melakukan pemeriksaan dokumen dan lapangan. Due diligence tak menjamin kita benar-benar bebas dari risiko kecurangan atau penipuan, tapi proses ini jelas meminimalkan risiko.

 

 

Sumber:

https://www.smartcompany.com.au/finance/funding/how-each-shark-tank-investor-does-due-diligence-deals-sometimes-fall-through/

https://www.inc.com/brian-d-evans/the-entire-cast-of-shark-tank-weighs-in-on-what-matters-in-due-diligence.html

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search