7 tips cegah pencurian data

 In Artikel

data theftMedia arus utama kerap dihiasi dengan headline tentang pencurian data. Bisnis, pemerintahan, dan individu berupaya keras untuk melindungi data pribadi dengan menggunakan teknologi terkini, mulai dari otentikasi dua faktor, sidik jari, pengenalan wajah, hingga pindai retina. Akan tetapi, pelaku pencurian data selalu punya cara untuk melakukan aksinya.

IBM dan Ponemon Institute mencatat pencurian data mengakibatkan bisnis harus merogoh kocek sebesar US$ 4,24 juta di tahun 2021, kenaikan 10% dari tahun 2019.

Pencurian data tak hanya merugikan bisnis, tetapi juga individu pemilik data. Dalam banyak kasus, pencurian data terjadi karena individu yang kurang waspada dalam menjaga data pribadinya.

Orang cenderung semakin mudah memberikan data pribadi mereka. Chris Hadnagy dalam bukunya yang berjudul ‘Social Engineering: The Art of Human Hacking’ juga mengatakan bahwa manusia adalah titik terlemah dari sebuah sistem keamanan yang dapat dengan mudah dieksploitasi.

Perilaku sembrono menjadi celah

Pencurian data merupakan risiko yang dapat terjadi baik secara luring ataupun daring. Secara luring, misalnya, dalam percakapan biasa antara seseorang dengan orang asing yang ternyata penipu. Atau, dalam ranah publik, contohnya, percakapan seseorang dengan temannya di tempat umum yang kemudian terdengar oleh orang lain.

Pencurian data secara daring sudah menjadi hal yang lumrah, terutama ketika pandemi, di saat orang-orang diharuskan melakukan hampir seluruh aktivitasnya secara daring. Perilaku baru ini mengharuskan mereka untuk membuat akun di berbagai media dan mengisi berbagai macam formulir yang mensyaratkan data pribadi.

Data pribadi tersebut termasuk nama, nomor ponsel, tanggal lahir, bahkan nomor data kependudukan. Dengan memberikan data pribadi kita ke pihak lain, secara tidak sadar kita terpapar risiko terjadinya pencurian dan penyalahgunaan data oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Perilaku seperti oversharing di media sosial juga bisa menjadi celah untuk pencurian data. Oversharing merupakan perilaku membagikan informasi detail kegiatan sehari-hari. Misalnya, membagikan foto beserta lokasi secara real-time dan selfie dengan ijazah atau KTP.

Pencurian nomor ponsel

Saat ini, nomor ponsel berperan penting sebagai kunci data diri seseorang karena kerap menjadi alat untuk otentikasi. Akun bank, akun e-commerce, email, dan hampir semua platform daring yang vital mensyaratkan nomor ponsel.

Ironisnya, nomor ponsel merupakan salah satu data pribadi yang paling sering dibagikan dengan mudahnya kepada orang yang tidak dikenal. Tidak sedikit yang menganggap membagikan nomor ponsel pribadi kepada orang lain merupakan ekspresi keramahan atau sekadar basa-basi.

Padahal, dari nomor telepon, pihak yang tidak bertanggung jawab dapat menelusuri data pribadi lainnya, seperti akun media sosial, nama ibu, tanggal lahir, pekerjaan, dan informasi pribadi sensitif lainnya. Pembobolan akun bank pun bisa dilakukan melalui nomor ponsel.

Salah satu indikasi dari mudahnya kita membagikan nomor telepon bisa dilihat dari akun aplikasi WhatsApp marak dibanjiri pesan-pesan spam beserta tautan malware. Bahkan, tak sedikit terjadi pencurian akun dan penipuan. Modusnya, pelaku mengaku sebagai korban dan meminjam uang dari teman dan keluarga korban.

Tips untuk mencegah pencurian data

Risiko pencurian data tidak bisa dinihilkan sama sekali, tetapi dapat diminimalkan. Upaya yang utama tentu saja dengan sangat berhati-hati dalam menyeleksi informasi yang akan dibagikan, baik secara luring maupun daring.

Disarikan dari Kaspersky, perusahaan antivirus dan keamanan siber multinasional berbasis di Rusia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pencurian data. Cara pencegahan, baik melalui media ponsel, komputer, ataupun media elektronik lain yang membutuhkan akses kredensial, antara lain:

1.Gunakan password yang aman

Password atau kata sandi dapat dengan mudah dibobol oleh peretas, terutama jika tidak menggunakan kata sandi yang kuat. Semakin pendek dan lemah kata sandi Anda, semakin mudah untuk diretas.

Kata sandi yang kuat setidaknya terdiri dari 12 karakter atau lebih yang berisi campuran huruf besar dan kecil, ditambah dengan simbol dan angka. Hindari memilih sesuatu yang mudah ditebak, seperti nomor urut, tanggal lahir, atau informasi pribadi lain.

2. Satu kata sandi untuk satu akun

Sebaiknya, kita membedakan kata sandi untuk satu akun dengan akun lainnya. Selain itu, disarankan untuk ubah kata sandi secara teratur, setidaknya setiap enam bulan atau lebih.

3. Ingat kata sandi dengan baik, tidak perlu ditulis

Menulis kata sandi di media tertentu yang bisa dibaca orang lain membuatnya rentan diretas. Jika memiliki terlalu banyak kata sandi untuk diingat, sebaiknya gunakan pengelola kata sandi untuk membantu Anda melacak.

4. Manfaatkan teknologi MFA

Multi-Factor Authentication (MFA), terutama Two-Factor Authentication (TFA), merupakan teknologi yang paling umum digunakan saat ini untuk masuk dalam akun daring. Aktifkan selalu autentikasi multi-faktor di akun pribadi.

5. Waspada saat membagikan informasi pribadi

Biasakanlah untuk menjaga akses ke data pribadi. Pastikan orang yang meminta data tersebut jelas penggunaanya. Anda perlu menanyakan pula jaminan keamanan apa yang mereka miliki untuk memastikan informasi pribadi yang Anda berikan terjaga.

6. Batasi berbagi informasi di media sosial

Hindari mengungkapkan informasi pribadi, seperti alamat atau tanggal lahir Anda di bio media sosial Anda. Penjahat dapat menggunakan data ini untuk membangun citra fiktif tentang Anda, yang kemudian digunakan untuk menipu atau bahkan merusak reputasi.

7. Berhati-hati saat menggunakan Wi-Fi publik

Layanan Wi-Fi publik sering menjadi sasaran empuk bagi peretas dan penjahat dunia maya yang dapat menggunakannya untuk mencuri data. Agar tetap aman di Wi-Fi publik, hindari membuka atau mengirim data sensitif, matikan Bluetooth dan berbagi file, serta gunakan VPN dan firewall.

 


Putri

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search