Ketika karir ditentukan oleh perilaku jari di atas gawai

Ketika karir ditentukan oleh perilaku jari di atas gawai

Teknologi memungkinkan semua aktivitas dapat dilakukan hanya dengan menjentikkan jari di atas gawai, termasuk aktivitas bermedia sosial. Mengakses berita, mengunggah komentar, berbagi informasi, dan mengekspresikan keberpihakan dapat dilakukan dengan mudah melalui media sosial.    

Peran media sosial telah melampaui cakupannya, dari wadah digital untuk berinteraksi secara personal menjadi interaksi komunal. Terkait hal itu, pengamatan terhadap aktivitas daring seseorang di media sosial berkembang dari sekadar melihat minat pribadi menjadi komponen penting dalam menilai kesesuaian calon karyawan untuk suatu posisi pekerjaan. 

Pihak yang bertanggung jawab dalam proses rekrutmen dapat mendalami kepribadian calon karyawan dengan mempelajari konten yang ada di profil media sosial kandidat. Konten ini mencakup cara mereka berinteraksi, dan apakah terdapat tindakan yang melanggar etika, seperti menyebarkan pernyataan ujaran kebencian, menghina secara rasial, menggunakan bahasa yang kasar, atau membagikan konten eksplisit. 

Mengapa perlu melakukan penyaringan media sosial?

Media sosial dapat menjadi salah satu sumber informasi penting dalam proses background screening calon karyawan karena beberapa alasan, di antaranya:

  1. Gambaran karakter. Perusahaan memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana kandidat berinteraksi dengan orang lain, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Selain itu, perusahaan dapat mengukur reputasi kandidat di dalam jaringan sosial mereka.
  2. Kepatuhan dan keamanan. Industri tertentu, seperti keuangan, kesehatan, dan pertahanan, menuntut tingkat kepatuhan dan keamanan yang ketat. Melalui pemeriksaan akun media sosial, perusahaan dapat memastikan bahwa kandidat tidak membawa risiko terhadap keamanan atau reputasi organisasi.
  3. Mengukur integritas. Perusahaan mungkin perlu menyelidiki riwayat postingan dari calon karyawan mereka. Konten yang bersifat menyinggung, kontroversial, atau tidak pantas yang diunggah oleh calon karyawan dapat berpotensi merusak citra perusahaan atau menciptakan lingkungan kerja yang negatif.

Dalam salah satu kasus, hasil pemeriksaan media sosial terhadap seorang calon karyawan mengungkapkan bahwa dia melontarkan ujaran kebencian yang disebar di akun media sosialnya. Ujaran kebencian ini secara khusus ditujukan kepada salah satu rekan kerja di kantor tempat dia bekerja sebelumnya. Riwayat postingan seperti ini tentu menjadi pertimbangan serius, karena membawa risiko bagi perusahaan yang berencana merekrutnya.

Tetap berpegang pada asas perlindungan data pribadi

Penyaringan media sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pemeriksaan latar belakang ketenagakerjaan. Metode ini juga membuka peluang untuk menggali informasi tambahan yang mungkin tidak terungkap dalam CV atau wawancara.

Meski demikian. perusahaan harus sangat memperhatikan kepatuhan terhadap undang-undang perlindungan data pribadi yang berlaku. Agar proses penyaringan media sosial tetap sesuai dengan aturan hukum dan etika yang berlaku, perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu:

  • Persetujuan. Menurut hukum yang berlaku, perusahaan wajib untuk memperoleh persetujuan dari calon karyawan sebelum melaksanakan pemeriksaan latar belakang.
  • Kerahasiaan. Temuan yang diperoleh dari media sosial kandidat tetap dianggap sebagai informasi rahasia, meskipun ditemukan di ruang publik. Oleh karena itu, informasi tersebut hanya boleh digunakan untuk kepentingan pengecekan latar belakang.
  • Perlunya analisa lanjutan. Informasi yang diperoleh dari media sosial kandidat seringkali bersifat potongan-potongan informasi mentah. Oleh karena itu, diperlukan analisis lebih lanjut dengan menggabungkan informasi tersebut dengan data lain yang diperoleh dari sumber-sumber lain.  
  • Transparansi. Beritahukan kepada kandidat tentang kemungkinan pemeriksaan media sosial, dan pastikan transparansi dalam prosesnya.
  • Relevansi. Fokus pada pengumpulan informasi yang relevan dengan pekerjaan. Hindari intrusi yang tidak perlu ke dalam aspek pribadi. 
  • Non-diskriminasi. Pastikan bahwa proses penyaringan tidak mengarah pada diskriminasi berdasarkan faktor-faktor seperti ras, jenis kelamin, atau agama.

Pemeriksaan latar belakang merupakan kegiatan yang memerlukan waktu, sumber daya, dan keahlian khusus. Oleh karenanya, perusahaan perlu memutuskan apakah mereka akan melakukan penyaringan media sosial secara internal atau bekerja sama dengan pihak ketiga.

Beberapa perusahaan memilih bermitra dengan pihak ketiga, seperti Integrity Asia, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menjalankan proses penyaringan calon karyawan. Keahlian dan pengalaman dari pihak ketiga membantu memastikan bahwa seluruh proses tetap sesuai dengan hukum dan prinsip etika yang berlaku, menghasilkan laporan yang akurat.

Adapun manfaat bekerjasama dengan pihak ketiga untuk pengecekan kandidat antara lain adalah:

  • Dengan mengalihkan tugas penyaringan media sosial kepada pihak ketiga, sumber daya internal perusahaan dapat lebih fokus pada tugas-tugas inti perusahaan.
  • Pengecekan dilakukan secara profesional oleh tim yang terlatih dan berpengalaman mencari informasi dari berbagai platform media sosial. 
  • Pengecekan menjadi lebih independen dan obyektif. Tidak ada konflik kepentingan antara rekruter dengan kandidat ataupun tekanan internal organisasi.

Dengan penyaringan media sosial yang efektif dan efisien, perusahaan dapat membuat keputusan perekrutan yang lebih tepat. Bagi kandidat, metode ini memberi wacana bahwa kesuksesan karir dapat ditentukan oleh jari-jari mereka di atas gawai.

Imej dari Freepik

Share this post:

KANTOR PUSAT

ALAMAT

Jl. RS. Fatmawati Raya No. 57-B, Cilandak Barat, Jakarta 12430, Indonesia

TELEPON

SUREL

PERUSAHAAN TERKAIT

ANGGOTA DARI

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

BERLANGGANAN BULETIN

Dapatkan perkembangan berita dan wawasan industri

    Hak Cipta – INTEGRITY – Hak Cipta Dilindungi Undang-undang © 2023 – Kebijakan Privasi | Persyaratan Layanan| Content Protection by DMCA.com