Loan Frauds: Pemilik UKM Membeli Ferrari dengan Uang Bantuan

 In Artikel

Pada Mei lalu, Departemen Keuangan Inggris meluncurkan skema bantuan finansial Bounce Back, yaitu memberikan pinjaman hingga £50.000 kepada UKM yang terkena dampak pandemi COVID-19. Terhitung hingga Juli ini, lebih dari satu juta pinjaman telah disetujui senilai hampir £31 miliar, dilansir darithisismoney.co.uk.

Bank-bank yang ditunjuk sebagai penyalur bantuan ditugaskan untuk melakukan cek minimal kepada calon peminjam untuk mempercepat proses. Pemerintah Inggris juga sudah berjanji untuk menutup kerugian bank-bank tersebut dengan jaminan 100% apabila para peminjam mengalami gagal bayar.

Namun, bantuan finansial ini malah disalahgunakan oleh UKM. Banyak dari pimpinan UKM yang mengambil uang tersebut dari perusahaan untuk diri mereka sendiri, dan memasukkannya ke dalam aset tetap sehingga sulit untuk dipulihkan, seperti contoh kasus pimpinan UKM yang menggunakan pinjaman untuk membeli Ferrari. Bukan hanya itu saja, ada juga pimpinan UKM yang menggunakan pinjaman untuk melakukan investasi dalam obligasi premium, meletakkan deposito pada properti, hingga berjudi. 

Para pimpinan UKM melakukan hal-hal tersebut karena adanya jaminan 100% pemerintah untuk ganti rugi, sehingga mereka bebas untuk menggunakan pinjaman seperti yang mereka inginkan tanpa dibayang-bayangi kerugian. Padahal, pemerintah masih memiliki kuasa untuk meminta pertanggungjawaban pimpinan UKM jika kedapatan bertransaksi dengan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya dialokasikan untuk kesejahteraan UKM.

Jika sistem ini dibiarkan lebih lanjut, tentu saja pemerintah Inggris akan menghadapi krisis ekonomi seperti yang terjadi pada belasan tahun lalu. Banyak sekali kasus peminjaman maupun bantuan finansial yang berakhir dengan kerugian karena peminjam tidak mampu membayarkan dana yang dipinjam. 

Pelajaran penting yang dapat dipetik oleh lembaga-lembaga keuangan agar tidak mengalami kerugian seperti kasus di atas adalah melakukan due diligence secara menyeluruh sebelum menandatangani kesepakatan. Hal ini penting untuk dilakukan, agar lembaga keuangan bisa mengetahui profil dan rekam jejak peminjam sehingga potensi penyalahgunaan dana bisa diminimalisir.

Integrity Indonesia sebagai mitra kerja terpercaya dan berpengalaman menyediakan layanan due diligence untuk memeriksa latar belakang bisnis atau orang berupa reputasi dan rekam jejak sebelum menandatangani kontrak, menunjuk vendor atau saat klien mengevaluasi perusahaan target atau asetnya untuk akuisisi. 

Due diligence berkontribusi pada pengambilan keputusan yang tepat dengan meningkatkan jumlah dan kualitas informasi yang tersedia. Konsultan kami memberikan metodologi yang berbeda untuk verifikasi dan pencarian fakta yang disesuaikan dengan kebutuhan klien secara mendalam. Hubungi kami untuk mengetahui layanan due diligence lebih lanjut.

 

 

 

Background photo created by osaba – www.freepik.com

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search