Memerangi Peredaran Obat Palsu dalam Industri Farmasi

counterfeit medicines obat palsu

Memerangi Peredaran Obat Palsu dalam Industri Farmasi

counterfeit medicinesPeredaran masif obat palsu adalah permasalahan serius yang terus berkembang, yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan integritas merek di industri farmasi. Data menunjukkan bahwa insiden kejahatan farmasi pada tahun 2021 mengalami lonjakan sebesar 38% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kejahatan farmasi berpotensi merusak reputasi produsen farmasi dan keselamatan konsumen. Belum lama ini, 68 penderita diabetes kehilangan penglihatan mereka setelah disuntik dengan obat palsu yang menyerupai obat terkenal.

Dampak obat palsu terhadap merek

Menurut penelitian OECD, antibiotik, obat gaya hidup (lifestyle drugs), dan pereda nyeri adalah jenis obat-obatan yang paling sering menjadi sasaran pemalsuan. Selain obat-obatan tersebut, obat malaria, diabetes, epilepsi, penyakit jantung, alergi, tekanan darah tinggi dan rendah, kanker, penyakit lambung, serta obat bius lokal juga menjadi sasaran pemalsuan. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa ada lebih dari 1 juta kematian setiap tahunnya akibat obat palsu dan obat di bawah standar, dengan kerugian finansial yang mencapai lebih dari $21 miliar di seluruh dunia.

Kehadiran obat palsu berpotensi merusak reputasi perusahaan karena dianggap memiliki tanggung jawab atas keamanan dan kualitas produk yang didistribusikan. Perusahaan juga berpotensi dituntut oleh konsumen yang dirugikan akibat obat palsu yang menyerupai obat produksi perusahaan tersebut.

Tantangan seiring dengan kemajuan teknologi digital

Menurut penelitian, sumber dari masalah ini adalah jaringan rantai pasokan di seluruh dunia yang rumit dan sering kali tidak memiliki pola pengendalian mutu yang kuat, sehingga rentan terhadap infiltrasi obat-obatan palsu.

Faktor di atas semakin diperparah oleh efek negatif dari kemajuan teknologi digital. Maraknya e-commerce, media sosial, dan apotek daring telah merevolusi cara konsumen mengakses produk farmasi. Meskipun menawarkan kenyamanan dan aksesibilitas yang tak tertandingi, platform-platform canggih tersebut juga menyimpan sisi gelap, yaitu bisa dimanfaatkan untuk menjual obat-obatan palsu.

Strategi untuk memerangi obat-obatan palsu

Produsen farmasi bisa menggunakan beberapa strategi untuk mengurangi risiko terkait dengan obat-obatan palsu:

  1. Sistem pelacakan dan identifikasi produk (pharmaceutical serialization). Setiap unit obat diberi kode unik seperti barcode atau QR code, yang memungkinkan pelacakan dari pabrik hingga ke tangan konsumen.
  2. Peningkatan keamanan pabrik dan gudang penyimpanan. Pengamanan fisik dan teknologi seperti CCTV (closed-circuit televisions), kontrol akses, dan sensor keamanan, dapat mencegah terjadinya pencurian dan penukaran produk dengan obat palsu.
  3. Peningkatan kesadaran publik. Edukasi terhadap tenaga kesehatan, apoteker, dan konsumen mengenai risiko terkait dengan obat palsu, serta memberikan panduan tentang cara mengidentifikasi dan melaporkan produk yang mencurigakan, dapat secara nyata mengurangi permintaan obat palsu.
  4. Saluran pelaporan. Produsen dapat memperoleh informasi tentang peredaran obat palsu dari konsumen dan masyarakat luas untuk melakukan mitigasi. Platform Canary Whistleblowing yang memiliki berbagai saluran, seperti formulir situs web, telepon, dan pesan teks, memungkinkan akses publik untuk pelaporan yang membantu pemilik merek dalam melindungi merek dagang dengan mengidentifikasi keberadaan obat palsu di pasar.
  5. Sistem kendali yang terpadu. Tujuan dari sistem ini adalah agar obat-obatan yang didistribusikan dapat dikendalikan oleh produsen sehingga meminimalkan kerusakan akibat pemalsuan di berbagai tingkat pendistribusian dalam rantai pasokan.
  6. Uji tuntas dalam rantai pasokan. Langkah ini mencakup verifikasi vendor, termasuk audit pemasok, sertifikasi mutu, dan pemeriksaan latar belakang untuk mengonfirmasi keabsahan dan kepatuhan terhadap standar peraturan. Proses ini dapat dilakukan dengan cepat melalui platform Know Your Vendor.
  7. Kerja sama dengan pihak yang berwenang dan asosiasi industri. Pelaporan kejadian pelanggaran kekayaan intelektual atau partisipasi dalam inisiatif industri kepada pihak berwenang seperti lembaga penegak hukum setempat dapat dilakukan untuk memerangi pemalsuan dan pembajakan. Selain itu, terdapat juga program anti-pemalsuan yang diadakan oleh penyedia layanan perlindungan merek yang dapat menambah wawasan mengenai anti-pemalsuan dan perlindungan merek.

 

Image by usertrmk on Freepik

Share this post:

KANTOR PUSAT

ALAMAT

Jl. RS. Fatmawati Raya No. 57-B, Cilandak Barat, Jakarta 12430, Indonesia

TELEPON

SUREL

PERUSAHAAN TERKAIT

ANGGOTA DARI

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

BERLANGGANAN BULETIN

Dapatkan perkembangan berita dan wawasan industri

    Hak Cipta – INTEGRITY – Hak Cipta Dilindungi Undang-undang © 2023 – Kebijakan Privasi | Persyaratan Layanan| Content Protection by DMCA.com