Memitigasi risiko rekrutmen dalam ‘gig economy’

Kemajuan teknologi, pandemi, dan resesi ekonomi telah menjadi pendorong fenomena gig economy, sebuah tren bekerja paruh waktu atau sebagai pekerja lepas. Mulai dari pengemudi online, personel pengiriman paket dan makanan, pengembang perangkat lunak lepas, serta penulis lepas, semakin banyak orang yang bekerja paruh waktu.
Sistem ini memberi keuntungan bagi tiap pihak, baik pekerja maupun pemberi kerja. Bagi pekerja, metode ini memberikan peluang untuk mengerjakan beberapa proyek dari sumber yang berbeda sekaligus tidak terikat dengan jam kerja tertentu.
Bagi pemberi kerja, dengan mempekerjakan pekerja lepas, mereka dapat meminimalkan komponen pembayaran yang mengikat apabila merekrut karyawan tetap, seperti tunjangan kesehatan, manfaat cuti, dan lain sebagainya.
Risiko pekerjakan pekerja lepas
Meski demikian, mempekerjakan gig worker atau pekerja lepas bukan tanpa risiko. Ada beberapa risiko bawaan yang harus diantisipasi oleh perusahan pemberi kerja, yang meliputi:
- Risiko Keamanan Data. Pekerja lepas mungkin memiliki akses ke data dan informasi sensitif, yang dapat berisiko dicuri, hilang, atau diungkapkan secara tidak sah jika langkah-langkah keamanan yang tepat tidak dilakukan.
- Risiko Kualitas Pekerjaan. Karena mereka bekerja dari jarak jauh dan tidak berada di bawah pengawasan langsung, ada risiko bahwa mereka mungkin tidak memberikan kualitas pekerjaan yang diharapkan atau mungkin melewatkan tenggat waktu.
- Risiko Komunikasi. Komunikasi dapat menjadi lebih sulit dengan pekerja jarak jauh, terutama jika terdapat kendala bahasa atau zona waktu. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau miskomunikasi, yang dapat berdampak pada kualitas pekerjaan yang disampaikan.
- Risiko Kepatuhan. Bergantung pada sifat pekerjaan, mungkin ada risiko kepatuhan yang terkait dengan mempekerjakan pekerja jarak jauh. Misalnya, jika mereka mengerjakan proyek yang melibatkan penanganan data pribadi, mungkin ada persyaratan hukum dan peraturan yang harus dipenuhi.
- Risiko Kekayaan Intelektual. Pekerja lepas dapat membuat kekayaan intelektual bagi sebuah perusahaan saat mengerjakan proyek, sehingga ada risiko bahwa mereka dapat mengklaim kepemilikannya jika hal ini tidak disebutkan dalam kontrak.
- Risiko Reputasi. Jika seorang pekerja lepas memberikan pekerjaan di bawah standar atau terlibat dalam perilaku tidak etis, hal ini dapat berdampak negatif terhadap reputasi perusahaan.
Untuk mengurangi risiko ini, penting untuk memiliki proses dan prosedur yang tepat saat mempekerjakan pekerja lepas, seperti melakukan pemeriksaan latar belakang secara menyeluruh.
Screening pada pekerja lepas
Tidak hanya untuk pekerja tetap, pemeriksaan latar belakang juga harus dilakukan pada pekerja lepas. Tujuannya tentu adalah agar perusahaan mendapatkan informasi yang cukup terhadap kandidat pekerja lepas yang akan diajak bekerja sama.
Berikut adalah beberapa langkah untuk melakukan penyaringan pekerjaan pada kandidat pekerja lepas:
- Verifikasi Identitas. Ini penting untuk memastikan bahwa perusahaan tidak berurusan dengan seseorang yang menyamar sebagai orang lain atau bahkan mungkin sebagai mata-mata perusahaan kompetitor.
- Riwayat Pekerjaan. Dengan berbekal daftar klien atau pemberi kerja sebelumnya, perusahan dapat memverifikasi riwayat pekerjaan kandidat. Ini akan memberikan gambaran tentang pengalaman, etos kerja, dan kualitas kerja freelancer.
- Keterampilan Komunikasi. Karena kandidat biasa bekerja dari jarak jauh, penting untuk menilai keterampilan komunikasi mereka. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa komunikasi kedua pihak dapat terjalin lancar.
- Pengecekan Media Sosial. Lihatlah profil media sosial kandidat untuk mengetahui apakah mereka memiliki profil profesional atau menunjukkan red flags yang mengindikasikan potensi masalah.
Untuk melakukan pemeriksaan ini, perusahaan dapat bekerja sama dengan pihak ketiga yang mempunyai kompetensi di bidang pemeriksaan latar belakang secara profesional. Integrity Asia adalah salah satunya.
Integrity Asia telah mengembangkan aplikasi pengecekan latar belakang calon karyawan, Prisma, yang memudahkan manajemen untuk mengotomatisasi proses screening, mengecek jalannya screening dengan real-time dan hasil pemeriksaan latar belakang disajikan dalam laporan analisis yang lengkap dan akurat.
Bekerja sama dengan pekerja lepas yang mempunyai kompetensi dan integritas yang tinggi dapat membawa keuntungan ganda bagi perusahaan. Hal ini bisa dicapai jika perusahan melakukan pengecekan latar belakang kandidat sebelum bekerja sama dengan pekerja lepas yang dipilih.
<ahref=”https://www.freepik.com/free-photo/graphic-designers-working-their-desk_1005984.htm#query=coworking%20space&position=3&from_view=search&track=ais”>Image by peoplecreations on Freepik



