Pandemi Pengaruhi Strategi Anti-Fraud Organisasi Tahun 2021

 In Artikel

anti-fraudSemenjak pandemi dimulai banyak kasus-kasus fraud menimpa perusahaan. Larangan bepergian dan bekerja dari rumah adalah kenyataan baru tak terhindarkan yang dihadapi oleh perusahaan di seluruh dunia. Tekanan untuk mencapai target penjualan serta relaksasi kontrol internal telah membuka peluang untuk peningkatan penipuan di tengah pandemi.

Setidaknya berdasarkan survei ACFE yang dilakukan pada April hingga pertengahan Mei 2020 para responden mengakui telah terjadi peningkatan fraud pada kategori fraud tertentu. Adapun, survei terbaru yang dirilis pada Desember 2020, sebanyak 79% responden merasakan ada peningkatan fraud pada November 2020 dibandingkan pada bulan Agustus dan Mei. Mereka memperkirakan tren fraud masih akan meningkat sepanjang tahun 2021 seiring situasi yang masih tidak menentu.

Pengaruh covid-19 terhadap program anti-fraud

Seiring dengan tren fraud yang diprediksi terus meningkat dalam jangka waktu 12 bulan ke depan, organisasi berupaya tetap waspada dan mengantisipasi tren tersebut dengan konsisten menerapkan mitigasi anti-fraud. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 41% organisasi yang disurvei berencana meningkatkan anggaran anti-fraud secara keseluruhan, sementara hanya 13% yang berencana mengurangi anggaran.

Diberlakukannya pembatasan sosial skala besar tentu membuat cara-cara lama pencegahan fraud tak lagi efektif. Dengan peningkatan alokasi biaya program anti-fraud, organisasi didorong untuk melakukan cara-cara baru di luar kebiasaan di antaranya yaitu:

1. Investasi pada teknologi

Hampir separuh organisasi (48%) yang disurvei mengantisipasi peningkatan investasi untuk teknologi anti-fraud. Sangat penting bagi para pengambil keputusan – terutama mereka yang bergerak di bidang yang rentan menjadi target fraud seperti kesehatan, pemerintahan, dan banking – untuk menyesuaikan upaya-upaya mitigasi fraud dengan realitas baru yaitu dengan menggunakan teknologi anti-fraud.

2.  Bekerja sama dengan konsultan

Sebanyak 38% responden dalam survei tersebut berencana meningkatkan kerja sama dengan konsultan atau sumber daya eksternal lainnya.

3. Memberdayakan sumber daya manusia

Keberadaan teknologi tak serta merta menghilangkan peran sumber daya manusia. Karyawan tetap menjadi garda terdepan dalam mitigasi fraud. Ada pun peran teknologi adalah untuk memperkuat karyawan. Oleh karena itu organisasi perlu lebih melibatkan karyawan dalam upaya mitigasi fraud dengan memberikan edukasi dan pelatihan yang memadai dan relevan dengan teknologi yang diterapkan. Melihat pentingnya peran sumber daya dalam mitigasi fraud, sebanyak 24% dari organisasi yang disurvei berencana meningkatkan alokasi dana pelatihan anti-fraud dan pengembangan profesional.

Layanan anti-fraud

Integrity Asia, dengan pengalaman hampir dua dekade memberikan berbagai solusi anti-fraud berbasis teknologi digital yang komprehensif antara lain yaitu melalui:

Integrity Asia juga menyediakan sistem komprehensif untuk mengatur dan menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) sesuai dengan kerangka kerja ISO 37001. Selain pelatihan dan konsultasi, kami menyediakan sistem yang siap untuk diimplementasikan oleh klien.

Selain itu, Integrity Asia juga telah dipercaya klien sebagai penyedia jasa audit dan investigasi fraud. Investigasi kami melibatkan pengumpulan bukti yang relevan antara lain dengan melakukan wawancara dan audit, pencarian saksi, pendekatan rahasia kepada karyawan atau pihak eksternal, pencarian desktop, pemeriksaan latar belakang, pengawasan, dll. Anda juga akan menerima laporan investigasi komprehensif setelah selesai, yang mana dapat digunakan untuk tujuan mitigasi dan remediasi.

 

 

Baca Juga:

Gaya Hidup Karyawan Anda Bisa Jadi Tanda-Tanda Fraud

Pandemi Covid-19 dan Peredaran Produk Kesehatan Palsu

Jaga Perusahaan Anda Tetap Aman Dari Suap di Tengah Pergolakan Ekonomi

 

 

 

Putri

Business photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search