Dosen Menyandang Gelar Palsu Selama 13 Tahun

 In Artikel

St Xavier’s Technical Institute, kampus teknik ternama di kota Mahim, India menuntut seorang dosen yang telah mengajar selama 13 tahun terakhir karena diduga menyerahkan lembar penilaian palsu. Hal ini bermula saat sang dosen, Manish Khobrage mengeluhkan perihal promosi jabatan kepada kepala kampus, Dr Shivaji B Ghungrad, seperti dikutip dari Mumbai Mirror.

Khobrage merasa dirinya siap untuk kenaikan pangkat yang tak kunjung didapatkannya sejak bergabung menjadi dosen dengan institusi sejak 8 Maret 2016. Lalu Ghungrad meminta Khobrage untuk mengirimkan dokumen-dokumen asli terkait kualifikasi pendidikan untuk keperluan kenaikan jabatan. Namun, Khobrage menolak permintaan tersebut dengan menyebutkan alasan-alasan yang membuat pihak kampus curiga. Setelah beberapa hari, Khobrage akhirnya mengirimkan dokumen yang diperlukan. Dokumen tersebut dikirimkan kepada universitas yang bersangkutan, Swami Ramanand Teerth Marathwada University (SRTMU) untuk diverifikasi.

Setelah proses verifikasi Universitas menyatakan bahwa tidak ditemukan nama tersebut dan dokumen yang diberikan adalah palsu. Lembar penilaian asli tahun kedua, ketiga, dan tahun akhir yang diserahkan oleh Khobrage kepada kampus telah diganti. Ditemukan ketidak sesuaian dalam sertifikat, istilah ‘TE’ (tahun ketiga teknik) diubah menjadi ‘BE’ (sarjana teknik).

Ghungrad menyesalkan tindakan penipuan Khobrage terhadap institusi. Menurutnya Khobrage tidak hanya menipu institusi tetapi juga mempermainkan masa depan para siswa. Saat ini, institusi juga telah menerima sekitar 200 keluhan dari siswa yang mengutarakan ketidakpuasan atas pengajaran yang dilakukan oleh Khobrage.

Kasus Khobrage membuktikan bahwa pengecekan latar belakang pendidikan sebelum menerima menjadi karyawan adalah hal yang sangat krusial. Bukan hanya menghancurkan reputasi kampus, namun tindakan penipuan Khobrage membuat materi kuliah yang diterima siswa tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya mengingat gelar Khobrage yang palsu.

Untuk mencegah situasi yang sama, korporasi atau institusi perlu menerapkan pengecekan latar belakang pendidikan kepada setiap calon karyawan untuk menghindari kecurangan. Namun, institusi juga harus mengingat bahwa verifikasi latar belakang pendidikan harus dilakukan lewat satu pintu. Sebab, konfirmasi yang dilakukan lewat beberapa metode sulit diawasi oleh pihak yang berwenang. Validasi data mungkin saja keliru.

Melalui verifikasi satu pintu seperti platform Education Verification, yaitu sistem pengecekan ijazah berbasis web maka kesalahan data dapat diminimalisir. Selain itu, reputasi institusi pendidikan dapat terjaga karena pengecekan data dilakukan oleh orang yang berwenang. Hubungi kami untuk informasi lebih detail mengenai Education Verification.

 

 

 

Ditulis oleh: Anen

Image by Matthew Everard from Pixabay

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search