Mitigasi ancaman first-party fraud yang meningkat

first-party fraud

Mitigasi ancaman first-party fraud yang meningkat

first-party fraudPada tahun 2023, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kasus penipuan pihak pertama (first-party fraud) mengalami peningkatan. Modus penipuan ini mirip dengan penipuan pihak ketiga (third-party fraud), tetapi menggunakan identitas milik sendiri dan bukan milik orang lain untuk memanipulasi perincian keuangan seperti gaji dan saldo rekening, serta memalsukan dokumen yang disyaratkan untuk kepentingan pribadi.

Penyebab utama meningkatnya kasus first-party fraud adalah kesulitannya untuk dideteksi oleh para pihak di sektor perbankan, asuransi, kesehatan, dan pendidikan. Penggunaan data diri pribadi membuat praktik ini menjadi lebih meyakinkan dibandingkan dengan modus penipuan pihak ketiga. Oleh karena itu, first-party fraud juga dikenal dengan istilah “true name fraud”.

Menimbulkan kerugian yang besar bagi perusahaan Anda

Dalam industri keuangan, 70% penipuan kartu kredit dilakukan menggunakan akun milik pihak pertama. Dampaknya, industri ini menderita kerugian lebih dari US$132 milyar setiap tahunnya.

Frank McKenna, seorang ahli di bidang anti-fraud dalam webinar “The Rise of First-Party Fraud and Other 2023 Trends to Watch” menjelaskan bahwa modus first-party fraud sering kali ada di balik kerugian perusahaan pemberi pinjaman. Pemohon menggunakan dokumen palsu termasuk saldo bank yang dimanipulasi, jumlah transaksi, dan informasi keuangan lainnya. Sebanyak 50% dokumen pengajuan pinjaman dari Usaha Kecil dan Menengah menunjukkan adanya tanda-tanda penipuan pihak pertama.

Penipuan pihak pertama semakin meluas karena banyaknya templat dokumen palsu yang tersedia secara daring. Selain itu, media sosial mempermudah para penipu untuk menjual templat tersebut dan membagikan teknik pemalsuan.

Menyusup ke sistem merchant

First-party fraud juga menyasar klaster perdagangan, termasuk niaga-el (e-commerce). Data menunjukkan bahwa penipuan ini merugikan merchant hingga $50 miliar per tahun.

Modus operandinya adalah memanfaatkan celah pada kebijakan toko, yang juga disebut sebagai refund fraud. Sebagai contoh, seorang penipu memesan laptop dan setelah barangnya tiba, menghubungi pusat pengaduan merchant lalu mengeklaim bahwa dirinya tidak pernah menerima barang yang dipesan. Merchant yang besar sekalipun bisa saja tertipu dan akan memproses pengembalian dana yang seharusnya tidak dikembalikan.

Niat para penipu ini sulit untuk diidentifikasi karena ini merupakan jenis penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpura-pura menjadi pelanggan dengan menggunakan identitas asli mereka sendiri.

Memberantas penipuan dengan uji tuntas

Ada beberapa tindakan mitigasi yang dapat diterapkan oleh pelaku bisnis untuk meminimalkan risiko penipuan:

  • Berinvestasi dalam teknologi. Gunakan teknologi termutakhir yang mendukung proses Know Your Customer (KYC), uji tuntas, dan underwriting, khususnya untuk memverifikasi keaslian dokumen yang diserahkan oleh perorangan seperti KTP, paspor, dan catatan keuangan.
  • Adakan pelatihan dan tingkatkan kesadaran karyawan. Latih karyawan Anda untuk mengenali tanda-tanda potensi penipuan pihak pertama dan dorong mereka untuk melaporkan aktivitas yang mencurigakan melalui kanal whistleblowing.
  • Berkolaborasi dengan pihak terkait. Ini penting, terutama bagi merchant untuk bekerja sama dengan penerbit kartu kredit dan manfaatkan data yang tersedia untuk membentuk pertahanan yang kokoh.

Maraknya modus first-party fraud menekankan pentingnya uji tuntas terhadap para calon pelanggan atau nasabah, terutama pada subjek dengan nilai transaksi yang besar dan faktor yang risiko tinggi. 

Pada umumnya, uji tuntas mencakup dua elemen kunci berikut ini:

  1. Verifikasi identitas. Memastikan bahwa identitas calon nasabah sesuai dengan dokumen resmi yang mereka berikan, seperti KTP atau dokumen perusahaan penting untuk meminimalkan risiko identitas yang palsu dan memastikan bahwa transaksi dilakukan oleh pihak yang sah.
  2. Credit scoring. Memeriksa catatan kredit calon nasabah secara menyeluruh berarti menilai riwayat kredit, skor kredit, dan kemampuan pembayaran untuk memastikan bahwa calon nasabah dapat dipercaya untuk urusan bisnis.

Selain dua hal di atas, ada beberapa unsur lainnya yang harus diperhatikan dalam mengungkapkan identitas calon pelanggan atau nasabah sehingga debitur ataupun merchant dapat melakukan bisnis secara aman.

Untuk melakukan uji tuntas, pelaku bisnis dapat bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki pengalaman dan metode pengujian yang mendalam. Integrity Asia menyediakan uji tuntas yang komprehensif yang dilakukan oleh para pakar lokal dan didukung oleh teknologi terkini.

 

Image by Freepik

Share this post:

KANTOR PUSAT

ALAMAT

Jl. RS. Fatmawati Raya No. 57-B, Cilandak Barat, Jakarta 12430, Indonesia

TELEPON

SUREL

PERUSAHAAN TERKAIT

ANGGOTA DARI

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

BERLANGGANAN BULETIN

Dapatkan perkembangan berita dan wawasan industri

    Hak Cipta – INTEGRITY – Hak Cipta Dilindungi Undang-undang © 2023 – Kebijakan Privasi | Persyaratan Layanan| Content Protection by DMCA.com