Perlindungan merek di era upcycle

 In Artikel

brand protectionKesadaran sustainable lifestyle atau gaya hidup berkelanjutan semakin meningkat di masyarakat, salah satunya ditandai dengan mulai larisnya produk-produk upcycle. Sedikit berbeda dengan recycle, upcycle adalah proses mengubah material sampah atau usang menjadi produk bernilai tambah dengan proses yang lebih singkat. Dalam proses recycle, biasanya terdapat proses peleburan atau pembakaran. Namun, hal ini tidak dilakukan dengan upcycle, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Contohnya, paper bag diubah menjadi kantong ponsel, jaket goose down usang diubah menjadi tas wanita, sarung tangan usang dirangkai dan dijahit menjadi jaket, dan banyak jenis produk lainnya. Kerap kali produk-produk upcycle memiliki nilai jual tinggi karena perubahan bentuk dan fungsinya serta label merek dagang ternama yang tetap disematkan. Dari sisi pemilik merek dagang, tren upcycle ini membawa tantangan tersendiri dalam upaya menjaga reputasi merek.

Pelanggaran merek pada produk upcycle

Merek dagang merupakan alat perlindungan merek yang kuat yang perlu menjadi pertimbangan oleh pemilik merek dan para pelaku upcycle. Di Inggris, definisi dan hak pemilik merek diatur oleh Trademark Act 1994. Di Amerika Serikat, merek dagang diatur dalam Trademark Act of 1946 (The Lanham). Adapun di Indonesia, definisi merek diatur oleh UU UU No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 butir 1.

Regulasi-regulasi tersebut sejalan dengan apa yang diatur oleh WTO melalui TRIPS Pasal 15, yaitu merek adalah setiap tanda atau kombinasi dari tanda yang memiliki kemampuan untuk membedakan barang atau jasa dari suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Menurut WTO, pelanggaran merek terjadi jika merek dagang atau jasa digunakan tanpa izin pemilik merek terdaftar sehingga dapat menimbulkan kebingungan, penipuan, atau kesalahpahaman tentang sumber barang atau jasa tersebut.

Upcycle pada dasarnya melibatkan pengubahan bentuk dan fungsi produk. Tak sedikit kasus gugatan produk upcycle terjadi karena penjualan produk upcycle atau pengubahan tersebut dilakukan dengan menyematkan merek dagang terdaftar yang menyebabkan konsumen bingung atau salah paham.

Kasus Chanel menggugat Shriver + Duke salah satu contohnya. Shriver+Duke adalah perusahaan yang melakukan upcycle kancing baju Chanel menjadi aksesoris perhiasan. Dalam gugatannya yang diajukan di pengadilan federal New York pada 2021, Chanel menuduh perusahaan itu telah menyalahgunakan merek dagangnya dengan menggunakan kancing dengan logo C untuk membuat dan memasarkan perhiasan imitasi yang menarik dan mengandalkan daya jual dan ketenaran merek Chanel.

Menurut seorang pengacara di KDC, pelanggaran merek dapat terjadi jika seseorang menggunakan sebuah merek dagang terdaftar untuk produk atau jasa yang jenisnya sama dengan yang dihasilkan oleh merek dagang tersebut sehingga berpotensi menyebabkan konsumen bingung. Dalam kasus upcycle tersebut, apa yang dilakukan tergugat dapat menimbulkan kebingungan bagi konsumen karena mereka tidak akan bisa membedakan mana perhiasan yang diproduksi oleh Chanel dan mana yang diproduksi oleh tergugat.

Langkah perlindungan merek

Trending-nya produk upcycle tak lepas dari peran kampanye digital influencer melalui media sosial. Sampai artikel ini ditulis, di Instagram saja tagar #upcycle memiliki lebih dari lima setengah juta post, termasuk berbagai kesenian, baju, dan perabot DIY upcycle. Di Tiktok, konten dengan tagar tersebut sudah dilihat lebih dari 2 miliar kali.

Melihat fakta tersebut, maka langkah mitigasi perlindungan merek perlu mencakup monitoring di media sosial. Sebagian besar platform media sosial dan marketplace telah menyiapkan mekanisme daring bagi pihak yang ingin melaporkan akun atau produk yang melanggar regulasi, termasuk pelanggaran merek.

Untuk melaporkan pelanggaran, pelapor harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang produk dan merek dagang yang terkait dengannya. Produk yang melanggar akan dihapus dari media sosial dan marketplace setelah laporan diterima, diperiksa, dan disetujui.

Bahkan, setelah penghapusan, pemilik merek masih perlu terus memantau berbagai platform untuk memastikan bahwa produk yang melanggar tidak dipasarkan dan ditawarkan lagi.

Integrity Asia berpengalaman dalam membantu pelaporan untuk penghapusan produk yang melanggar di kanal daring dan pemantauan saluran daring secara terus menerus untuk mendeteksi dan mengidentifikasi apakah produk yang melanggar ditawarkan kembali menggunakan akun atau saluran yang berbeda. Kontak kami untuk informasi lebih detail terkait layanan Brand Protection.

 

 


Putri
Image source: Instagram

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search