Ketika verifikasi berkembang menjadi sebuah investigasi

Ketika verifikasi berkembang menjadi sebuah investigasi

verification investigationDi tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, para pencari kerja akan melakukan apa saja untuk tetap berada di dalam kompetisi dan menunjukkan bahwa mereka kompeten, sah, dan menarik bagi calon pemberi kerja. Berbagai cara dilakukan, termasuk berbohong pada resume mereka. Berada di dalam situasi seperti ini, pemberi kerja tidak lagi bisa percaya begitu saja pada resume dan wawancara pelamar sebagai dasar keputusan perekrutan mereka.

Lantaran ada banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana salah rekrut dapat mendatangkan kerugian besar, maka menjadi sangat penting penyaringan pra-kerja sebagai bagian integral dari langkah perekrutan dalam sebuah organisasi. Pada dasarnya, penyaringan pra-kerja dilakukan untuk memverifikasi bahwa informasi yang diklaim kandidat pada resume adalah faktual. Namun, verifikasi dapat berkembang menjadi penyelidikan dalam kasus-kasus tertentu.

Verifikasi dan fakta baru

Selama pre-employment screening, semua informasi dalam resume akan diverifikasi kebenarannya. Informasi ini, antara lain, termasuk kartu identitas, latar belakang pendidikan, catatan kriminal dan litigasi, riwayat kerja dan lain sebagainya.  Pada prinsipnya, tidak ada yang tahu kebenaran di balik kertas sampai verifikasi dilakukan. 

Di atas kertas, riwayat kerja seorang kandidat mungkin terlihat memukau dengan periode kerja yang normal dan pengalaman yang meyakinkan. Namun, setelah dilakukan verifikasi, ternyata data yang diklaim kandidat berbeda dengan informasi yang diperoleh dari sumber kredibel. 

Contoh sebuah kasus, resume seorang kandidat terlihat ‘bersih’ dengan gap yang wajar di setiap pengalaman kerjanya. Namun, setelah dilakukan verifikasi terhadap catatan kriminalnya, ditemukan informasi baru yaitu sebuah dakwaan pengadilan bahwa ia pernah dipenjara selama satu setengah tahun karena kasus penggelapan di perusahaan sebelumnya. Dengan catatan kriminal tersebut seharusnya terdapat gap yang mencolok dalam riwayat kerjanya. Sebuah fakta yang tidak akan ditemukan di atas kertas apabila tidak dilakukan verifikasi.

Proses verifikasi juga tak selalu sederhana karena bisa berkembang menjadi investigasi. Hal ini dapat terjadi apabila ditemukan adanya perbedaan (discrepancy) antara informasi yang diklaim kandidat pada resume dan fakta yang dikonfirmasi oleh sumber kredibel, atau jika ada informasi baru yang tidak ditemukan pada resume. 

Jika verifikasi dilakukan untuk mengecek kebenaran atas data yang tersedia, maka investigasi dilakukan untuk menetapkan bukti-bukti atas discrepancy dengan memeriksa secara lebih mendalam data-data baru yang ditemukan. Pada contoh kasus tersebut, investigasi perlu dilakukan untuk menetapkan bukti dan menarik kesimpulan apakah kandidat adalah individu yang sama seperti yang dimaksud oleh dakwaan pengadilan tersebut.

Metode Investigasi dari balik meja sebagai penunjang verifikasi

Ada kalanya investigasi dapat berlangsung lebih lama dan mendalam, seperti pada contoh kasus berikut. 

Sekilas, paklaring seorang kandidat terlihat tidak ada masalah. Namun, ketika dilakukan verifikasi kepada pihak HR perusahaan yang namanya tercantum pada paklaring, mereka tidak menemukan data kandidat dalam daftar mantan karyawannya. 

Meski verifikasi dilakukan hingga beberapa kali, pihak perusahaan tetap tidak menemukan nama kandidat. Anehnya, ketika dilakukan verifikasi terhadap kontak referee – mantan rekan kerja, ia mengonfirmasi bahwa kandidat pernah bekerja sama dengannya. 

Tidak ditemukannya nama kandidat dalam database perusahaan menjadi sebuah tanda tanya besar dan titik awal investigasi. Tidak sedikit kasus di mana temuan seperti ini mengarah pada indikasi pemalsuan dokumen. 

Penelusuran lebih mendalam pun dilakukan dengan metode desktop investigation. Metode investigasi ini pada dasarnya merupakan pengumpulan informasi terkait subjek investigasi menggunakan akses digital. Pada contoh kasus ini, desktop investigation dilakukan untuk memeriksa keaslian paklaring dan referee.

Paklaring secara umum memiliki beberapa komponen yaitu, kop surat, nomor surat, nama karyawan, periode kerja, jabatan, tanggal mulai bekerja dan berhenti kerja, cap perusahaan, dan tanda tangan pihak yang berwenang. Salah satu cara untuk mengidentifikasi sebuah dokumen palsu adalah dengan membandingkan komponennya dengan komponen pada templat dokumen versi asli. 

Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada dokumen, ditemukan beberapa perbedaan signifikan. Pada paklaring kandidat, logo perusahaan terlihat seperti dicetak oleh mesin, sedangkan pada template dokumen versi perusahaan terlihat seperti cap basah. Perbedaan signifikan lainnya yaitu pada tipe huruf, tanda tangan subjek, simbol asterik pada logo, dan jabatan pihak yang berwenang. Berdasarkan hasil investigasi tersebut, kemungkinan besar paklaring tersebut dipalsukan. 

Setelah temuan tersebut, muncul dugaan bahwa referee juga dipalsukan. Dengan menggunakan metode yang sama, investigasi dilanjutkan untuk memastikan bahwa  referee adalah karyawan perusahaan tersebut dan orang yang sama yang dirujuk oleh kandidat. Investigasi dimulai dengan pengumpulan data tentang referee dari perusahaan, lalu dilakukan media search, dan menggunakan aplikasi tertentu untuk mengecek kepemilikan kontak. Hasilnya, referee yang disebut oleh kandidat bukan karyawan perusahaan tersebut.

Dari kasus-kasus yang telah disebutkan, dapat kita simpulkan bahwa pre-employment screening mungkin terlihat sederhana, namun dalam praktiknya bisa berkembang menjadi investigasi yang tentunya membutuhkan keterampilan, kegigihan, dan waktu yang tidak sedikit untuk mendapatkan hasil yang akurat.


Putri

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Share this post


ANGGOTA DARI

KANTOR PUSAT

ALAMAT

Jl. RS. Fatmawati Raya No. 57-B, Cilandak Barat, Jakarta 12430, Indonesia

TELEPON

EMAIL

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dapatkan pembaruan dan penawaran terbaru

    REFERAL KAMI

    Copyright – INTEGRITY – All Rights Reserved © 2023 – Privacy Policy | Terms of Services