Artificial Intelligence (AI), Mesin Akan Ambil Alih Proses Rekrutmen?

 In Artikel

Jika mendengar istilah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mungkin yang terlintas di benak kita tokoh Optimus Prime dalam film Transformer, Auto dalam Wall-E atau Ultron dalam Avengers the age of Ultron. AI pada dasarnya adalah perangkat/mesin yang meniru fungsi kognitif manusia terkait ‘belajar’ dan ‘pemecahan masalah’.

Dalam dunia rekrutmen di masa mendatang, AI diprediksi akan mendisrupsi alur kerja proses rekrutmen dengan menjadikannya lebih efisien, transparan dan objektif. Semakin meningkatnya adopsi AI dalam proses rekrutmen di era digital, muncul sentimen yang mengatakan kecerdasan buatan ini akan menggantikan peran manusia seperti robot-robot dalam cerita fiksi ilmiah tersebut, benarkah?

 

AI rampingkan proses rekrutmen

Hasil survei sebuah situs terpercaya yang bergerak dalam industri AI software untuk rekrutmen menemukan sebanyak 52% perekrut yang disurvei mengakui bagian tersulit dari proses adalah screening kandidat lantaran mereka berhadapan dengan banyak sekali data. Seorang manajer bisa menghabiskan waktu hingga 23 jam hanya untuk memilah-milah resumesatu pelamar.

Kehadiran AI akan mengotomatisasi proses kerja perekrut terkait pengumpulan dan pengolahan data resume dan aktivitas rutin dan terprediksi lainnya sehingga lebih ramping dari segi biaya dan waktu. Beberapa contohnya, AI mencegah menumpuknya lamaran kandidat yang tak sesuai persyaratan, menyeleksi dan memilih profil kandidat yang ‘kuat’, dan membantu menganalisis kepribadian kandidat saat wawancara melalui teknologi face & voice recognition. Selain lebih efisien, AI membuat proses seleksi lebih objektif.

Namun begitu, kehadirannya tak serta merta menghilangkan peran manusia karena hingga saat ini tak ada satu pun mesin terpintar yang bisa mendapatkan wawasan sejati tentang kompleksitas pemikiran manusia. Self-driving car tidak belajar dengan sendirinya untuk mengenali pejalan kaki dan rambu lalulintas. Begitu pula dengan Google Translate, tak bisa menerjemahkan secara luwes bahasa manusia tanpa input data dan algoritma dari engineer. Mesin tidak punya kreativitas seperti manusia.

 

AI memperkuat kecerdasan manusia

Sentuhan manusia dalam proses rekrutmen – misalnya, background checking – tetap diperlukan karena AI dalam rekrutmen bukan dibuat menggantikan manusia sebagai desicion maker. Alih-alih, meluangkan banyak sekali waktu untuk mengumpulkan dan membaca informasi, perekrut akan meluangkan lebih banyak waktu untuk menafsirkan, mengidentifikasi, dan memahami risiko dan potensial risiko berdasarkan informasi yang diberikan oleh AI dan ditemui di lapangan.

Salah satu contohnya, ketika perekrut harus menghubungi dan berkomunikasi dengan referensi untuk memastikan data yang tertulis dalam resume pelamar benar adanya. Kegiatan yang sifatnya membutuhkan interpretasi manusia tak bisa diotomatisasi dengan AI.

Pada akhirnya, keputusan merekrut tetap menjadi tugas perekrut. Dengan kata lain, rampingnya proses rekrutmen akan mengurangi jumlah tenaga manusia, tapi bukan berarti digantikan sama sekali. Kecerdasan manusia masih dibutuhkan dalam proses rekrutmen di masa mendatang dan kehadiran AI memperkuat kecerdasan manusia.

 

 

Sumber:

https://ideal.com/ai-recruiting/

https://www.theguardian.com/seizing-opportunities-with-aldermore/2017/sep/20/the-tech-startups-using-ai-to-disrupt-the-recruitment-industry

http://www.fcpablog.com/blog/2017/6/1/dan-adamson-on-ai-due-diligence-needs-more-human-judgment-no.html

 

 

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search